66 Tahun Pasca Sutardji: Sastra Posmodern dalam Periode Sastra "XXX"

Buku puisi O Amuk Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri merupakan koleksi yang menghimpun puisi dari tiga periode
kerja kepenyairan: O (1966-1973), Amuk (1973-1976), dan Kapak (1976-1979). Diterbitkan oleh Penerbit Sinar Harapan,
sejak kemunculannya pada 1981, buku ini belum juga disusul oleh kehadiran buku sesudahnya. Hal ini tentu bukan
lantaran penyairnya yang masih enggan untuk menulis buku serupa sesudahnya, tapi puisi-puisi pasca Sutardji masih
belum menggingit dan menyaingi kedahsyatan liberalisme penulisan "presiden penyair Indonesia 1976" tersebut.

Di tengah krisis pembacaan yang melanda pentas perpuisian Indonesia saat ini, fenomena di atas bukan hal yang baru.
Saat HB. Jassin mengakhiri karir intelektualnya sebagai paus sastra, para sastrawan agaknya harus gigit jari. Pasalnya,
kerja seorang ktitikus sastra sangat berpotensi pada lahirnya generasi sastra selanjutnya.

Apa yang telah dilakukan Jassin pada hakikatnya merupakan upaya mengangkat kembali sastra di tengah riuhnya
kosmologi sastra nasional dengan politik pemaknaan yang simpang siur. Sastra kita memang minim kritikus. Tak heran,
ketika karya-karya sastra dewasa ini masih belum mampu menunjukkan kualitasnya sebagai kampiun sejarah sastra
modern. Mungkin Tardji benar, bahwa keputusannya untuk tidak lagi menerbitkan puisi setelah O Amuk Kapak adalah
sebuah manifestasi dari usahanya untuk mencapai puncak lain.

Pernyataan Sutardji ini ternyata memang mendapat apresiasi yang besar dari para kritikus sastra kita yang”ironisnya”
tidak
lagi sumringah seperti beberapa dekade lalu. Karena sampai saat ini, Sutardji benar-benar mewujud sebuah mitologi
sastra modern. Tidak ada seorang kritikus sastra yang mampu membongkar, mengapa Sutardji harus sampai pada
kesimpulan yang seharusnya bukan akhir dari sejarah perpuisian (kesusastraan) Indonesia.

Para pembaca sastra yang serius tentu tidak akan melewatkan sebuah kisah bagaimana Sutardji mengawali lahirnya O
Amuk Kapak dengan penampilannya yang garang berangasan, dramatic-reading yang memukau seraya mabuk minum
bir, seolah ingin membangkitkan kembali roh dalam puisi-puisinya. Sutardji juga masih belum membocorkan apa dan
bagaimana "puncak yang lain" itu.

Atau jangan-jangan, karena terlanjur memikul beban sejarah, Sutardji ingin menutup lembaran sejarah kesusastraan
Indonesia dengan pernyataan misterius tersebut. Sebuah mimpi buruk dalam drama sastra kita!

Selama ini, para sastrawan lebih banyak membandingkan wawasan liberal estetik Sutardji dalam perspektif yang berbeda-
beda. Sehingga, para pembaca seakan menemukan romansa baru dalam ide puitika mereka. Ada sejumput harapan
yang mereka lahirkan dalam setiap karya, meski pada hakikatnya karya-karya sastrawan kontemporer masih bertumpu
pada ide dan wawasan Sutardji. Lebih tepatnya, sebuah penghianatan estetika!

Apa boleh buat, pengarang sekaliber Sutardji sudah terlanjur sampai pada tingkatan
, meminjam istilah Arif Bagus Prasetyo
”"ikon mitologis" dalam khazanah perpuisian-kepenyairan modern Indonesia. Lihatlah misalnya dalam karya-karya
monumental Sutardji semacam Q, Tragedi Winka & Sihkha, Puake, Pil, Batu, dan sebagainya. Semuanya nyaris
menyiratkan berbagai aliran perpuisian yang selama ini kita kenal. Jika Sapardi Djoko Damono menyebut puisi Sutardji
beraliran surrealis, maka Prof. A. Teeuw menganggapnya sebagai suatu kegenitan dan sesekali menampik mutunya,
bahkan kritikus semacam Goenawan Muhammad menyebut puisi-puisi Sutardji tak lebih dari karya "main-main". Begitu
pula dengan Dami N. Toda, Popo Iskandar, dan Harry Aveling yang, daripada menyangkal kualitas karya Sutardji, lebih
memilih melakukan pembelaan terhadapnya.

Lalu benarkah karya-karya puisi modern Indonesia banyak melirik estetika penulisan Sutardji? Buku Penyair Muda di
Depan Forum yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1976, membeberkan bagaimana peta perpuisian
modern Indonesia lebih banyak beraliran Sutardji-an. Tengoklah misalnya dalam puisi-puisi sastrawan modern, seperti
Joss Sarhadi, Noorca Marendra, Sjafrial Arifin, dan Sjarifuddin A. Ch. yang mengolah kata dengan cara amat kuat,
mengingatkan pembaca pada semangat yang diusung oleh puisi-puisi Sutardji. Dan beberapa tahun sesudahnya, Agus
R. Sarjono dalam salah satu esainya di Horison (1992), "Puisi Dada dan Kecemasan Afrizal Malna," malah menunjukkan
bahwa gaya puitik Afrizal Malna (penyair Indonesia paling populer era 1990-an) sangat sarat dengan wawasan estetik
puisi Sutardji yang "bebas dari beban pengertian" tersebut.

Sastra Posmodern: Sebuah Harapan?

Masa telah berubah. Begitu pula, puisi dan, lebih umumnya, sastra harus menemukan muara perubahan. Sumbangan
kritikus sastra terhadap berlangsungnya perubahan tersebut sangat diharapkan kedatangannya. Bagaimanapun, kritik
sastra yang baik, kata Budi Darma, akan mendorong lahirnya sejarah sastra yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Sejarah sastra modern adalah serangkaian drama kesusastraan Indonesia yang belum final. Masih ada ruang apresiasi
dan penghayatan untuk kembali melahirkan karya-karya terbaik. Dan di sini, di era yang konon kebebesan berekspresi
menjadi sangat jatuh harganya, tidak ada salahnya kita bermimpi untuk melahirkan sejarah sastra posmodern. Bahkan,
jika mungkin mewujudkannya.

Setelah karya Ayu Utami, Djenar Moesa Ayu, dan para penerusnya, sejarah sastra modern tampaknya mengalami
pelapukan. Lebih tepatnya, sebuah metamorfosa, selama hampir satu dasawarsa Sutardji memproklamirkan dirinya
sebagai presiden penyair tahun 1976 dan "mengungkung" aliran sejarah kesusastraan Indonesia. Dee dan kawan-kawan
merupakan benih sastrawan yang telah lahir dari rahim kesusastraan nasional kita. Jika boleh jujur, mereka mengilhami
sejarah kesusastraan posmodern dengan semangat "vulgaritas"-nya.

Apa yang dicatat Dee dalam rangkaian kesusastraan Indonesia tidak berbeda jauh dengan rentetan sejarah yang diukir
Sutardji. Para kritikus sastra berbondong-bondong menanggapi lahirnya "bayi" sastra posmodern tersebut dengan
populerisasi kritik dan apresiasi, persis saat Sutardji melahirkan karya O Amuk Kapak yang dirayakan secara histeria oleh
para tukang kritik masa itu. Sebagaimana yang dirasakan Sutardji, komentar terhadap karya-karya sastra "xxx" itu terasa
bergerak dari ekstrem negatif ke ekstrem positif. Karya Dee dan kawan-kawan berhasil membuat gegap gempitanya
kesusastraan modern Indonesia dengan kredo populernya gerakan syahwat merdeka, bermain-main dengan kelamin,
politik sastra seks perempuan, dan sebagainya. Bedanya, jika Sutardji menulis puisi, Dee dan kawan-kawan lebih
memilih untuk menjadi penulis novel.

Diterima ataupun tidak, karya sastra "xxx" di atas telah mengukir lembaran sejarah dalam kosmologi kesusastraan
modern Indonesia. Setidaknya, karya-karya mereka telah berusaha keluar dari rangkaian sejarah sastra yang dibuat
Sutardji dan berani membuat lembaran periodesasi baru. Tentunya, dengan wawasan estetika penulisan sastra yang
tidak mudah disatukan oleh para kritikus sastra saat ini.

Fajar sastra posmodern telah terbit. Sastra Indonesia benar-benar dihipnotis dengan terbitnya buku-buku bernada conceit,
yang tak jarang menimbulkan efek gempar yang intim. Dan sudah sepantasnya, sastrawan kita menciptakan sebuah
terobosan baru yang lebih inovatif. Setidaknya meneruskan riwayat kepenulisan Dee dan kawan-kawan. Mereka, jika
masih belum terlambat, sudah terlanjur mendapat "mahkota" ratu sastra dalam pentas kesusastraan kita dewasa ini. Jika
peta kesusastraan yang diusung Sutardji (sastra modern) lebih diwarnai dengan teks bermetafor antitesis, maka sastra
posmodern Dee dan kawan-kawan begitu sarat denganâ
”kata Michael Bakhtinâ”"teks posmo". Teks yang tak hanya
inkonvensional, tapi juga melukai pembaca dan "memaksa" mereka untuk menangkap makna dalam karya yang
"bercermin pada keindahan seks" tersebut. Kalau boleh saya berharap, tidak ada salahnya kita merawat "bayi" itu hingga
tumbuh menjadi dewasa, dan menjadikan sastra tahun 2007 sebagai awal kebangkitan sastra Indonesia posmodern.


Oleh:

Achmad Fawaid, esais dan penikmat sastra "kiri". Akan meneribitkan buku "Pesantren dan Postradisionalisme: Sebuah
Pergulatan Tradisi".



All rights reserved.
Dunia Esai
Kumpulan esai, makalah, dan artikel dalam Bahasa Indonesia