

Orde Air Mata
Agak sulit membedakan acara-acara televisi. Pada sinetron misalnya, selain beberapa pemain bisa muncul pada serial
berbeda-beda dengan karakter sama sampai ke rambut yang dilicinkan dengan gel, sosok remaja di televisi rasanya
serupa belaka. Mungkin ini bagian dari keberhasilan penyeragaman oleh dunia konsumsi: tak ada tempat bagi
nonkonformis, seperti diucapkan pendiri McDonald’s, Ray Kroc.
Kalau mau lebih rinci sampai pada presentasi acara, kembali yang namanya sinetron misalnya, struktur pengadegannya
semua sama. Ada sebuah setting, ruang tamu, ruang makan, lobi, atau apalah, satu dua orang muncul, bercakap-cakap,
ada penanda konflik, adegan berakhir, ibaratnya layar tutup, lalu ganti adegan lain dengan setting berbeda. Tak ada
moving atau gerak. Strukturnya, seratus persen serupa tontonan tradisional entah lenong, ketoprak, matres, dan lain-lain.
Kalau menurut kritikus film JB Kristanto, bahkan kesamaan itu sampai cara bernalar, di mana tak ada perkembangan
watak, yang ada adalah tipologi, karakter yang sudah baku: baik dan buruk.
Dengan kata lain, pada dirinya tontonan-tontonan itu telah menyimpan unsur paling penting, untuk apa yang disebut
melodrama—sejenis tontonan untuk orang susah (konon melodrama lahir dari masyarakat industri, bagi kalanganburuh
yang butuh pelarian sesaat dari tekanan hidup). Dalam melodrama, terkandung utopia bahwa kesulitan hidup akan
berakhir dalam sesaat oleh suatu keajaiban.
Pada konteks itu, melodrama di televisi tidak hanya memanifestasi pada sinetron, tetapi ia bisa bersembunyi pada
berbagai reality show atau siaran apa pun, yang sifatnya banjir air mata. Itu yang disebut ilusi. Seseorang yang tampil
menyanyi-nyanyi di televisi merasa dirinya dan dianggap lingkungannya telah sukses. Kemudian didatangkan keluarganya
dari kampung, dan menangis-nangislah semua. Hu-hu-hu….
Ketika dunia hiburan masih terbatas, hanya ada musik panggung dan siaran radio, Presiden Soekarno pernah mengecam
semangat yang lembek dalam hiburan seperti itu sebagai merongrong semangat ”progresif revolusioner”. Anda boleh
sangat suka atau tidak suka pada tapak sejarah itu, tetapi Soekarno adalah pemimpin yang memiliki agenda programatik
untuk apa yang disebut sebagai nation building. Semangat itu masih terdengar getarannya meski lemah dan kehilangan
konteks pada orde selanjutnya, lewat mulut Harmoko. Menjadi Menteri Penerangan di zaman Orde Baru, Harmoko pernah
mengecam penampilan para penyanyi yang mewek-mewek di satu-satunya stasiun televisi waktu itu, TVRI, sebagai
cengeng.
Untuk pemecahan masalah kemiskinan, dalam khazanah ilmu-ilmu sosial-ekonomi selalu ada ketegangan menyangkut
pendekatan, pendekatan karitatif (maksudnya dengan santunan-santunan), atau lewat pendekatan struktural, berupa
perombakan struktur sehingga tercipta tatanan yang lebih adil. Dunia televisi, seperti ditampilkan dari anak-anak sampai
orang dewasa, dari pejabat tinggi negara sampai bencong, punya pendekatan sendiri: self pity, menangis-nangis. Setelah
orde progresif revolusioner yang menggemuruh, dilanjutkan orde pembangunan ala Rostow yang memberi landasan buat
take off dunia konsumsi, kini kita sampai ke penghujung kebudayaan metroseksual yang lembek seperti kue lapis: orde
air mata. (BRE)
sumber: http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/04/13/01385120

Dunia Esai
Kumpulan esai, makalah, dan artikel dalam Bahasa Indonesia
|