duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Sebiduk di Sungai Musi

E-mail Print PDF
( 4 Votes )
User Rating: / 4
PoorBest 

Akhirnya warung kopi yang ditunggu datang juga. Warung itu perlahan menyeberangi Sungai Musi menuju hilir. Sampai di
depan Benteng Kuto Besak, warung ditambatkan di antara perahu-perahu ketek yang sedang menunggu penumpang.
"Maaf, saya baru mengantar rombongan Bapak Gubernur dan Wali Kota meninjau rumah-rumah rakit," kata Harun (47),
pengelola warung kopi terapung. Sore itu Harun terlambat satu jam. Biasanya, setiap habis asar perahu yang tampil beda
dari perahu-perahu lainnya itu merapat di dermaga Benteng Kuto Besak, Palembang.


Rais (17), putra Harun, dengan cekatan menyodorkan tangga kepada pelanggan yang lama menunggu untuk naik ke
warung kopi. Ibunya sedang sibuk menggoreng pisang di dalam perahu. Empek-empek, bakwan, tahu goreng, tekwan,
pastel, dan pisang goreng merupakan menu tetap tiap sore di warung itu. Makanannya bersih, rasanya lumayan, dan
harga murah meriah.

Warung kopi terapung yang dikelola Harun itu merupakan satu dari enam warung perahu yang dapat dijumpai di tepi Musi
di Kota Palembang. Empat warung nasi terapung beroperasi di Pasar 16 Ilir, sedangkan dua warung kopi terapung
mangkal di depan Benteng Kuto Besak.

Selain keenam warung bergoyang itu, terdapat pula rumah-rumah rakit buatan baru di kawasan Seberang Ulu untuk
pengunjung yang memiliki dompet lebih tebal. Di sana, selain menikmati masakan khas Palembang, juga bisa sambil
berkaraoke sampai larut malam. Rumah makan terapung itu namanya Warung Legenda, dikelola oleh Pemerintah Kota
Palembang.

Situs multikomponen

Sejak dicanangkannya Palembang sebagai Kota Wisata Sungai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27
September 2005, Sungai Musi digarap serius. Jembatan Ampera yang diresmikan presiden pertama RI, Ir Soekarno, pada
tahun 1964 itu kini tampak indah dengan lampu warna-warni pada malam hari. Jembatan unik yang panjangnya 1.777
meter itu memang telah jadi tetenger (landmark) Kota Palembang.

Pertama kali mengunjungi Palembang lima belas tahun lalu, depan Benteng Kuto Besak dan Museum Sultan Mahmud
Badaruddin (SMB) II merupakan pasar buah yang kumuh dan tidak aman. Kini tempat itu dijadikan pelataran yang sering
digunakan untuk ajang kesenian, rekreasi, pendidikan, panggung hiburan, mancing, dan tempat dua sejoli memadu kasih
diiringi lagu-lagu cinta yang dilantunkan para pengamen remaja penuh gaya.

Benteng Kuto Besak dan Museum SMB II telah dipugar dan dipercantik untuk obyek wisata dan pendidikan. Pada awalnya,
kedua bangunan ini merupakan bagian dari kompleks Keraton Kesultanan Palembang Darussalam yang dikelilingi kuta
atau benteng. Pada masa itu ada dua benteng yang menghadap ke Sungai Musi: Kuta Lama alias Kuta Tengkuruk dan
Kuta Besak.

Kuta Lama didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I dan Kuta Besak dibangun semasa Sultan Mahmud Bahauddin
yang memerintah tahun 1776-1803. Belanda menghancurkan Kuta Lama pada tahun 1823 dan lahannya dijadikan rumah
komisaris Belanda yang dihuni oleh Komisaris IJ van Sevenhoven pada tahun 1825 (Djohan Hanafiah, 1988). Sekarang
rumah komisaris itu menjadi Museum SMB II.

Penggalian arkeologis di halaman Museum SMB II pada tahun 1990 memperlihatkan lapisan-lapisan budaya dari masa
Sriwijaya dan masa Kesultanan Palembang sebelum dan sesudah benteng dihancurkan Belanda. Lapisan budaya
Sriwijaya berada di bawah pada kedalaman sekitar 5 meter dari permukaan tanah. Pada lapisan ini ditemukan sejumlah
pecahan tembikar dan keramik China dari masa Dinasti Tang (abad ke-8 hingga ke-10 Masehi).

Para arkeolog meyakini di daerah sepanjang Sungai Musi di Kota Palembang tersebar situs multikomponen
(multicomponent site), yaitu situs yang menjadi tempat aktivitas manusia dari berbagai masa dan budaya. Persebarannya
mulai dari Karanganyar di bagian barat sampai Sabokingking di bagian timur kota.
Di luar tapak kawasan keraton masih dapat dijumpai puluhan bangunan kuno di sepanjang Sungai Musi.
Bangunan-bangunan tempat tinggal, makam, klenteng, gereja, dan bangunan publik lainnya. Berbagai bentuk bangunan
tempat tinggal macam bangunan Indis, bangunan rumah panggung, dan bangunan beratap limas khas Palembang yang
berumur ratusan tahun terdapat di sekitar Pasar 16 Ilir, Kampung Kapiten, Kuto Batu, Almunawar, dan beberapa tempat
lainnya.

Namun, rumah rakit lama yang ada di Palembang sekarang tinggal hitungan jari tangan. Bentuk rumah dari zaman
Sriwijaya ini biasanya digunakan sebagai tempat tinggal, gudang, dan warung. Pada masa Kesultanan Palembang
Darussalam, masyarakat dari etnis Tionghoa tinggal di rumah-rumah rakit.

Sebiduk

Segala kekayaan budaya di sepanjang Sungai Musi memang sangat disayangkan apabila dibiarkan tak terurus, apalagi
tergusur. Berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan warisan budaya di Kota Palembang telah berbagi
pengalaman dan ide dalam lokakarya yang bertajuk "Sebiduk di Sungai Musi", yang diselenggarakan oleh Balai Arkeologi
Palembang pada Mei 2006.

Judul lagu yang pernah populer pada tahun enam puluhan itu dijadikan tema lokakarya karena dianggap pas. Sebiduk
dalam mengelola warisan budaya di Palembang adalah satu visi, misi, dan tujuan yang sama, yaitu melestarikan dan
memanfaatkan warisan budaya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, sejarah, pendidikan, juga pariwisata.

Tak dapat dimungkiri, mengelola warisan budaya di kota besar yang terus berkembang bukanlah hal yang mudah.
Berbagai konflik kepentingan yang terus terjadi mengharuskan semua pemangku kepentingan memahami manajemen
perubahan, yaitu pembangunan tanpa mengorbankan warisan budaya.

Para peserta lokakarya sepakat bahwa perencanaan pembangunan harus berwawasan pelestarian dan berkelanjutan
yang mampu mengembangkan dan meningkatkan vitalitas serta menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang telah pudar.
Untuk itu diperlukan kebijakan pengelolaan warisan budaya secara profesional, komprehensif, terpadu, dan berkelanjutan
serta mampu mengakomodasi berbagai kepentingan agar warisan budaya terlestarikan.

Masyarakat Cinta Musi

Sore berikutnya warung kopi terapung penuh sesak. Maklum saja, hujan turun dengan deras, banyak orang berteduh
sambil makan dan minum. Tiba-tiba sebuah perahu ketek menyeruak mencari posisi berlabuh di sebelah warung. Rais
dan dua wisatawan asing basah kuyup melompat dari perahu ketek ke warung.
Selama tiga jam Rais mengantar turis bule itu berwisata di sepanjang Sungai Musi dengan perahu ketek. Wajah turis
tampak puas ketika memberi bonus Rp 200.000 kepada Rais atas pelayanannya, lalu pergi menuju mobil yang telah
menunggu di halaman Museum SMB II.

Tak lama kemudian, seorang pemuda datang minta uang kepada Harun. "Yah..., kebiasaan lama belum juga bisa
dihilangkan," ujar Harun setelah pemuda itu pergi mengantongi beberapa ribu rupiah.

Lebih lanjut lelaki kurus yang menjadi anggota Masyarakat Cinta Musi itu menjelaskan bahwa kebiasaan mengeroyok,
membuntuti, dan memaksa wisatawan yang hendak mencarter perahu mengakibatkan turunnya minat wisatawan untuk
berwisata sungai. Bukan itu saja, calo-calo yang main paksa itu dapat merusak citra wisata Sungai Musi di Palembang.
Tampaknya Harun dan para pengemudi perahu ketek di depan Benteng Kuto Besak ingin "Sebiduk di Sungai Musi"
menurut cara pandang mereka sendiri.

Nurhadi Rangkuti Arkeolog, Saat Ini Kepala Balai Arkeologi Palembang

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0704/02/humaniora/3417333.htm

 

You are here: Esai Esai Arkeologi Sebiduk di Sungai Musi