duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Laki-laki Biang Kegagalan Pembangunan Milenium

E-mail Print PDF
( 16 Votes )
User Rating: / 16
PoorBest 

Lahirnya 4,5 juta bayi per tahun atau 18 juta jiwa dalam empat tahun menuntut pemenuhan hak-hak dasar bagi tumbuh kembang dan penciptaan lapangan kerja baru bagi anak-anak ini. Revitalisasi program Keluarga Berencana harus diprioritaskan melalui intervensi khusus.

Sukses program KB yang menjadikan Indonesia kampiun dalam urusan ini berpangkal pada kontribusi perempuan. Lebih dari 95 persen peserta KB adalah perempuan! Mereka dijadikan buron dengan anggapan bahwa rahim perempuan adalah milik negara. Dengan sistem target, keluarga Indonesia dalam waktu singkat mengadopsi nilai baru: dua anak cukup.

Luar biasa, dan itu membanggakan para pengelola negara. Meski perempuan adalah pendukung utama sukses KB, kesehatan reproduksi perempuan yang bermasalah masih terabaikan. Angka kematian ibu di zaman gemilang KB tercatat 420/100.000 kelahiran hidup.

Meski semboyan ”dua anak cukup” berhasil, upaya penurunan angka kematian ibu tak dianggap penting oleh para elite politik. Meski saat ini angka kematian ibu menurun menjadi 227/100.000, kita masih tertinggal dibandingkan dengan angka kematian ibu di ASEAN. Ini mengindikasikan bahwa hak hidup perempuan Indonesia masih dilanggar. Artinya, ibu sebagai satu-satunya makhluk yang diberi kemampuan melahirkan bayi masih diancam berbagai komplikasi saat mengandung dan melahirkan.

Yang segera perlu dijawab adalah bagaimana bentuk revitalisasi KB agar perempuan tak lagi jadi buron dan bagaimana pula hal ini bisa dicapai dengan lebih peduli pada kesehatan perempuan? Jelas tak boleh mengulang kelemahan program KB Orde Baru yang tak peduli pada kesehatan reproduksi perempuan. Tak boleh diulang pula kelemahan lainnya: tak berhasil meyakinkan laki-laki menjadi partisipan aktif.

Visi baru lelaki

Lelaki terbatas pada keaktifannya membuat program atau bekerja sebagai motivator KB. Jumlah laki-laki yang menyadari bahwa dalam mengendalikan laju penduduk dibutuhkan komitmen bersama laki-laki dan perempuan masih sangat terbatas. Laki-laki saat itu masih terjegal oleh stereotip: dialah yang berhak merencanakan dan menentukan; perempuan tinggal melakukannya.

Laki-laki perlu disadarkan bahwa mereka harus ikut bertanggung jawab dalam perencanaan keluarga, yang pada gilirannya akan membantu pengendalian jumlah penduduk tercapai. Karena itu, program revitalisasi KB perlu disandarkan pada pemikiran baru, program baru, dan sikap baru atau visi baru secara total.

Ini harus dimulai dengan kesadaran para elite politik meyakini bahwa target dalam pengurangan laju penduduk melalui revitalisasi program KB haruslah perempuan dan laki-laki. Bukankah mereka berdua yang melahirkan bayi baru?

Karena nilai patriarkat masih kental dianut, visi baru dalam pengendalian jumlah penduduk melalui KB harus menuntut perubahan sikap dan perilaku laki-laki: jangan lagi terkurung stereotip bahwa KB adalah isu perempuan. Laki-laki juga harus meyakini bahwa meningkatkan kesehatan reproduksi perempuan sebagai salah satu tujuan KB adalah masalah medis-sosial-politik yang menjadi tanggung jawab bersama perempuan dan laki-laki.

Sangat merisaukan bahwa hingga hari ini tidak ada partai politik—kebanyakan dipimpin laki-laki—yang menunjukkan kepedulian terhadap isu terkait dengan kesehatan perempuan. Angka kematian ibu yang tinggi, kekerasan terhadap perempuan yang makin meningkat dan berakibat pada kesehatan fisik, serta mental sosial perempuan lepas dari perhatian para elite politik.

Sebagai lelaki, mereka lupa bahwa mereka ”ada” karena ada perempuan yang melahirkan mereka. Sudah waktunya lelaki mengakui isu laju kependudukan yang kini mencapai titik mengkhawatirkan adalah hasil relasi seksual perempuan dan lelaki.

Laki-laki, yang dalam UU Perkawinan Tahun 1974 ditempatkan sebagai pemimpin, sudah saatnya menunjukkan tanggung jawab terhadap lajunya jumlah penduduk dengan visi baru. Mereka harus berhenti menganggap bahwa laki-laki tak terkait dengan kelahiran bayi-bayi baru. Maka, revitalisasi KB memerlukan sikap dan perilaku laki-laki yang peduli pada kesehatan reproduksi perempuan sebagai tujuan akhir KB.

Pembangunan milenium

KB zaman Orde Baru berasumsi, jika perempuan hanya melahirkan dua anak, kualitas kesehatannya akan meningkat. Kenyataan tak demikian. Angka kematian ibu sejak gemilang KB hingga kini masih tinggi dan tetap menghantui perempuan.

Angka kematian ibu juga mengancam ambisi Indonesia memenuhi Tujuan Pembangunan Milenium meningkatkan kesehatan perempuan. Dalam konteks mengurangi laju penduduk, diperlukan visi baru tentang partisipasi laki-laki.

Sekali lagi, kaum lelaki harus berhenti berpikir bahwa mengendalikan laju penduduk menjadi tanggung jawab perempuan. Perempuan tak harus dijadikan buron agar menjadi peserta aktif KB. Laki-laki harus sadar bahwa kuncinya adalah pada partisipasi aktif laki-laki sebagai peserta KB.

Maka, untuk mengurangi kelahiran 4,5 juta bayi per tahun, diperlukan komitmen dan tanggung jawab laki-laki terhadap penciptaan kesejahteraan masyarakat.

Jelas kiranya bahwa revitalisasi KB dalam konteks menurunkan laju penduduk memerlukan visi baru laki-laki tentang perannya di berbagai urusan domestik dan publik.

Sudah saatnya mengadakan refleksi mengapa partisipasi laki-laki dalam program KB selama ini hanya sekitar 1 persen dan tak bergerak maju secara signifikan. Diperlukan kemauan dan komitmen. Siapkah laki-laki mengubah visi terhadap KB dan peningkatan kesehatan reproduksi perempuan dari tidak peduli menjadi suatu komitmen? Siapkah laki-laki mengubah statistik keikutsertaan ber-KB dari 1 persen jadi 3,5 persen tahun 2015? Suatu tantangan bagi lelaki dalam kaitan ledakan jumlah penduduk.

Oleh: Saparinah Sadli Pendiri Pusat Kajian Wanita UI

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/01/15/03145870/laki-laki.biang.kegagalan..pembangunan.milenium

 

You are here: Esai Esai Gender Laki-laki Biang Kegagalan Pembangunan Milenium