duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Menyingkap Selaput-selaput Buram: Dilema Kesenian Tradisi

E-mail Print PDF
( 3 Votes )
User Rating: / 3
PoorBest 

Dilema kita adalah ketika menemukan dan menyikapi tarikan berseberangan: bawah dan elite; promosi dan eksploitasi; jasa dan dosa; legal dan moral; segera dan hati-hati; dan banyak lagi. Suatu konstruksi dari etnomusikolog, jurnalis, ekonom, atau politisi dapat membantu pemahaman publik di satu sisi, bisa pula menyesatkan di sisi lain. Kita dituntut menimbang secara arif dan cerdas, bukan hanya dari suatu ruang dan waktu, tetapi dari ruang ke ruang dan waktu ke  waktu.

 


Membaca tulisan Farida Indriastuti (Bentara, 3 November), yang didahului oleh Maria Hartiningsih (26 Oktober) di harian  ini, hati saya mendua. Di satu sisi gembira karena makin tumbuh kalangan luar yang peduli kesenian tradisional—ada  ratusan jenis kesenian atau ribuan seniman senasib gandrung Banyuwangi dan penari Temu yang memerlukan  perhatian. Kegembiraan bertambah demi melihat besarnya tanggapan publik di beberapa situs internet, selain banyak telepon, SMS, dan surel yang saya terima.

Di sisi lain saya kecewa. "Data" yang dikumpulkan Farida dan dicutat Maria, menurut saya, "jauh panggang dari api".

Keterlibatan saya pada seni tradisi merentang panjang: dari mulai ngamen di desa, menggarap sajian baru, mengajar, meneliti, memublikasikan, mengadakan revitalisasi, sampai mengorganisasi pertunjukan ke luar negeri—untuk sekadar  menjelaskan mengapa saya merasa berkepentingan menanggapi tulisan mereka. Saya tidak mewakili lembaga; tidak lagi  berwenang untuk itu. Tulisan ini sepenuhnya persepsi dan tanggung jawab pribadi, walau di sana-sini saya memakai kata kami ketika memang terlibat.

Salah satu topik pokok yang disoroti Farida dan Maria adalah CD musik Gandrung Temu yang, menurut para jurnalis-peneliti itu, laris sekali di luar negeri. CD itu, Songs Before Dawn: Gandrung Banyuwangi, adalah Volume 1 dari 20 CD seri  Music of Indonesia (MOI) yang diterbitkan Smithsonian Folkways Records di Amerika Serikat. Pemimpin proyek MOI adalah  Philip Yampolsky, etnomusikolog yang telah bertahun-tahun mempelajari musik Indonesia. Dialah pula pelaksana  perekaman dan penulisannya, dibantu puluhan seniman-etnomusikolog Indonesia. Smithsonian bekerja-sama dengan  Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) sebagai mitra dan sponsor Philip untuk kerja-lapangan di Indonesia.

Terbitan pertama MOI Smithsonian tahun 1991 hanya tiga volume. Sedangkan 17 volume berikutnya diterbitkan dalam  kurun lima tahun (1992-1997). Pemilihan dan penomoran volume tidak berdasar pada tingkatan nilai musik, melainkan  pada kesiapannya saja. Pandangan etnomusikologi tidak membedakan harkat-derajat musik.

Di Indonesia penerbitannya dilakukan oleh Seri Musik Indonesia (SMI), lembaga khusus milik MSPI, untuk wilayah Indonesia dan Malaysia. Sampai kini SMI baru menerbitkan 10 volume: enam volume tahun 1997 dan empat volume tahun  1999.

SMI-MSPI mendapat dukungan dana dari Ford Foundation, demikian pula Smithsonian, untuk proyek MOI. Ketiga lembaga ini bukan perusahaan rekaman, melainkan LSM (NGO-NPO). Smithsonian sangat besar: memiliki museum, kearsipan  audiovisual, penelitian/kajian, festival, dan lain-lain. Pengelola bidang rekaman, Folkways Records.

Tujuan dasar MOI adalah memperluas pengetahuan kebudayaan masyarakat yang beragam melalui pengadaan materi dan penumbuhan akses yang akan memberi sumbangan pada vitalitas dan kualitas kehidupan di dunia. Di situlah  persamaan misi Smithsonian dengan SMI-MSPI. Di situlah pula terkandung "tujuan pendidikan" walau kedua lembaga itu  tidak membangun sekolah.

Produk dan pasar

Rekaman SMI (Smithsonian-MSPI) mudah dibedakan dari produk pasar. Musik yang direkam Philip dan teman-teman
tidak melalui "pengembangan", misalnya, dengan diatur ulang oleh komposer modern. Semua dimainkan sewajarnya
oleh para seniman yang biasanya. Engineering suara jelas dilakukan, tetapi "elektronisasi"—umpamanya mempertinggi
bass dan treble, reverberasi, dan lain-lain, sehingga suaranya "lebih bergema" seperti pada umumnya rekaman pasaran—
tidak ada. Penulisan naskahnya panjang lebar, dalam bahasa Inggris dan Indonesia, berisi analisis teknis dan konteks
sosial yang juga tak terdapat dalam produk pasaran.

Ketika SMI mau diluncurkan, banyak kritik: isi musiknya dianggap "akademis", datar, atau sederhana. Agar laku, menurut
kritik itu, SMI harus dimodifikasi atau dicampur dengan musik garapan baru yang "atraktif". Tetapi misi kami, walau ingin
laku, bukan dengan larut pada selera pasar, melainkan dengan menawarkan "selera baru". Memberi akses pada
kebutuhan "kecil" adalah perlu dengan berharap bisa membangun pasar "yang-berbeda", tumbuhnya kesadaran pada
musik-musik yang selama itu dianggap "tidak berkembang". Jenis musik yang direkam bukan yang telah banyak
dipublikasikan, seperti gamelan Jawa dan Bali, atau tembang Sunda. Musik-musik dari Nias, Mentawai, Biak,
umpamanya, masuk dalam program terbitan.

Album-album SMI tak banyak terjual. Dari sekitar 2.200 keping masing-masing CD dan kaset versi Indonesia, selama 10
tahun hanya sekitar setengahnya terjual di pasar. Yang lainnya diberikan gratis atau dijual dengan subsidi pada pihak-
pihak yang memerlukan (misalnya guru/dosen kesenian). Untuk distribusi di pasar umum, SMI bekerja sama dengan Dian
Records. Pada awal terbit Dian menyebarkan ke seluruh agennya di berbagai wilayah. Empat bulan kemudian sekitar 80
persen kaset itu kembali. Toko-toko hanya mau memajang tiga bulan. Mereka konon tak punya ruang pajang, terdesak
oleh produk yang lebih laris, dan kami membayar biaya pengiriman dan pengembalian.

Selain di pasar umum, SMI membuka outlet khusus, seperti di universitas, galeri, toko buku, taman budaya, hotel, kafe,
dan sebagainya. Harapannya, di luar pasar konvensional terdapat komunitas yang memerlukan. Hasilnya? Tetap sedikit;
bahkan di bawah penjualan Dian.

Hasil penjualan bruto untuk biaya overhead pun tak cukup. Jika sampai sekarang SMI baru menerbitkan 10 volume,
padahal MOI 20 volume, selain kendala teknis juga adalah perhitungan "bisnis" di mana 10 volume pertama belum terjual
baik.

Situasi itu menunjukkan bahwa SMI-MSPI tak bisa hidup dengan andalan hasil jualan selama belum terbangun pasarnya.
Sejak didirikan pendanaan MSPI didapat dari donatur filantropis Ford Foundation yang paling peduli terhadap tujuan kami,
yakni untuk penguatan nilai sosial-budaya. Bahkan, lembaga yang dibantu Ford tidak boleh berorientasi pada laba.
Singkatnya, tanpa bantuan Ford, SMI-MSPI, juga Folkways-Smithsonian, tidak akan bisa mewujudkan 20 volume MOI.

Hitung-menghitung dan Amazon.com

Durasi musik yang direkam Philip sekitar 360 jam. Yang diterbitkan 20 volume (25 jam), sekitar tujuh persen saja. Sisanya
yang 335 jam dimiliki SMI-MSPI dalam kepingan DVD dan hardisk, dan telah pula diberikan pada Perpustakaan Nasional
sebagai arsip negara. Dokumentasi seperti itu menurut kami sangat perlu sebagai sumber studi yang memungkinkan kita
bisa "mendengar budaya" dari sekian banyak masyarakat negeri. Jika sekarang kita tidak atau belum merasa penting,
siapa tahu 100 tahun ke depan.

Lembaga nonprofit juga jualan—dan itu berlaku di mana- mana. MSPI, LKIS, Desantara, ATL, misalnya, menerbitkan buku
yang dijual di pasar. Majalah kesenian Gong, suatu misal lain yang saya kelola, juga dijual. Setelah delapan tahun
berjalan, hasil penjualan dan iklan Gong baru sekitar sepertiga dari biaya produksi.

Marc Perlman, profesor etnomusikologi Brown University, AS, pernah menyampaikan bahwa penerbitan musik-musik
tradisi di mana-mana sampai sekarang masih bersandar pada bantuan lembaga donor. Marc kini di Washington DC,
"kuliah" pascadoktor tentang copyright, dan di antaranya mengadakan studi MOI di Smithsonian. Analisisnya yang khusus
mengenai Songs Before Dawn seperti berikut.

Menurut Smithsonian/Folkways, biaya memproduksi satu volume MOI sekitar 50.000 dollar AS. Dalam kurun waktu 16
tahun (1991-2006), penjualan CD Songs Before Dawn tidak melebihi 4.250 keping—jika dirata-ratakan 266 keping saban
tahun. Anthony Seeger, mantan direktur Smithsonian-Folkways yang kini menjadi profesor etnomusikologi UCLA, kepada
Philip Yampolsky menguatkannya: "Tak ada satu pun volume MOI yang dicetak lebih dari 5.000 keping."

Makin lama indeks penjualan menurun. Sejak tahun 2003, penjualan Songs Before Dawn rata-rata 60 keping per tahun.
Marc kemudian memprediksi BEP: dari harga eceran 16,98 dollar AS, labanya dihitung 5 dollar AS. Laba sekarang 4.250 x
5 dollar AS = 21.250 dollar AS; defisitnya 28,750 dollar AS (50.000-21.250). Jika dari sekarang ke depan diambil angka 60
keping per tahun (300 dollar AS), maka BEP akan tercapai 96 tahun lagi (28.750 dibagi 300). Jika bantuan Ford sebanyak
650.000 dollar AS (untuk 10 tahun penelitian, perekaman, dan pembelian peralatan) juga dari Smithsonian, maka biaya
produksi satu album MOI adalah 82.500 dollar AS dan BEP-nya baru akan tercapai dalam 204 tahun lagi, atau 220 tahun
dari mulai diterbitkannya.

Dari mana uang untuk menutupi kerugian Smithsonian atas produksi MOI? Mungkin dari keuntungan yang didapat dari
penjualan CD lain (bukan Indonesia) yang laku di atas 10.000 keping sehingga bisa subsidi-silang. Tetapi, sebagian
besar dana didapat dari para donor yang peduli terhadap misi kultural.

Serupa itu pula perhitungan bisnis di Indonesia. Adi Nugroho, pemilik perusahaan rekaman Dian Records, pada awal
negosiasi SMI mengatakan bahwa dari aspek bisnis ia tidak tertarik. Ia yakin SMI tidak akan laris. Ia melakukannya karena
melihat "produk ini memiliki harkat tersendiri, yang bisa menumbuhkan wawasan keanekaan budaya bangsa. Saya
merasa bangga walau tidak untung".

Maka, ketika melihat data "fantastis" yang ditunjukkan Farida, saya tersentak karena bertolak belakang dengan pandangan
selama ini. Saya lakukan penelusuran pada sumber data yang didapatkan Farida, yang menurut Sigit B Setiawan adalah
hasil para peserta "pelatihan jurnalistik perempuan multikultural berbasis etnografi" yang diadakan Kajian Perempuan
Desantara di mana Maria Hartiningsih adalah salah seorang fasilitatornya.

Amazon.com didirikan tahun 1994 di Amerika, baru launching tahun 1995. Mustahil apa yang ditulis Farida "Pada medio
Juli 1992, amazon.com (AS) mencatat angka penjualan album CD Song Before Dawn sebanyak 284.999 keping (dalam
tempo 24 jam)". Apalagi Amazon.com di Perancis disebutkannya tahun 1991.

Baiklah, angka tahun: mustahil itu, barangkali cuma salah ketik. Tetapi, tampaknya ada kesalahan yang menurut ukuran
penelitian sangat "dahsyat": Amazon.com sama sekali tidak merilis angka penjualan suatu barang. Yang saya temukan
adalah angka-angka peringkat (sales rank), yang jumlahnya enam digit seperti angka Farida. Angka peringkatan berubah-
ubah: CD Gandrung tanggal 4 November (pukul 18:39) adalah 160.284; 6 November pukul 09:18 menjadi 175.107, dan 3,5
jam berikutnya (12:48) adalah 176.112. Artinya, bukan pada 6 November pukul 09:18 terjual 175.107 keping dan pukul 12:
48 176.112 keping, melainkan rankingnya turun—entah dari berapa totalnya; tetapi makin tinggi angkanya makin rendah
jumlah-relatif penjualannya. Kita tidak bisa menyimpulkan jumlah keping yang terjual. Farida bisa?

Seandainya asumsi saya benar, Farida membaca sales rank sebagai keping penjualan, maka angkanya itu absurd dan
salah fatal. Bahkan, bisa disebut "provokatif" kalau bukan "fitnah" karena begitu mencolok: mengentak hati pembaca,
menggerahkan publik. Saya tidak menganggapnya sebagai pemalsuan angka yang jahat, tetapi kesalahan bodoh karena
ceroboh. Jika sebaliknya Farida benar, saya akan merasa bloon, demikian juga Marc bisa disebut peneliti "bodoh", yang
menghitung penghasilan bersih Smithsonian dari CD Song Before Dawn sampai kini sekitar 200 juta selama 16 tahun.
Sedangkan kalkulasi Farida lebih dari setengah triliun dalam 24 jam dari satu outlet. Berapa pendapatan setahun? Dari
puluhan atau ratusan outlet? Entah bagaimana menghitungnya: tetapi cara Farida akan menghasilkan rasio jutaan kali
lipat dari cara Marc.

Saya terus mencari logika angka-angka Farida: harga CD 16,98 dollar AS; kurs Rp 10.000/dollar AS; Rp 189.900/CD; dan
total Rp 550.418.102.000. Saya gagal menemukan keterkaitan keempat figur angka ini. Rumusnya bagaimana?

Dari orang-orang bisnis yang saya kenal, tak seorang pun yang menghitung untung dari jumlah jual dikali harga eceran.
Biaya produksi, promosi, pengiriman, dan potongan pengecer, umumnya diperhitungkan 40-80 persennya. Jadi,
perhitungan Marc lebih dekat dengan logika para pebisnis teman saya.

Refleksi

Karena data Farida dicutat pula Maria Hartiningsih, kedua orang ini mestinya turut bertanggung jawab. Bukankah cross-
check data merupakan bagian dari tanggung jawab jurnalisme? Apalagi terhadap rumusan-rumusan provokatif.

Sambil menunggu klarifikasi, karena saya peneliti, saya merenung tentang apa artinya "penelitian" kesenian/seniman
desa seperti Gandrung Temu ini: apa manfaatnya baik bagi peneliti maupun senimannya? Dalam keduanya terdapat
unsur saling minta-dan-beri, material maupun imaterial. Adanya diskursus hangat mengenai para seniman dari sudut
akademik, media (cetak, rekam), pasar, dan politik sering-sering berada di luar jangkauan akses maupun minat mereka
sendiri. Mungkin menguntungkan atau membahagiakan mereka. Mungkin juga sebaliknya: membingungkan,
meresahkan, memalukan. Mungkin merekatkan tali hubungan pertemanan, kekeluargaan. Mungkin juga merenggangkan.
Itu semua akan tergantung dari orangnya (seniman, peneliti, jurnalis, manajer, birokrat) dan kasusnya dan oleh rapport
yang ditumbuhkannya sebagai perwujudan "niat" dan "cara".

Untuk mengevaluasi itu tidak sederhana. Setiap tindakan (dan fenomena) memiliki banyak selaput, tipis dan tebal, yang
menyelimuti. Setiap lapisan bisa "bersuara" beda sehingga untuk memaknainya ruwet, atau "thick" jika meminjam istilah
Clifford Geertz dari metode thick description-nya yang tersohor. Suatu makna tergantung dari konstruksi yang
memaknainya: pelaku, penonton, peneliti, maupun jurnalis. Setiap pemakna menjadi subyek: the anthropologist is the
author, kata Geertz pula.

Melimpah ruahnya informasi yang bisa diakses cepat menciptakan "selaput" yang lebih ruwet sehingga lebih menuntut
kepekaan, kecermatan, dan seleksi dalam memaknainya. Di pihak lain, tuntutan fantastis, menarik perhatian, dan segera
juga makin tinggi. Tetapi, makin fantastis menyuarakan (konstruksi), risiko fantastis makin tinggi pula. Makin lekat pada
"the law of attraction" makin mudah terjebak pada selaput atraktif sehingga luput dari suara selaput-selaput lain. Pasar
adalah selaput atraktif. Demikian juga, "perjuangan kemanusiaan".

Dilema kita adalah ketika menemukan dan menyikapi tarikan berseberangan: bawah dan elite; promosi dan eksploitasi;
jasa dan dosa; legal dan moral; segera dan hati-hati, dan banyak lagi. Suatu konstruksi baik dari etnomusikolog, jurnalis,
ekonom, ataupun politisi dapat membantu pemahaman publik di satu sisi, bisa pula menyesatkan di sisi lain. Kita dituntut
menimbang secara arif dan cerdas, bukan hanya dari suatu ruang dan waktu, tetapi dari ruang ke ruang dan waktu ke
waktu.

Saya harap Farida membuktikan dan menjelaskan perhitungannya. Bila ia benar, saya akan bahagia. Bila ia salah, akan
sangat memprihatinkan bukan hanya terhadap kesenian, juga pada disiplin penelitian, standar etnografi, etika akademis,
dan jurnalisme kita.

ENDO SUANDA Etnomusikolog, Mantan Ketua SMI-MSPI, Tinggal di Bandung

Sumber: http://kompas.com/kompas-cetak/0711/28/Bentara/4034123.htm

 

You are here: Esai Esai Antropologi Menyingkap Selaput-selaput Buram: Dilema Kesenian Tradisi