duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Pembusukan Akademis

E-mail Print PDF
( 43 Votes )
User Rating: / 43
PoorBest 

Kebanyakan insan akademis di perguruan tinggi secara sadar atau tidak sadar sudah tenggelam dalam bisnis pendidikan.

Mengapa saya berani berkata demikian? Bisnis pendidikan merupakan bisnis yang sangat menjanjikan. Betapa tidak, jumlah konsumen semakin meningkat setiap tahun (data Dirjen Dikti Kemendiknas memperlihatkan, dari sekitar 5 juta mahasiswa aktif, hanya sekitar 1 juta orang yang tertampung di perguruan tinggi negeri) dengan daya beli yang juga meningkat.

Maka dengan sedikit argumen justifikasi, modal investasi untuk bisnis ini dapat diturunkan sampai ke titik mencengangkan, risiko kerugian bisnis dapat ditekan, dan titik impas pun dapat dicapai dalam kurun waktu luar biasa singkat. Jangan tanya kualitas hasil, yang penting bagaimana membungkus pendidikan tinggi ini sebaik mungkin agar terlihat sangat ilmiah dari kejauhan. Dari situs Dirjen Dikti jelas terlihat jumlah perguruan tinggi (PT) swasta meningkat tajam dan bahkan mencapai 200 institusi baru per tahun.

Namun, seperti dipercaya semua fisikawan, energi bersifat kekal. Peningkatan kuantitas yang begitu pesat tanpa diiringi penambahan investasi yang luar biasa pasti akan menghasilkan penurunan kualitas yang sangat dramatis. Sudah banyak ahli pendidikan yang berteriak-teriak mengingatkan kita akan bahaya penurunan kualitas ini, tetapi tampaknya sudah sulit menghentikan degradasi atau pembusukan akademis ini.

Akibat yang paling kentara adalah seperti yang diprihatinkan oleh Mendiknas baru-baru ini. proporsi mahasiswa teknik hanya 11 persen dan mahasiswa pertanian serta sains masing-masing 3 persen saja.

Padahal, ketiga bidang ini motor utama industri yang diharapkan dapat menghasilkan devisa bagi negara. Namun, tentu saja para pebisnis enggan masuk ke sektor tersebut karena modal untuk membangun laboratorium dan perangkatnya tak sedikit. Jumlah konsumen pun tak sebanyak bidang lain. Jadilah PT swasta-PT swasta yang mayoritas beraliran sosial-humaniora. Kalaupun masuk ke ranah sains-teknologi, mereka menggarap bidang-bidang soft-science dan soft-engineering.

Pembusukan di PTN

Apakah pembusukan akademis ini tidak terjadi di PT negeri yang kualitas dan kuantitasnya dalam kendali pemerintah? Tunggu dulu. Imbas dari PT swasta tentu saja sangat kuat ke PT negeri karena dosen dan pendiri PT swasta kebanyakan adalah dosen PT negeri juga. Jelas pembusukan itu juga terjadi. PT negeri pun sudah lama tenggelam dalam bisnis pendidikan dan mencapai titik kulminasi saat Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Sebenarnya saya tak ingin mendiskreditkan bisnis pendidikan jika bisnis ini dilakukan dengan etika dan etiket yang benar serta tak melupakan hakikat PT. Kita semua sadar, PT-PT top di Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Jepang juga melakukan bisnis pendidikan melalui apa yang dinamakan corporate university dengan etika dan etiket yang sangat ditentukan nilai-nilai ekonomi. Bedanya, mereka tak melupakan hakikat suatu PT.

Tujuan PT adalah tempat mencari kebenaran, penjaga nilai-nilai moral, tempat pengembangan ilmu, dan lain-lain. Di Indonesia, hakikat PT bahkan sudah didefinisikan secara sempurna dalam Tri Dharma PT. Hanya saja, pemahaman Tri Dharma PT ini menjadi sumber masalah karena secara tidak sadar tergerus oleh bisnis pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun.

Malangnya, kesalahan pemahaman Tri Dharma PT ini tecermin langsung dari poin-poin kum yang harus dikumpulkan dosen untuk naik pangkat hingga jabatan guru besar. Ketiga darma dipilah dengan persentase tertentu, misalnya pendidikan minimal 30 persen, penelitian minimal 25 persen, dan seterusnya.

Pemilahan jelas memperlihatkan ketidakpahaman arti Tri Dharma PT yang bersifat integral. Dampak kesalahan pemahaman klasik Tri Dharma PT ini adalah, pertama, dosen mengajar di kelas, kemudian pada hari lain masuk laboratorium meneliti bersama mahasiswanya, dan pada hari lain lagi bersama koleganya membawa berkardus-kardus mi instan untuk bakti sosial, khitanan, atau imunisasi massal.

PT-PT top Amerika Serikat tidak memiliki konsep Tri Dharma PT, tetapi telah menjalankan konsep tersebut dengan benar. Para insan akademis di sana melakukan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang integral. Penelitian dilakukan untuk menunjang apa yang mereka ajarkan dan menjadi sarana utama untuk pengabdian masyarakat. Dengan demikian, dosen fakultas kedokteran yang dalam penelitiannya menemukan vaksin antiflu burung, misalnya, akan menguraikannya dalam topik kuliah dan pemanfaatan vaksin itu menjadi pengabdian yang berguna bagi masyarakat.

Tenggelam dalam bisnis

Mengapa hal ini minim terjadi di negara kita? Penyebab utamanya adalah tenggelamnya para dosen dalam bisnis pendidikan sehingga melupakan hakikat pendidikan tinggi. Parahnya lagi, saat seseorang direkrut menjadi dosen, dia tidak mempunyai pemahaman sama sekali bahwa seorang dosen juga merupakan peneliti. Maka, yang terjadi banyak dosen beranggapan bahwa penelitian adalah proyek bagi dosen dan banyak dosen meneliti di bidang yang bukan kepakarannya asalkan mendatangkan uang dan poin kum.

Ada beberapa hal lain yang juga menyebabkan distorsi pemahaman Tri Dharma PT. Salah satunya adalah jargon teknologi tepat guna yang sering melabeli persyaratan dana hibah penelitian. Saat ini, di Indonesia yang dianggap teknologi tepat guna adalah teknologi yang sebenarnya sudah ada atau dapat dikembangkan oleh institusi lain. Karena sifat intrinsik ini, penelitian yang mengarah ke teknologi tepat guna kebanyakan tidak dapat turut mengembangkan ilmu yang diajarkan di PT, terutama ilmu yang bersifat frontier dan dapat menimbulkan disintegrasi Tri Dharma PT.

Masyarakat berharap penelitian di PT dapat merambah ke tempat lain, di mana institusi seperti sekolah kejuruan, akademi, industri, ataupun lembaga litbang pemerintah tidak mampu ke sana. Maka, agar PT tidak dicap sebagai menara gading dengan produk-produk yang tidak langsung berguna bagi masyarakat, seyogianya kita mulai menyusun grand design penelitian nasional yang dapat menyinergikan semua penelitian di republik ini.

Terry Mart Lektor pada Departemen Fisika, FMIPA, Universitas Indonesia

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/07/29/0352181/pembusukan.akademis.

You are here: Esai Esai Pendidikan Pembusukan Akademis