Begitu bercoraknya keragaman budaya bangsa-bangsa di dunia. Namun, ada satu ciri—dari sekurangnya dua—yang memperlihatkan kekhasan atau kecenderungan yang serupa dari sebagian besar bangsa-bangsa itu.
Kekhasan itu terkait kecenderungan dari mereka untuk mempraktikkan dan menghidupi apa yang kita kenal, mungkin tidak secara umum, dengan (per-)adab(-an) daratan atau kontinental.
Dengan memerhatikan secara saksama, kritis, serta terbuka pada bentuk peradaban kontinental ini—dan juga counterpart atau pasangan dialektisnya, (per-) adab(-an) kelautan atau maritim—kita akan segera memahami berbagai konflik antaretnik, penghakiman adat pada kultur suku bangsa lain, hingga kekerasan agama (seperti yang terjadi pada kaum Ahmadiyah)...
Sosiologi
Persekusi dan Kebebasan Berkeyakinan
Dalam bangsa majemuk idealnya kita memang menjadi warga negara yang setara, terutama dalam kebebasan berkeyakinan (equal liberty of conscience).
Kesetaraan ini menjadi prinsip dasar konstitusi kita dan sejumlah peraturan internasional yang sudah diratifikasi. Namun, prinsip itu kerap dilanggar. Ekspresi keyakinan yang plural tidak diberi ruang kebebasan yang setara, tetapi justru diintervensi. Padahal, setiap bentuk intervensi eksternal terhadap keyakinan dapat dikategorikan sebagai...
Read more...
Kesetaraan ini menjadi prinsip dasar konstitusi kita dan sejumlah peraturan internasional yang sudah diratifikasi. Namun, prinsip itu kerap dilanggar. Ekspresi keyakinan yang plural tidak diberi ruang kebebasan yang setara, tetapi justru diintervensi. Padahal, setiap bentuk intervensi eksternal terhadap keyakinan dapat dikategorikan sebagai...
Kemiskinan Bukan Sekadar Angka!
Sebagai peneliti dan penekun kajian ilmu-ilmu sosial,saya sungguh prihatin setiap kali ada pejabat negara yang mengklaim— bahkan acapkali melawan nalar publik—bahwa tingkat kemiskinan mengalami penurunan dalam hitungan angka: persentase atau jumlah orang miskin.
Pemerintah, melalui Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, dengan bangga mengatakan jumlah penduduk miskin menurun dari 32,5 juta jiwa (14,1%) menjadi 31 juta jiwa (13,3%).Namun, bersamaan dengan klaim ini muncul...
Read more...
Pemerintah, melalui Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, dengan bangga mengatakan jumlah penduduk miskin menurun dari 32,5 juta jiwa (14,1%) menjadi 31 juta jiwa (13,3%).Namun, bersamaan dengan klaim ini muncul...
PRT yang Tak Seindah Novelnya
Iyem, Turah, Karti, Bejo, Darman, Lasimin, atau siapa saja nama yang umumnya dimiliki pekerja rumah tangga itu selalu dikenang dengan penuh rasa kehilangan justru ketika mereka tidak ada. Misalnya ketika mereka mudik Lebaran.
Para Tuan dan Puan—keluarga menengah dan atas yang mempekerjakan mereka—pun akan pontang-panting mengatasi persoalan domestik: dari mencuci, menyapu, belanja, memasak, hingga soal tetek bengek lainnya. Ketika disergap pelbagai pekerjaan rumah tangga itu, para...
Read more...
Para Tuan dan Puan—keluarga menengah dan atas yang mempekerjakan mereka—pun akan pontang-panting mengatasi persoalan domestik: dari mencuci, menyapu, belanja, memasak, hingga soal tetek bengek lainnya. Ketika disergap pelbagai pekerjaan rumah tangga itu, para...
Waktu Senggang yang Kini Hilang
Manusia saat ini adalah manusia-manusia yang ”tidak punya” lagi waktu senggang. Seluruh waktunya habis tersita oleh kerja, mengejar bermacam-macam kebutuhan, ambisi, dan cita-cita. Jam kerja yang padat membuat manusia seperti robot yang dijalankan oleh mesin kerja kapitalisme.
Waktu senggang, yang menurut Fransiscus Simon (2007), berisi kegiatan ”berdiskusi tentang kebenaran dan upaya-upaya menjunjungnya; berefleksi tentang pelbagai gelagat peristiwa kehidupan yang telah, sedang...
Read more...
Waktu senggang, yang menurut Fransiscus Simon (2007), berisi kegiatan ”berdiskusi tentang kebenaran dan upaya-upaya menjunjungnya; berefleksi tentang pelbagai gelagat peristiwa kehidupan yang telah, sedang...
More Articles...
Page 2 of 9








