Melihat Kisah Bunuh Diri dengan Empati
Deretan anak sekolah yang mengakhiri hidup atau mencoba mengakhiri hidup dengan bunuh diri kian bertambah.
Agustus 2004, Haryanto, siswa SDN IV Garut, Jawa Barat, harus mengalami brain damage akibat bunuh diri yang gagal
dilakukan. Sembodo, anak muda Kebumen, Jawa Tengah, menyentak gempita peringatan Hari Anak Nasional 2004
dengan mengakhiri hidupnya. Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2005 mendapat kado meninggalnya Eko Haryanto,
siswa SD Kepunduhan 01 Kramat, Tegal, Jawa Tengah, karena gantung diri. Terakhir, Jumat (15/7/2005) Fifi Kusrini (14),
siswi SMPN 10 Bekasi, mengakhiri hidupnya dengan gantung diri (Kompas, Minggu, 17/7/2005).
Meruaknya kasus-kasus bunuh diri anak sekolah mestinya memancing perhatian lebih intens, bukan sekadar simpati
terhadap rasa sakit keluarga korban. Memang, mungkin kita jauh lebih mudah melihat faktor pencetus, yaitu
ketidakberdayaan ekonomi, sebagai motif dasar keinginan anak-anak itu untuk bunuh diri. Namun, terlalu naif bila sayatan
di ”kening” pendidikan nasional ini disandarkan melulu pada ketidakmampuan orangtua memenuhi aneka kewajiban
material pada pelaksanaan proses belajar-mengajar di sekolah.
Ketidakcerdasan emosi
Meski anak-anak muda yang bunuh diri itu memiliki alasan, sebenarnya mereka lebih didorong perasaan tidak mampu
menanggung beban sosio-emosional yang kadang tidak sepenuhnya mereka mengerti.
Meski pemicunya ketidakmampuan finansial orangtua, bagi anak, tekanan itu jauh lebih menyakitkan. Fifi, misalnya,
mungkin tidak sepenuhnya memahami mengapa ia dilahirkan sebagai anak tukang bubur yang membuatnya harus
menerima ejekan teman-teman atas status itu. Dia telah memutuskan untuk mengakhiri ”derita”-nya. Kasus- kasus
sebelumnya juga menunjukkan ada ketidakmampuan sosio-emosional dari anak-anak untuk mengelola tekanan yang
mereka terima.
Dengan orientasi kapitalis, lingkungan sosial cenderung membentuk anak-anak dengan menghadapkan pada aneka
pembelajaran instan, mengarah pada kekerasan dan pemaksaan sebagai cara yang dipandang efektif dalam
memecahkan masalah.
Karena itu, memilih melakukan apa saja untuk mencapai tujuan menjadi sedemikian lazim. Proses, sebagai bagian
paling penting dalam pembelajaran, ternafikan. Lalu terbentuk generasi instan yang mudah puas, mudah cemas, mudah
bertindak agresif, dan kurang menghargai toleransi, perdamaian, dan nilai-nilai hidup orang lain. Akibatnya, ketika
ketidakberhasilan dan ketidakcocokan muncul, serta ketidakberdayaan dirasakan, jalan pintaslah yang dipilih.
Sebenarnya, kian banyak anak yang mengalami aneka kesulitan yang mengarah pada ketidakcerdasan emosional dalam
menyikapi masalah. Sistem pendidikan dan pembelajaran di negeri ini secara tidak langsung ikut andil membentuk
ketidakcerdasan emosi pada anak-anak itu. Ada banyak kritik terhadap sistem pendidikan kita yang lebih mengedepankan
kemampuan dan kecerdasan intelektual, dan tidak meletakkan secara proporsional pengembangan aspek spiritual dan
sosio-emosional.
Fungsi sosio-emosional empati
Pengembangan empati menjadi amat relevan guna membangun aspek-aspek manusiawi individu itu. Empati membantu
anak mengetahui dan memahami emosi orang lain dan berbagi perasaan dengan orang lain.
Dengan empati, anak dituntut untuk mengubah pola pikir yang rigid menjadi fleksibel, pola pikir yang egois menjadi
toleran. Anak juga menjadi mengerti, tidak semua keinginannya terhadap orang lain dapat terpenuhi, dan memiliki inisiatif
membantu orang lain yang berada dalam kesulitan.
Kemampuan anak untuk membayangkan perasaan seseorang dan berpikir dalam keseluruhan sikap mental emosional
orang lain menjadi dasar pengembangan empati. Anak memerlukan kesadaran diri, keterbukaan pada emosi diri, dan
keterampilan membaca perasaan sehingga dapat melihat dirinya pada peran yang dimainkan orang lain. Dengan
kemampuan itu, anak memahami, mengenali, dan memberi nama (label) secara tepat terhadap emosi-emosi yang
dirasakan. Dengan demikian, tak ada kebingungan pada anak dalam mendefinisikan apa yang sedang bergolak dalam
perasaannya dan kesalahan penggunaan coping behaviour tak akan terjadi.
Perspective taking yang dilakukan anak akan memperlihatkan bagaimana dia memandang aneka kejadian sehari-hari
dari sudut pandang orang lain sehingga membuatnya mampu mengantisipasi perilaku dan reaksi orang lain. Emphatic
concern akan terbentuk dan mengasah kemampuan anak untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung
merasakan penderitaan orang lain.
Daniel Goleman, dalam buku Emotional Intelligence, mengemukakan, empati memungkinkan seseorang untuk
menghayati masalah atau kebutuhan yang tersirat di balik perasaan orang lain, yang tidak hanya diungkapkan melalui
kata-kata.
Melalui empati, anak tidak hanya keluar diri dalam usaha memahami orang lain, tetapi juga melakukan pemahaman
internal terhadap self.
Pertama, kesadaran bahwa tiap orang memiliki sudut pandang berbeda akan mendorong anak mampu menyesuaikan
diri sesuai dengan lingkungan sosialnya. Dengan menggunakan mobilitas pikirannya, anak dapat menempatkan diri pada
posisi perannya sendiri maupun peran orang lain sehingga akan membantu melakukan komunikasi efektif.
Kedua, mampu berempati mendorong anak melakukan tindak altruistis, yang tidak hanya mengurangi atau
menghilangkan penderitaan orang lain, tetapi juga ketidaknyamanan perasaan anak melihat penderitaan orang lain.
Merasakan apa yang dirasakan individu lain akan menghambat kecenderungan perilaku agresif terhadap individu itu.
Ketiga, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain membuat anak menyadari bahwa orang lain dapat membuat
penilaian berdasarkan perilakunya. Kemampuan ini membuat individu lebih melihat ke dalam diri dan lebih menyadari
serta memerhatikan pendapat orang lain mengenai dirinya. Proses itu akan membentuk kesadaran diri yang baik,
dimanifestasikan dalam sifat optimistis, fleksibel, dan emosi yang matang. Jadi, konsep diri yang kuat, melalui proses
perbandingan sosial yang terjadi dari pengamatan dan pembandingan diri dengan orang lain, akan berkembang dengan
baik.
Kemampuan mengambil perspektif orang lain merupakan kunci untuk menciptakan hubungan sosial yang hangat.
Hubungan sosial yang berkualitas inilah yang memungkinkan anak dapat mengekspresikan perasaannya secara terbuka
dengan mengembangkan emosinya dengan sehat. Identitas dan harga diri akan berkembang mantap, dan meminjam
istilah Sigmund Freud, anak akan cenderung menghambat thanatos (insting kematian) yang dimiliki dengan penghargaan
lebih tinggi terhadap eros (insting kehidupan).*
Oleh: Imam Setyawan Pengajar Program Studi Psikologi Universitas Diponegoro Semarang
Sumber: Kompas Cyber Media
Dunia Esai
Kumpulan esai, makalah, dan artikel dalam Bahasa Indonesia
|