SETENGAH abad yang silam Soedjatmoko, cendekiawan yang pernah disebut sebagai Dekan Intelektual Bebas Indonesia,
mengumumkan adanya "suatu krisis dalam kesusastraan kita". Di dalam tulisan yang merupakan "Pengantar" untuk edisi
perdana majalah Konfrontasi, Juli-Agustus 1954, Soedjatmoko mengakui bahwa "banyak ciptaan yang memang berjasa serta
adanya kelancaran dalam bahasa yang dipakai. Akan tetapi, ciptaan-ciptaan kesusastraan yang lebih besar masih saja
ditunggu kehadirannya."
BAHASA memang medium yang dengannya sastra menghamparkan dirinya: menggelar kekuatannya sekaligus memamerkan
krisisnya. Jika bahasa hanya dipandang sebagai ungkapan pikiran dan perasaan spontan manusia dengan memakai bunyi
atau aksara, maka kita memang...
Sastra
Sastra Madura & Kekerasan
Sastra Madura yang penuh dengan pesan, kesan, kritik dan ajaran-ajaran sempat lenyap dari permukaan , di masa
lampau sastra lisan madura sangat diminati oleh masyarakat dari kalangan grass root (rakyat jelata) sampai kalangan elit
(kraton), karena dengan sastra tersebut rakyat madura dapat mengeskpresiankan diri, menyampaikan pesan moral,
gejolak hati, ajaran agama. Orang Madura yang terkenal keras menghadapi hidup, maju menentang arus, masih sempat
untuk mendendangkan sastra –sastra...
Read more...
lampau sastra lisan madura sangat diminati oleh masyarakat dari kalangan grass root (rakyat jelata) sampai kalangan elit
(kraton), karena dengan sastra tersebut rakyat madura dapat mengeskpresiankan diri, menyampaikan pesan moral,
gejolak hati, ajaran agama. Orang Madura yang terkenal keras menghadapi hidup, maju menentang arus, masih sempat
untuk mendendangkan sastra –sastra...
Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia
Ada sebuah pertanyaan besar yang sampai sekarang belum ada jawaban yang memuaskan. Benarkah sastra Indonesia
lahir pada 1920? Tidak sedikit pakar sastra Indonesia yang masih berpendapat bahwa kelahiran sastra Indonesia dimulai
pada 1920 dengan sejumlah argumentasi yang sekilas tampak mantap. Tanpa mengulang kembali apa yang telah
disampaikan A. Teeuw, Ajip Rosidi, Yudiono K.S., Maman S. Mahayana, Bakri Siregar, bahkan Umar Junus dan
Slametmoeljana, saya mencoba melihat upaya yang...
Read more...
lahir pada 1920? Tidak sedikit pakar sastra Indonesia yang masih berpendapat bahwa kelahiran sastra Indonesia dimulai
pada 1920 dengan sejumlah argumentasi yang sekilas tampak mantap. Tanpa mengulang kembali apa yang telah
disampaikan A. Teeuw, Ajip Rosidi, Yudiono K.S., Maman S. Mahayana, Bakri Siregar, bahkan Umar Junus dan
Slametmoeljana, saya mencoba melihat upaya yang...
Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan
Isu kemerdekaan acapkali didengungkan di dalam sejumlah karya sastra besar sebagai pondasi cita-cita, meski imajiner.
Adalah hak asasi manusia yang paling krusial, kemerdekaan diidentikkan dengan istilah kebebasan, otonomi, serta
kedaulatan. Karenanya, isu ini secara luarbiasa menganut interpretasi individualistik yang menyita banyak perhatian dan
pemahaman. Telah banyak kajian atas karya-karya sastra bertaraf nasional maupun internasional yang menggusung
tema-tema perjuangan personal...
Read more...
Adalah hak asasi manusia yang paling krusial, kemerdekaan diidentikkan dengan istilah kebebasan, otonomi, serta
kedaulatan. Karenanya, isu ini secara luarbiasa menganut interpretasi individualistik yang menyita banyak perhatian dan
pemahaman. Telah banyak kajian atas karya-karya sastra bertaraf nasional maupun internasional yang menggusung
tema-tema perjuangan personal...
Dukun dan Dokter dalam Sastra Indonesia ("Literature and Medicine" - Sebuah Studi)
SEKILAS pandang, sastra tampaknya tidak ada hubungannya dengan pengobatan atau dengan penyakit, dan bidang kedokteran (medicine)
dan sastra (literature) jarang dihubungkan satu sama lain. Tetapi, paling tidak, dalam tradisi Barat, hubungan antarkedua bidang itu
sebetulnya cukup erat. Beragam ide dan spekulasi seputar hubungan seni dengan penyakit dan pengobatan dapat kita temukan dalam
pemikiran Barat sejak zaman Aristoteles; misalnya bahwa "jenius" atau bakat seni yang luar biasa...
Read more...
dan sastra (literature) jarang dihubungkan satu sama lain. Tetapi, paling tidak, dalam tradisi Barat, hubungan antarkedua bidang itu
sebetulnya cukup erat. Beragam ide dan spekulasi seputar hubungan seni dengan penyakit dan pengobatan dapat kita temukan dalam
pemikiran Barat sejak zaman Aristoteles; misalnya bahwa "jenius" atau bakat seni yang luar biasa...
More Articles...
Page 3 of 5








