Risiko Teknologi dan Jiwa Kepeloporan
"Apa bahaya sebenarnya, kalau ada, dari bahan kimia beracun, efek rumah kaca, radiasi gelombang mikro, tenaga nuklir,
perjalanan udara, berkendara mobil, bahan karsinogenik segala jenis, dan ancaman lain terhadap kedamaian pikiran
kita?"
(Technological Risk, HW Lewis, 1992)
Ketika mobilitas orang makin meningkat, maka melakukan perjalanan-apakah menggunakan sarana transportasi darat,
laut, ataupun udara-tak bisa ditawar lagi. Namun juga diketahui bahwa perjalanan mengandung risiko karena
penggunaan teknologi (dalam hal ini teknologi transportasi) memang mengandung risiko.
Selain pada transportasi, risiko juga ada pada penggunaan teknologi lainnya, seperti pemanfaatan teknologi nuklir,
bahkan bahan bakar fosil yang sejauh ini lebih diterima dibandingkan dengan energi nuklir, dan juga penggunaan bahan
kimia, seperti yang dibahas HW Lewis dalam buku yang dikutip pada bagian awal tulisan ini.
Dalam kaitan peristiwa ledakan yang terjadi di Puspiptek Serpong, Senin (10/9) siang, juga pro-kontra pemanfaatan energi
nuklir yang marak beberapa waktu terakhir ini, ingin ditegaskan lagi bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)
memang ada risikonya, dan apa yang terjadi di Three Mile Island (1979), juga Chernobyl (1986), menjadi contoh yang
spektakuler.
Lalu, karena Indonesia juga negara yang terletak di Cincin Api, seperti halnya Jepang, ada juga kemungkinan bahwa PLTN
yang dibangun di Indonesia ikut terkena manakala terjadi gempa bumi sebagaimana dialami PLTN Jepang,
Kashiwazaki-Kariwa, 16 Juli 2007.
Namun, PLTN Jepang yang dimaksud, menurut laporan Tim Pakar Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), kuat
menahan guncangan gempa yang kekuatannya sebenarnya melebihi kekuatan gempa yang diperhitungkan dalam desain.
Instalasi dinyatakan aman selama dan setelah terjadinya gempa. Penghentian operasi (automatic shutdown) untuk
reaktor 3, 4, dan 7 yang sedang beroperasi dengan daya penuh, juga reaktor unit 2 yang sedang dalam proses
dihidupkan, terlaksana dengan baik (Mission Report, Vol 1, IAEA, 18/8/2007).
Otoritas di Jepang nyata sekali dalam hal ini telah mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Menyadari bahwa
negaranya berada di jalur gempa, setiap membangun fasilitas dan struktur, pertimbangan gempa tak pernah dilupakan.
Malah, perhitungan dibuat secara konservatif sehingga bisa jadi struktur dibuat dengan teknik dan kekuatan ekstra,
dengan harapan dapat menyerap kekuatan gempa yang mungkin terjadi.
Antisipasi serupa juga dilakukan di Meksiko. Gedung Torre Mayor berlantai 55 yang merupakan bangunan paling tinggi di
Mexico City dibangun dengan menggunakan penyerap guncangan diagonal yang mampu menahan gempa berkekuatan
8,4 skala Richter. Beberapa bulan setelah dibuka tahun 2003, gedung ini menahan getaran gempa berkekuatan 7,4 skala
Richter yang berpusat 300 mil dari gedung. Para penyewa mendengar bunyi berdenyit, tetapi hanya merasakan gerakan
sedikit. Gedung tersebut tidak mengalami kerusakan apa pun (National Geographic, April 2006).
Perbaikan terus-menerus
Pemanfaatan teknologi dari awalnya memang sudah membawa risiko. Di dalamnya terkandung sifat yang mengingatkan
orang pada prinsip dialektika, yang antara lain tersurat dari filsafat Hegel. Tak kurang Iskandar Alisjahbana pada dekade
1980-an juga telah sering menyinggung hal ini. Waktu itu yang dicontohkan antara lain pemanfaatan pestisida. Ketika
menghadapi ancaman wereng, petani menoleh pada pestisida. Namun, penggunaan pestisida secara terus-menerus
bisa membuat pestisida tersebut tidak efektif lagi karena wereng lalu mengembangkan kekebalan.
Hal serupa juga berlaku pada penggunaan antibiotik. Akibatnya, peneliti harus mencari lagi pestisida atau antibiotik yang
lebih ampuh lagi untuk melawan wereng dan kuman. Dengan demikian, pemanfaatan satu teknologi umumnya akan
menimbulkan persoalan baru, yang harus diatasi dengan penemuan teknologi baru yang lebih efektif.
Tampak bahwa meskipun tahu ada risiko dan batas, satu teknologi diterima karena ia memberi solusi. Yang penting,
pengguna teknologi memahami sifat ini, dan kemudian mempersiapkan diri untuk melakukan perbaikan ketika
dibutuhkan. Risiko yang ada direspons, diterima, dan dikurangi kemungkinannya.
Perusahaan-perusahaan di berbagai bidang, seperti perbankan, perminyakan, pengguna teknologi informasi dan
komunikasi, banyak yang mempromosikan diri bahwa pihaknya telah menerapkan manajemen prosedur pengurangan
dan pengelolaan risiko teknologi. Dunia perbankan yang semakin banyak mengandalkan online atau mobile banking,
misalnya, menyadari bahwa penerapan teknologi informasi dan mobile ada risikonya. Namun, mereka tidak surut dan
tetap memilih menerapkan teknologi itu sambil melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengelola risiko
dengan baik, bisa melalui pengurangan risiko dan/atau meningkatkan keamanan.
Sebagaimana disinggung di atas, di sini pun ada dialektika, tetapi siapa pun yang ingin maju harus berani menerima
risiko yang ada, menerimanya secara cerdas, dan mengerjakan pekerjaan rumah yang ada.
Pengertian menerima risiko secara cerdas juga menyiratkan tuntutan untuk menumbuhkan sikap dan nilai-nilai yang
mengiringi penerapan satu teknologi. Misalnya saja, pengoperasian PLTN atau pesawat terbang dan alat transportasi lain
membutuhkan sikap disiplin dan memerhatikan detail.
Jadi, dalam hal ini memang ada dua pandangan yang gamblang mewakili kubu yang ada. Pada kubu yang fatalistik dan
"menyerah dari awal", sikap yang dipilih cenderung "daripada mengambil risiko, lebih baik tidak usah pakai sama sekali".
Tentu pilihan ini memberi keamanan, tetapi pada sisi lain kalangan ini menerima risiko punya pilihan solusi lebih sedikit.
Pada kubu yang berani mengambil risiko dan menyikapi risiko dengan cerdas, tentu tetap terpapar dengan risiko, tetapi ia
memiliki pilihan lebih banyak dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
BJ Habibie tatkala menjadi Menneg Ristek sering menyampaikan, teknologi mutakhir memiliki risiko jika diterapkan, tetapi
penerapannya bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan dan nilai-nilai baru. Penerapan satu teknologi
yang menuntut disiplin tinggi akan memaksa bangsa yang belum punya disiplin tinggi untuk mengembangkan sikap
tersebut. Yang masih belum menghargai waktu dipaksa untuk menghargai waktu, demikian pula yang belum menghargai
detail dituntut untuk menghargai detail.
Kepeloporan
Bangsa-bangsa yang besar selalu menyambut tantangan teknologi dengan gagah berani dan cerdas. Pada masa lalu
ada Columbus dan Vasco da Gama yang berani menjelajahi laut untuk pelayaran jauh dengan kapal tanpa global
positioning system (GPS). Dengan keberanian itu, Amerika dan jalur ke India ditemukan. Columbus pelopor pada masa
lalu, seperti Yuri Gagarin pelopor pada era antariksa.
Bangsa Amerika juga tahu bahwa mengembangkan sistem transportasi angkasa ulang alik juga mengandung risiko
besar. Namun, Amerika siap membayarnya, termasuk ketika harus terjadi musibah meledaknya pesawat ulang alik
Challenger pada Januari 1986 dan Columbia pada Februari 2003.
Meski demikian, Amerika tidak surut. Pascamusibah, mereka melakukan penyelidikan, membuat perbaikan, sehingga
dicapai tingkat keselamatan lebih tinggi. Melalui proses ini, bangsa Amerika berada di posisi terdepan dalam eksplorasi
ruang angkasa.
Sekali lagi tetap ada risiko karena kompleksitas teknologi yang diterapkan begitu besar. Jangankan wahana ulang alik,
pesawat tempur biasa saja disebut punya sekitar 100.000 komponen, yang ketika dioperasikan menimbulkan interaksi
rumit, sehingga tidak semua seginya telah diketahui pembuatnya.
Jadi, olah semacam itu mengandung risiko. Namun, ketika satu bangsa berani menyambutnya secara rasional dan
cerdas, ia akan dibawa kepada pemahaman lebih tinggi. Insan yang berkarakter seperti ini sesungguhnya yang
dibutuhkan oleh Indonesia. Insan-insan seperti itu memiliki karakter hakiki manusia yang-berbeda dengan makhluk
lain-diberi sifat adikodrati penuh rasa ingin tahu dan ingin menjawabnya, meskipun tahu upaya tersebut disertai risiko
yang mungkin membahayakan jiwanya.
Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/12/utama/3832787.htm
Dunia Esai
Kumpulan esai, makalah, dan artikel dalam Bahasa Indonesia
|