Posisi Tawar Melalui dengan Pencegahan Deforestasi

Diharapkan ada mekanisme pembayaran dari negara lain sebagai kompensasi terhadap upaya Indonesia dalam
menjaga hutan.

Menurut data State of the World's Forests 2007 yang dikeluarkan the UN Food & Agriculture Organization's (FAO), angka
deforestasi di Indonesia pada 2000-2005 mencapai 1,8 juta hektare pertahun. Sedangkan Brasil dalam kurun waktu yang
sama 3,1 juta hektare per tahun dengan gelar kawasan deforestasi terbesar di dunia.

Namun, karena luas kawasan hutan total Indonesia jauh lebih kecil daripada Brasil, maka laju deforestasi Indonesia
menjadi jauh lebih besar. Laju deforestasi Indonesia adalah 2 persen per tahun, dibandingkan dengan Brasil yang hanya
0,6 persen. Pepohonan di dalam hutan selama ini sudah terbukti mampu menyerap karbondioksida sepanjang hidup.
Karbon dioksida merupakan satu dari enam gas rumah kaca (GRK) yang dianggap menjadi penyebab terjadinya
pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim.

Dengan menurunkan emisi karbondioksida Indonesia sesungguhnya berpeluang memperbaiki iklim dunia dari
perubahan yang drastis. Caranya, melalui pengurangan kebakaran hutan, pencegahan penebangan hutan atau konversi
lahan hutan menjadi tidak berhutan secara permanen (deforestasi), serta sistem sertifikasi kayu legal untuk ekspor.

Posisi tawar kepada dunia ini akan menjadi salah satu tujuan delegasi Indonesia dalam Penyelenggaraan Konferensi
PBB untuk Perubahan Iklim atau UN Climate Change Conference di Bali, Desember 2007 mendatang. `'Kami berharap
nantinya tercapai kesepakatan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan membantu negara berkembang dalam
pemberian insentif, termasuk untuk penghutanan kembali dan pencegahan deforestasi,'' ujar Ketua Pelaksana Harian
Panitia Nasional Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, Agus Purnomo, kepada pers, dalam Lokakarya Jurnalis
Lingkungan, Selasa (18/9).

Menurut Agus, 20 persen emisi global berasal dari deforestasi atau sekitar 7,5 miliar ton CO2. Indonesia, lanjut dia,
menyumbang sepertiganya, yaitu sekitar 2,5 miliar ton CO2 dari laju deforestasi 2 juta per tahun. `'Jika Indonesia
memperkecil laju deforestasi 1 juta hektare per tahun sama dengan mengurangi emisi sekitar 1,2 miliar ton CO2,''
jelasnya.

Jika dihitung, kata Agus, potensi pendapatan sebesar 6 miliar dolar AS per tahun atau sekitar enam ribu hektare dengan
asumsi harga 1 ton CO2 sama dengan 5 dolar AS. `'Kami akan mencari kesepakatan dengan negara-negara maju atas
upaya dalam negeri untuk menekan deforestasi. Intinya, ada mekanisme pembayaran dari negara lain sebagai
kompensasi terhadap upaya kita dalam menjaga hutan ,'' cetusnya.

Tak hanya intensif untuk mencegah deforestasi. Dalam konferensi nanti juga akan digulirkan program adaptasi, mitigasi,
alihteknologi, dan terwujudnya investasi di bidang pembangunan berkelanjutan melalui mekanisme pembangunan bersih
atau Clean Development Mechanism (CDM). `'Kami juga berharap tak ada lagi paten untuk teknologi bersih. Tapi, kalau
disepakati itu mukjizat, jika tidak, minimal ada kesepahaman pendanaan untuk alihteknologi,'' tegasnya.

Anomali cuaca
Akibat pemanasan global, hingga saat ini telah terjadi begitu banyak anomali cuaca di seluruh dunia. Misalnya, kenaikan
tinggi permukaan air laut, berkembangnya wabah penyakit malaria dan demam berdarah, perubahan pola iklim pertanian,
dan kenaikan suhu udara.

Dampak perubahan iklim juga menerpa kesehatan manusia. Faktor-faktor iklim berpengaruh terhadap risiko penularan
penyakit tular vektor seperi demam berdarah dengue (DBD) dan malaria. Curah hujan dan jumlah hari hujan mempunyai
hubungan positif dengan kasus DBD, semakin tinggi dan banyak jumlah hari hujan maka kasus DBD meningkat. Juga,
peningkatan jumlah penderita elergi dan asma secara signifikan.

Gelombang panas yang melanda Eropa pada 2005 juga menyebabkan kenaikan angka serangan panas kuat yang
mematikan, infeksi, salmonela dan hay fever (demam akibat alergi rumput kering). Laporan dari Intergovernmental Panel
on Climate (IPCC) menyatakan bahwa sejak tahun 1850 tercatat ada 12 tahun terpanas. Sebelas dari duabelas tahun
terpanas tersebut terjadi dalam 12 tahun terakhir ini. Mengapa fenomena ini terjadi?

Haneda Sri Mulyanto dari Divisi Perubahan Iklim Di Kementerian Negara Lingkungan Hidup menyatakan, itu semua
disebabkan adanya emisi gas rumah kaca (GRK) seperti CO2, CH4, H2O, HFC, PFC, dan SF6. `'Ini emisi akibat bahan
bakar fosil dan kerusakan hutan serta lahan sehingga menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim global,''
ungkapnya. Haneda menambahkan, sebenarnya usaha manusia untuk mengatasi perubahan iklim global sudah
berlangsung sejak puluhan tahun silam.

Secara global misalnya, membentuk United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) 1992 di Rio
de Janeiro. Ini dibentuk untuk mengurangi emisi GRK. Lalu, Conference on Parties (COP)-Kyoto Protocol 1997 untuk
menstabilkan konsentrasi GRK di atmosfer guna mencegah perubahan iklim global akibat perilaku manusia. Misalnya,
melalui carbon trading, dan joint implementation

Secara lokal, kata Haneda, pemerintah Indonesia juga sudah melakukan upaya meratifikasi Kyoto Protocol melalui UU No
17/2004. Kemudian, mengembangkan mekanisme pembangunan bersih, melakukan perdagangan karbon atau emisi,
dan mempromosikan efisiensi energi. ''Sesuai dengan agenda kita nanti di konferensi di Bali, Indonesia telah mengurangi
emisi GRK dari sektor kehutanan sekitar 85 persen dari seluruh emisi tahunan GRK Indonesia,'' tegasnya.

Tak hanya pemerintah, kata Haneda, pihaknya juga mengajak masyarakat untuk melakukan sesuatu berkaitan dengan
ancaman pemanasan global. Misalnya, membudayakan gemar menanam pohon, mematikan AC/TV/lampu, dan alat-alat
elektronika bila sedang tidak digunakan. `'Juga mengganti lampu dengan lampu hemat energi,'' ujarnya. Haneda juga
menyarankan agar masyarakat lebih mengusahakan menggunakan transportasi umum, membudidayakan untuk
membawa tas belanja sendiri untuk menghindari penggunaan tas belanja plastik. `'Dan, upaya mendaur ulang sampah
atau limbah,'' tegasnya. eye

Ikhtisar:

- Laju deforestasi Indonesia mencapai 2 persen per tahun.
- Indonesia menyumbang sepertiga dari 20 persen emisi global yang berasal dari deforestasi atau sekitar 7,5 miliar ton
CO2.
- Dengan menurunkan emisi karbondioksida Indonesia berpeluang memperbaiki iklim dunia dari perubahan yang drastis.


sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=307601&kat_id=13
All rights reserved.
Dunia Esai
Kumpulan esai, makalah, dan artikel dalam Bahasa Indonesia