Belajar dari Tahu - Tempe

Menyikapi berbagai permasalahan dan musibah yang melanda negeri Indonesia tercinta akhir-akhir ini, betapa semakin
terisinya hati ini, pedih, perih dan menangis meratapi penderitaan bangsa. Tapi langkah dan semangat kita tetap harus
semangat. Mari kita sikapi segala permasalahan dan musibah dengan sikap positif.

Sedikit bernostalgia dulu, tahun 90-an, ketika penulis masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), jika disuruh Guru
Pendidikan Seni menggambar, maka penulis dan bahkan hampir semua teman-teman di kelas waktu itu adalah
menggambar pemandangan gunung lengkap dengan gambar sawah, pepohonan dan hamparan suasana pedesaan
lainnya. Hingga detik ini pun penulis yakin bahwa adik-adik SD bahkan TK sekalipun jika disuruh gurunya menggambar,
pasti gunung dan pemandangan sawah adalah pilihannya.

Tapi, kini, apakah “gambar” yang dibuat itu masih sesuai dengan kenyataan saat ini? Indonesia yang terkenal dengan
“agraris”nya kini menjadi “ribut” hanya karena “tahu-tempe”. Sepintas tahu tempe memang sepele, tetapi ternyata “ia”
mampu mengguncang Indonesia. Meskipun tahu tempe bukanlah makanan pokok rakyat, tapi kenyataan inilah satu-satu
alternatif lauk makan yang murah meriah, namun kaya akan gizi dan protein.

Tidak ada alasan lain, kecuali kita berpendapat bahwa tahu-tempe adalah lambang (image) kesederhanaan rakyat
Indonesia. Tahu-tempe bukan lagi makanan orang Jawa, tapi bangsa Indonesia keseluruhan. Kini apa yang kita perbuat?
Indonesia yang agraris, yang seharusnya kaya akan hasil alam, dalam hal ini kedelai, ternyata masih saja meng-impor
dari Negara luar. Apa yang sedang terjadi di Negara ini?

Tapi kita tetap harus bersyukur, musibah ini adalah petunjuk: hidayah yang penuh hikmah. Kini saatnyalah para pengambil
kebijakan harus benar-benar berpihak pada rakyat. Rakyat tidak butuh program-program pemerintah yang muluk-muluk,
cukup urusan perut saja. “Perut kenyang, sejahteralah mereka”. Sepertinya inilah yang harus dijadikan “indikator
kesejahteraan” yang harus diterima. Betapa tahu-tempe telah memberi “signal” ( baca : sinyal ) pada kita. Ini bukan hanya
masalah kacang kedelai yang harganya naik 100%. Tapi runtutan dibalik itu adalah kompleks. Ada muatan politik
didalamnya, karena ini berkaitan dengan kebijakan birokrat (policy), bagaimana membuat kebijakan-kebijakan yang lebih
memihak kepada kaum mayoritas.

Perubahan Sosial

Apakah ini tantangan bagi tahu tempe? Untuk tetap “survive” di era global ini. Apakah ini termasuk “perubahan sosial (
social change)” untuk berubah dan menyesuaikan diri dengan arus perubahan sosial diluar dirinya ( yang merupakan
lambang kesederhanaan rakyat Indonesia ).

Istilah “perubahan sosial” sendiri adalah konsep yang digunakan untuk menjelaskan mengapa masyarakat menyuguhkan
tampilan yang berbeda-beda sepanjang waktu yang dialami oleh suatu identitas menetap ( persiting identity ). Identitas
menetap ini dapat berupa manusia, sebuah Negara, suatu sistem kekerabatan, peran sosial, norma, nilai dan atau
bahkan termasuk tahu-tempe yang sudah menjadi salah satu produk budaya. Jadi, perubahan sosial menyangkut
perbedaan-perbedaan yang muncul silih berganti dan dialami oleh sistem-sistem sosial masyarakat manusia yang
mencakup pranata-pranata sosial, peran-peran, hubungan-hubungan antar manusia, yang terpola dan nilai-nilai.
Perubahan ini bisa bersifat tidak membawa dampak bagi perubahan sistem ( perubahan tipe / change of type ). Sekarang,
apakah tahu-tempe yang saat ini sedang menjadi “buah bibir” adalah bentuk atau proses perubahan sosial?

Sepertinya kita rakyat Indonesia harus siap menghadapi perubahan-perubahan sosial yang terjadi dan yang akan terjadi,
dengan tanpa “apatis”. Apakah kita belum siap menghadapi perubahan-perubahan sosial yang terjadi di era globalisasi
ini, disaat sebagian orang lebih memilih “pizza” ( dan makanan internasional lainnya ). Sementara kita tetap kekeuh
bertahan pada tahu-tempe karena memang sudah menjadi identitas makanan rakyat.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah dimana lahan-lahan persawahan? Apakah Indonesia sudah bukan Negara
agraris lagi? Dimana kawasan hutan-hutan kita? Apakah Indonesia bukan “zamrud khatulistiwa” lagi? Seharusnya kita
punya banyak hasil dari kekayaan alam. Termasuk kedelai, seharusnya tidak langka dan tidak mahal seperti yang terjadi
saat ini. Atau apakah ini merupakan titik awal transisi peradaban budaya di era global?

Sebenarnya para teoritis sosial generasi awal pada umumnya mengarahkan perhatian mereka pada perkembangan
masyarakat manusia sepanjang sejarah. Mereka memberikan penjelasan bagaimana masyarakat manusia berkembang
dan kadang kala membuat perkiraan ke masa depan. Herbert Spencer misalnya memandang perkembangan masyarakat
sebagai suatu proses evolusi yang ditandai oleh meningkatnya kompleksitas, berkembangnya keanekaragaman ( bentuk
yang baru ). Lain halnya Aguste Comte, ia melihat masyarakat sebagai suatu hasil proses evolusi dari tiga bentuk
perkembangan, seiring dengan pertumbuhan tiga corak pemikiran manusia, yaitu gerak maju (progress) dari pemikiran
teologis, kepemikiran metafisis dan kemudian kepemikiran positivistic.

Pada bentuk pemikiran tiologis, manusia mencari inti dari segala yang wujud dan menganggap seluruh fenomena
diciptakan melalui tindakan langsung wujud-wujud supernatural. Pada pemikiran metavisis, manusia mencari kekuatan
abstrak, suatu entitas yang sebenarnya yang mampu menciptakan seluruh fenomena sedang pada pemikiran terakhir,
manusia mampu mengungkap tabir mengenai asal usul alam raya, sebab musabab fenomena dan menerapakannya
guna memahami hukum-hukumnya. Ketiga tingkat pemikiran ini paralel dengan perkembangan organisasi sosial, tepe
keteraturan sosial, serta kondisi matreal kehidupan manusia.


Keputusan Realita

Menjadi tugas kita bersamalah, bagaimana agar petani-petani bisa bergairah kembali. Harus ada perhatian dan
assosiasi yang simultan bagi petani.

Birokrat harus lebih berpihak pada rakyat, dan tidak lagi terlalu berorientasi keuntungan ( profit oriented). Apalah artinya
Indonesia kaya, namun rakyatnya menderita, sampai-sampai membeli tahu-tempe saja sudah tidak mampu lagi.
Pemerintah harus selalu menjalin kerjasama dan koordinasi yang harmonis, tidak berjalan masing-masing. Kini
pemerintah mau tidak mau, saat ini dihadapkan pada realita “diantara dua pilihan”. Atau bahkan kita harus rela lagi “jika”
ada Negara lain mengakui bahwa tahu-tempe adalah produk asli (budaya) mereka, seperti kasus batik dan reog
ponorogo. Ini adalah realita nyata yang harus kita pilih dan harus kita hadapi bersama.

Tulisan ini hanyalah sederhana. Keterbatasan penulis dalam berbagai wawasan mungkin bisa bermakna bahwa, tulisan
ini hanyalah omong kosong. Tapi penulis berharap, setidaknya kita terus semangat berfikir mencari solusi. Ini bukan
sekedar masalah tahu-tempe saja, tetapi ini adalah tangisan rakyat, penderitaan ummat. Setelah Anda membaca tulisan
ini, mari kita ber-tafakur merenungkan nasib Indonesia. **

Oleh : Herry Purwanto, S.IP

Sumber: http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=150739
All rights reserved.
Dunia Esai
Kumpulan esai, makalah, dan artikel dalam Bahasa Indonesia