Memahami "Soccer-sociology"
Kalau ada orang yang tak sabar menanti datangnya tahun 2006, bisa jadi itu lantaran satu isu saja: Piala Dunia! Pasalnya,
meski masih 167 hari lagi digelar, namun aroma Jerman 2006 seusai undian di Leipzig, 9 Desember 2005, telah
menyebar ke seluruh pelosok dunia. Efek langsungnya terhadap masyarakat macam-macam. Investasi kecil-kecilan
misalnya. Ada yang sudah membeli pesawat televisi atau antena parabola. Ada pula yang makin giat menggemukan
tabungannya agar bisa menonton langsung ke Jerman sekeluarga. Maklum, waktunya memang pas karena berbarengan
dengan liburan sekolah.
Dari sisi bisnis eceran, pernak-pernik Piala Dunia 2006 mulai banyak dijual di pasaran, entah asli ataupun imitasi.
Semangat mengelus jago masing-masing menjadi fenomena lumrah di sela-sela waktu bekerja atau belajar. Bisnis kafe
atau barang-barang konsumen juga menanti cerah sebab dipastikan akan kecipratan rezeki Piala Dunia.
Adanya Piala Dunia memang harus diantisipasi. Rencana untuk menggelar acara dan hajatan ini-itu pada Juni-Juli tahun
depan bisa mendatangkan risiko besar. Akan tetapi, hal yang paling positif, mungkin, bakal kondusifnya tingkat keamanan,
menurunnya angka kejahatan. Boleh jadi, waktu si teroris atau maling akan banyak tersita untuk menonton bola. Dalam
taraf lebih besar, Piala Dunia 2006 merupakan sebuah isu besar yang harus disikapi semua penyelenggara
pemerintahan termasuk para kepala negara, entah dia raja atau presiden. Sedikit mungkin, janganlah bikin tindakan
antipopuler yang akan mengganggu pesta terbesar penduduk dunia ini.
Dari sinilah kedudukan sepak bola sebagai cabang ilmu sosiologi baru kian kuat. Sosiologi sepak bola (soccer-sociology)
telah menjadi menu utama penelitian para sosiolog, antropolog, sejarawan, dan wartawan. Meski bisa diperdebatkan,
setidaknya hipotesis untuk memahami dunia salah satunya dimulai dengan mempelajari olahraga paling populer bisa
diterima. Sepak bola lebih dari sekadar permainan, peraturan atau strategi, tetapi juga bicara fans, kultur, serta bagaimana
itu semua bisa menerangkan kebutuhan rohani mereka. Bicara Piala Dunia berarti mengulas kegembiraan nasional,
karakter bangsa, hubungan internasional bahkan perang.
Sepak bola adalah sebuah seni yang sulit. Ia dimainkan oleh satu kaki, namun tubuh harus selalu seimbang, berlari
setiap waktu yang kadang kala lawan tiba-tiba menyikut Anda. Pada saat bersamaan, rekan-rekan Anda juga terus berlari,
menuntut konsentrasi dan operan Anda sampai batas ketahanan tubuh habis. Tidak mengherankan jika personalitas di
olahraga, terutama pesepak bola, lebih gampang populer ketimbang apa yang dilakukan politisi. Ia lebih penting di mata
masyarakat. Faktor sportivitas, kalau tidak bisa dibilang sebagai ketulusan, merupakan hal yang tak bisa dikesampingkan
begitu saja.
Namun, hanya itukah penilaian terhadap sepak bola? Sama sekali tidak. Sepak bola lebih dari sekadar permainan atau
perlombaan fisik. Pada tahun 2004, seorang sosiolog dari Universitas Harvard di Amerika Serikat berkesimpulan, untuk
mengerti dunia maka pahamilah sepak bola. Soccer explains the world. Sifatnya yang universal menjelaskan segala yang
telah, yang tengah, dan yang kelak terjadi. Dendam bangsa Belanda pada bangsa Jerman, politik di Timur Tengah,
sampai arus gencar globalisasi yang bisa mengacak-acak kebudayaan di dunia.
Hal senada diulas oleh Franklin Foer pada karya monumentalnya yang berbau provokatif, ”How Soccer Explains the World:
an Unlikely Theory of Globalization.” Kata editor koran The New Republic ini, hanya lewat sepak bolalah satu-satunya cara
untuk mengubah Iran menjadi sekuler. Ia juga merinci rahasia besar peta politik Timur Tengah dengan pernyataan ”the
football revolution holds the key to the future of the Middle East.”
Strategi Jerman
Sebelumnya, sastrawan Australia, Nick Hornby, sudah mengingatkan betapa bisa kejinya sepak bola untuk kehidupan.
Dalam Fever Pitch, bukunya yang pada tahun 1992 menjadi mahakarya dan paling terlaris, ia mengemukakan telah terjadi
metafora berlebihan pada nilai-nilai sepak bola begitu berbagai tujuan tak tercapai. ”Karena secara umum, tren sepak
bola selalu dikiaskan dengan hal yang indah-indah, lompatan ambisi, gambaran apa itu sepak bola, sistem global atau
setidaknya obsesi budaya dan cacat sejarah negara tertentu,” katanya.
Setiap World Cup berlangsung, dunia akan berdenyut dengan cepat. Peta persahabatan dan permusuhan tiba-tiba
menjadi terurai atau transparan. Apalagi pada 9 Juni-9 Juli 2006 nanti di kejuaraan akbar ini hadir negara-negara
kontroversial di percaturan politik dunia seperti AS, Inggris, dan Iran. Perseteruan mereka selama ini di kancah politik,
kelak, dengan mudah berpindah ke atas lapangan hijau.
Sebaliknya, dari lapangan hijau pula setiap perjumpaan Jerman lawan Belanda, misalnya, akan diterjemahkan ke pentas
politik atau perang. Orang-orang Belanda selalu bilang ”kembalikan sepeda saya!” kepada orang-orang Jerman. Hal ini
untuk mengobarkan semangat balas dendam atas tindakan brutal Nazi saat menjarahi sepeda-sepeda milik rakyat
Belanda semasa Perang Dunia II. Dua tahun silam fenomena itu pun masih ada.
Kenanglah kejadian di Piala Eropa 2004, tepatnya di Estadio Do Dragao. Beberapa saat sebelum Der Panzer berlaga
lawan De Oranje pada kualifikasi Grup D, beberapa fans Belanda malah membunyikan bel sepeda kala Deutschlandlied,
lagu kebangsaan Jerman, tengah mengalun. Akan tetapi, dampaknya malah merugikan Tim Oranye. Jerman, yang kala itu
kekuatannya rada timpang, justru memberikan perlawanan tangguh akibat diusik nasionalismenya. Dan, Belanda hampir
saja kalah sebelum Ruud van Nistelrooy menyamakan skor 1-1 hanya sembilan menit menjelang bubaran.
Bentrok Belanda-Jerman selalu jadi episode paling heboh. Karakteristik voetbal Belanda adalah menyerang secara
frontal, masif. Adapun filosofi fussball Jerman lebih mengedepankan efisiensi dan disiplin. Semua ini kemudian diaduk
lewat kultur. Bukan mustahil, cerita Jerman vs Belanda jilid kesekian akan terjadi lagi di Piala Dunia 2006. Intensitasnya
bisa saja melebihi apa yang terjadi pada final tahun 1974 di tempat yang sama. Namun, menariknya, kali ini Jerman
sudah meredam lewat slogan kejuaraan itu sendiri. Die Welt zu Gast bei Freunden, waktunya untuk berteman.
Apakah ini strategi baru untuk mencapai target? Buat apa sukses menggelar acara jika juara milik orang lain? Tampaknya,
tuan rumah lebih mementingkan isu ke dalam. Intinya apa yang tengah terjadi di Jerman sekarang, itulah yang menjadi
maksud slogan tadi. Ya, Jerman baru 17 tahun bersatu sejak keruntuhan Tembok Berlin pada tahun 1989.
Tak salah memang apabila budayawan kesohor Perancis, Albert Camus, pernah bilang, ”Apa pun yang saya ketahui soal
moralitas, saya berutang pada sepak bola.”
Arief Natakusumah Wartawan Bolavaganza
Sumber: Kompas Cyber Media
Dunia Esai
Kumpulan esai, makalah, dan artikel dalam Bahasa Indonesia
|