duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Maklun

E-mail Print PDF
( 4 Votes )
User Rating: / 4
PoorBest 

Melalui rubrik ”Redaksi Yth” Kompas edisi 7 Juli lalu, Anton M Moeliono, ahli bahasa yang bereputasi dan disegani, memberi pencerahan mengenai padanan kata outsource dan outsourcing. Terpilihlah kata sumberluar sebagai kata benda yang paling sesuai untuk memadani outsource, dibandingkan dengan alih daya yang tidak menyiratkan ”dari luar atau ke luar” atau aliheja ofsor. Sumberluar dijelaskan dapat diturunkan menjadi menyumberluarkan, disumberluarkan, dan penyumberluaran.

Pada kesempatan itu dijabarkan bahwa outsourcing berarti ’praktik menyubkontrak pekerjaan (manufaktur) kepada pihak di luar perusahaan’. Kata outsourcing memang pantas dicarikan jodohnya dalam bahasa Indonesia karena memang ada kebutuhan dalam komunikasi dunia usaha dewasa ini untuk mengungkapkan praktik tersebut yang semakin kerap terjadi.

Di Bandung dengan sejarah pertumbuhan industri tekstil (kain) dan garmen (pakaian jadi) panjang, selama ini orang menggunakan kata maklun sebagai pemadan outsourcing. Dalam kamus WJS Poerwadarminta, maklun dimaknai sebagai ’upah membuat (pakaian) dan sebagainya’. Ada catatan bp di sana yang mengisyaratkan bahwa maklun merupakan bahasa pergaulan. Memang terjadi sedikit pergeseran makna kata maklun, namun rohnya sama.

Sudah sejak dulu pabrik tekstil dan garmen di Bandung melakukan maklun sebab bisa lebih hemat dan biasanya satu pabrik tak memiliki kapabilitas mengerjakan seluruh rangkaian pekerjaan. Industri tekstil dan produk tekstil dapat dibagi menjadi beberapa bagian utama: memintal kapas atau serat lain menjadi benang, menenun atau merajut benang menjadi kain, mencelup benang atau kain, mencetak motif di atas kain, serta menjahit kain menjadi pakaian.

Pak Akong yang punya pabrik garmen sering sekali menerima pesanan yang kainnya harus berwarna atau bermotif tertentu. Untuk memperoleh kain tersebut, ia mesti melakukan maklun kepada pabrik kain yang memiliki fasilitas celup atau cetak. Ia tinggal pesan warna dan motifnya. Setelah kain selesai diproses, barulah Pak Akong dapat mengerjakan pesanan orang dengan menjahit kainnya menjadi pakaian.

Pak Akong tak mungkin mendirikan pabrik kain dan pabrik celup serta pabrik cetak sendiri sebab makan modal dan makan hati. Sebaliknya, ia juga tak jarang menerima maklun dari pihak luar yang hendak membuat pakaian model tertentu dan menyerahkan kain kepadanya. Kadang-kadang ada pesanan pakaian yang bagian tertentunya mesti dibordir, maka Pak Akong–setelah kain dipotong menurut pola–harus memaklunkannya kepada pabrik bordir.

Dengan maklun, semua pekerjaan dapat diselesaikan industri tekstil dan produk tekstil di Bandung dengan biaya relatif bersaing. Asal tahu saja, seragam polisi Republik Jerman pun dibuat oleh sebuah pabrik di Rancaekek, Kabupaten Bandung!

Industri lain juga mengenal outsourcing, maklun. Pak Asep yang pandai besi hanya menempa kepala kapak. Gagang kapak yang terbikin dari kayu dimaklunkannya kepada pihak luar. Kata Pak Asep, ”Bagi-bagi rezeki.” Hanya pihak bermodal sangat besar mampu menguasai suatu industri dari hulu sampai hilir dan itu disebut serakah. Kiranya kini kita punya sumberluar atau maklun sebagai jodoh outsource dan outsourcing.

Lie Charlie Sarjana Tata Bahasa Indonesia

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/07/22/0151184/maklun

 

You are here: Esai Esai Sastra Maklun