duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Karakter Bangsa Mau Dibawa ke Mana?

E-mail Print PDF
( 7 Votes )
User Rating: / 7
PoorBest 

Berapa pun besar bantuan luar negeri dikucurkan, berapa pun utang luar negeri diperoleh, berapa pun tenaga ahli
dikirimkan, akan sia-sia kalau bangsa Indonesia gagal melakukan “character and nation building”.
Sejak jatuhnya Orde Baru, perekonomian Indonesia masih terpuruk dan bergantung pada CGI. Kehidupan politik, budaya
dan ideologi bangsa juga sedang mengalami krisis. Kesatuan wilayah dan hati bangsa Indonesia makin terpecah belah
setelah era reformasi. Upaya perbaikan nasib rakyat bukan makin baik tapi makin menyedihkan. Lalu apa yang di perlukan
oleh bangsa Indonesia untuk keluar dari krisis?

Utang lebih banyak pada negara CGI seperti yang dilakukan tim ekonomi Indonesia dari Soeharto hingga Yudhoyono.
Membuka pasar lebar-lebar kepada investor asing untuk menguras tambang di Freeport dan blok Cepu dengan harapan
akan mendatangkan devisa? Lalu kalau investor didatangkan, apakah perlu dipertaruhkan nasib buruh dan petani sebagai
tumbal bangsa demi mencapai pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional? Apakah datangnya investor dan pinjaman
utang baru mampu mengakhiri krisis Indonesia bangsa yang multi dimensi?
Memang untuk membangun ekonomi Indonesia membutuhkan investor dan sumber daya manusia dari luar. Tapi
mendatangkan investor dan utang lebih banyak tak akan banyak menolong kalau karakter bangsa tidak diperbaiki. Krisis
utama bangsa Indonesia bukan sekadar krisis ekonomi dan negara kesatuan tapi juga krisis kebangsaan khususnya
karakter bangsa.

Kebanggaan yang Sirna

Bagi banyak orang yang pernah hidup dalam tahun lima puluhan sampai tahun enam puluh lima, betapa bangsa
Indonesia memiliki kebanggaan ketika Indonesia berhasil menyelenggarakan konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun
1955. Disusul kemudian berbagai konferensi seperti konferensi wartawan Asia-Afrika, penulis Asia Afrika dan Konferensi
Mahasiswa Asia-Afrika. Semua orang Indonesia tak peduli dia itu Batak atau Jawa, keturunan Tionghoa atau India, Kristen
maupun Islam merasa bangga menjadi bangsa Indonesia.

Semua merasa dilindungi dan bebas dari dianaktirikan karena agama dan sukunya. Tidak ada pertikaian dan kekerasan
yang berarti di antara suku dan agama yang berbeda. Indonesia melalui kepemimpinan Bung Karno bisa menjadi obor
yang memberikan harapan tidak hanya kepada bangsa Indonesia tapi juga bangsa yang masih di bawah belenggu
penjajahan. Nama Bung Karno cukup hidup di benak hati rakyat di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Salah satu yang dilakukan Bung Karno pada waktu itu dan yang tidak dilakukan oleh Soeharto dan penggantinya adalah
melakukan “character and nation building”. Siapa tak bangga pada waktu itu memiliki Presiden Indonesia Bung Karno?
Pembangunan karakter bangsa adalah fondasi untuk memperbaiki krisis bangsa. Kalau karakter bangsa sudah rusak
maka bangsa itu akan menjadi cemooh bangsa lain, diejek dan diremehkan oleh kekuatan asing. Pembangunan sosial,
ekonomi, politik, kebudayaan memerlukan pembangunan karakter bangsa.

Berapa pun besar bantuan luar negeri dikucurkan, berapa pun utang luar negeri diperoleh, berapa pun tenaga ahli
dikirimkan akan sia-sia kalau bangsa Indonesia gagal melakukan “character and nation building”. Yang ada setelah enam
puluh tahun merdeka, utang makin membumbung, korupsi makin merajalela, pejabat bisa dibeli, rasa persatuan sebagai
bangsa mulai luntur, ke- kerasan antarsuku dan antaragama menjamur. Bangsa Indonesia diremehkan dalam percaturan
global.

Peran Agama dan Pendidikan

Agama dan pendidikan seyogianya menjadi pilar dalam pembangunan karakter bangsa. Tapi sayang banyak pihak telah
menyalahgunakan peran agama dan pendidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Orang lebih
mengutamakan simbol, ritual, dan kekuasaan daripada hikmah dan makna agama dalam membangun karakter bangsa.
Munculnya beberapa Perda atau Rancangan Undang-Undang yang bernuansa keagamaan dan golongan telah
mengkhawatirkan banyak tokoh kebangsaan di tanah air. Rupanya negara kebangsaan mulai diabaikan oleh beberapa
pemimpin politik dan agama. Mereka lebih mengutamakan simbol dan syariah agama sebagai agenda politik dari pada
memajukan bangsa dan negara Indonesia. Simbol dan syariah agama dianggap lampu Aladin yang mampu menyulap
karakter dan kemajuan bangsa. Banyak yang khawatir bahwa Indonesia di atas kertas masih mengakui negara
kebangsaan tapi dalam praktek sedang menuju menjadi negara yang berorientasi keagamaan.

Kemajemukan suku dan agama mulai diabaikan dan beberapa pemimpin mulai menonjolkan dikotomi mayoritas dan
minoritas berdasarkan keagamaan atau suku. Kemayoritasan agama membuat sekelompok pemimpin agama dan politik
menuntut agar pemerintah ikut campur tangan dalam menegakkan syariah agama bagi pemeluknya melalui seperangkat
peraturan daerah. Ketika bencana alam terjadi di Aceh, Nias, dan Yogyakarta solidaritas sebagai anak bangsa dan
manusia dinomorduakan dan yang muncul adalah prasangka keagamaan dan golongan.

Dalam kehidupan berbangsa orang tak lagi melihat lagi apakah seseorang itu mampu menunaikan tugas dan kewajiban
negara tapi pertanyaannya menjadi apakah seseorang itu seagama dengan dirinya. Jabatan publik sering sulit diberikan
atau dipersoalkan ketika seseorang bukan merupakan bagian mayoritas agama di negeri ini. Ketika ada pengusutan
terhadap pelaku korupsi dan kejahatan maka solidaritas golongan dan keagamaan dimunculkan sehingga kasus
kejahatan dan korupsi harus dipetieskan dan mandeg di tengah jalan.

Untuk mengatasi krisis karakter bangsa memang tak mudah. Tak bisa diselesaikan dalam sekejap mata. Di sinilah
peranan pemimpin bangsa, agama, masyarakat, dan pendidikan sangat menentukan. Sejauh ini pemimpin agama dan
pemerintah gagal membangun karakter bangsa karena para pemimpinnya lebih menonjolkan kepentingan partai, agama,
dan golongan.

Selain itu, lembaga agama dan pendidikan yang seyogianya menjadi tumpuan untuk menjadi kawah candra di muka
gagal melaksanakan peran dan tugas mereka dalam membangun karakter dan kemajuan bangsa. Dibutuhkan terobosan
untuk membangun Indonesia dari keterpurukan kalau bangsa Indonesia berkehendak disegani dan dihormati oleh
bangsa di dunia.

Oleh: Josef P Widyatmadja, Penulis adalah pengamat sosial
Sumber: http://ob.or.id/beta2/?p=403

You are here: Esai Esai Bantuan Asing Karakter Bangsa Mau Dibawa ke Mana?