Menyangkal Realita Baru
Saya mohon maaf harus absen mengisi kolom ini beberapa kali. Sejak buku Change beredar, Saya terpaksa harus
mempertanggungjawabkan pemikiran-pemikiran Saya kepada publik. Banyak kisah nyata tentang perubahan yang Saya
temui dan tentu saja ribuan curhat dari mereka yang rela dicaci-maki demi perubahan. Menjadi Change Maker memang
tidak mudah. Surat kaleng, SMS palsu, fitnah, sampai upaya-upaya fisik yang mematikan kerap harus dihadapi. Kepada
kelompok ini, Saya hanya bisa mengatakan, Gandhi saja yang wajahnya begitu baik dan perilakunya menyejukkan,
mereka bunuh, apalagi Anda yang bukan siapa-siapa.
Persoalan terbesar manusia di era yang berubah ini sebenarnya hanya satu, yaitu tidak berani menerima realita-realita
baru. Sebagian besar karyawan, eksekutif dan birokrat yang Saya temui masih terbelenggu pada kisah sukses di masa
lalu. Mereka berpikir solusi yang mereka temukan di masa lalu itulah solusi yang sesungguhnya. Buktinya ada, yaitu
bonus dan kesejahteraan. Makan siang disediakan dan karyawan bisa bergantian memainkan alat musik. Mengapa kita
tidak pakai cara yang sama untuk mengatasi masalah hari ini? Seperti menemui jalan buntu, banyak orang yang tiba-tiba
mulai menggunakan kata “Dulu ......” ketika memulai pembicaraannya untuk mengacu ke masa lalu.
Sinar terang yang menyinari suatu usaha bisa berarti manfaat, tapi juga bisa menjadi mudharat. IBM contohnya, sukses
dengan komputer mainframe di tahun 70’an membuatnya menyangkal realita baru pasar PC. Motorola bahkan lebih gawat
lagi. Setelah sukses dengan celluler analog, ia menyangkal kehadiran digital handphone dengan melakukan investasi-
investasi baru pada bidang analog. Xerox juga sempat terengap-engap saat menyangkal kenyataan munculnya pasar
personal-copier yang dirilis Minolta, Canon dan Ricoh. Ensiklopedia Britanica juga menyangkal realita baru membaca
buku pintar yang diputar oleh Microsoft (Encarta).
Di Indonesia sendiri ada ribuan pelaku usaha yang juga menyangkal realita-realita baru. Teman-teman di perkebunan teh
tengah menyangkal kenyataan bahwa masyarakat dunia sudah mulai minum teh tanpa daun teh sama sekali. Sekarang
ini, pergulatan terbesar justru tengah dihadapi universitas-universitas negeri. Ada demikian banyak realita-realita baru
yang bermunculan dan mereka terus berdebat dengan menggunakan ukuran-ukuran lama untuk menilai hari esok.
Mereka menggunakan pengalaman-pengalaman lamanya kala bersekolah yang penuh dengan kesulitan untuk
dibingkaikan pada generasi baru yang bergerak dengan cara yang berbeda. Padahal kepada mereka, Albert Einstein
pernah menyatakan, “the measure of intelligence is the ability to change” (ukuran kecerdasan Anda adalah kemampuan
Anda untuk berubah, menerima kenyataan baru).
Sulit dibayangkan dewasa ini masih ada banyak orang yang hidup di jaman kemarin dan dibiarkan terus mengepalai
kegiatan untuk membawa organisasi ke masa lalu, tetapi semua ini juga terjadi karena organisasi dibiarkan dikuasai oleh
kalangan “pedalaman” yang sepanjang hari menghabiskan waktunya di dalam kantor tanpa berinteraksi dengan dunia
luar sama sekali. Dalam setiap institusi kita dengan mudah membedakan, mana kalangan “pedalaman” dan mana yang
“pesisir”. Kalangan pesisir selalu berinteraksi dengan dunia luar, tetapi ia banyak membawa hal-hal baru. Ia lebih mudah
menerima fakta-fakta baru. Sebaliknya kalangan pedalaman cenderung memelihara tradisi. Seorang usahawan senior
membisiki Saya, sekarang ini, katanya, “tradition is a number one killer!”. Saya pikir ini ada betulnya.
Oleh: Rhenald Kasali
Sumber: Detikcom
Dunia Esai
Kumpulan esai, makalah, dan artikel dalam Bahasa Indonesia
|