duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Bahaya Layar Kaca

E-mail Print PDF
( 17 Votes )
User Rating: / 17
PoorBest 

Yang Berlebihan Itu Berbahaya

Dulu, ketika sedang marak-maraknya tayangan smackdown, Komisi Penyiaran mendapatkan banyak protes dari
masyarakat. Di sejumlah daerah, banyak anak yang mempraktekkan adegan di televisi itu pada temannya. Menurut berita,
ada beberapa anak yang harus kehilangan nyawa akibat di-smackdown temannya.

Atas reaksi yang sedemikian hebat dari masyarakat, Komisi Penyiaran akhirnya melarang total tayangan itu. Beberapa
akademisi yang dilibatkan di sini beralasan bahwa secara naluri sosial, manusia itu akan cenderung meniru perilaku
orang lain yang dilihatnya. Lebih-lebih jika perilaku itu mendapat "restu" (didiamkan atau dianggap wajar) oleh standar
sosialnya. Dan lebih-lebih lagi jika perilaku itu negatif. Perilaku negatif jauh lebih cepat menyebar.

Masih sama soal tayangan televisi, anak-anak kecil kini mudah menjadi terlalu cepat dewasa setelah melihat berbagai
tayangan. Seorang kawan sempat dikagetkan oleh ucapan anaknya yang baru berumur 5 tahunan. Ketika sang ayah
mencoba mendisiplinkan si anak, tiba-tiba si anak bilang ke ibunya begini: "Bu, ceraikan saja si ayah biar aku bisa hidup
bebas."

Setelah diingat-ingat, ucapan serupa pernah juga dikatakan si anak kepada ayahnya saat berkonflik dengan ibunya. Oleh
karena ucapan ini sudah terlalu dewasa, ditanyalah si anak apa arti cerai itu. Ternyata, si anak menjawab tidak tahu. Lalu
ditanya darimana ia tahu? Si anak menjawab "....dari sinetron!"

Kalau kita punya anak yang mau mendekati remaja atau sudah remaja, tantangannya bukan televisi lagi, tapi play station
(PS) dan internet. Di berita investigasi sejumlah media terungkap bahwa jumlah anak-anak yang sudah kebablasan
cintanya pada PS semakain meningkat. Mereka duduk berjam-jam, anggaran rutinnya sekitar Rp. 30.000 dan bahkan
sampai ada yang menginap.

Warnet pun begitu. Dengan menjamurnya warnet, para pengelola berlomba menawarkan fasilitas plus supaya tidak kalah
saing. Salah satunya adalah dengan menyediakan ruangan "VIP". Di ruangan itulah polisi menemukan praktek amoral
yang dilakukan remaja setelah menonton tayangan amoral Ini terjadi di beberapa tempat, seperti di Yogja, Madiun,
Ponorogo, dan di beberapa lokasi di Jabodetabek.

Televisi, internat atau PS, adalah tamu tak diundang yang bisa membawa berkah atau musibah bagi anak-anak kita. Akan
menjadi berkah apabila digunakan untuk kebaikannya dan dalam porsi yang masih dianjurkan. Tapi bila tidak, ini akan
mendatangkan musibah. Kuncinya, segala yang berlebihan itu seringkali menimbulkan kejelekan.


Bahaya Layar Kaca

Berdasarkan riset sendiri dan riset yang dilakukan lembaga lain di dunia, plus pengalaman beberapa pihak, Teresa
Orange dan Louise O’Flynn, penulis buku "The Media Diet for Kids" (Serambi: 2007), mencatat ada sejumlah pengaruh
buruk dari layar kaca. Ini antara lain:

1. Perilaku
Perilaku buruk yang kerap ditiru anak-anak dari tayangan televisi antara lain perilaku anti sosial, ledakan kemarahan yang
impulsif, apatis terhadap lingkungan, murung dan menarik diri, dan terlalu cepat dewasa. Jika anak kita punya gaya marah
yang tak seperti dirinya atau ucapan yang belum sewajarnya, perlu kita cek tontonan yang suka dilihatnya di televisi atau
PS.

2. Kesehatan fisik
Pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik antara lain menyangkut kegemukan badan karena terlalu banyak duduk atau
berbaring sambil nonton. Biasanya masih ditambah dengan ngemil atau minum. Jika ini terus dilakukan, bisa
berpengaruh pada buruknya sistem koordinasi tubuh karena kurang gerak.

Untuk anak, kurangnya gerakan fisik akan mempengaruhi proses belajarnya, entah belajar akademik atau belajar hidup.
Gordon Dryden (1996) berkesimpulan, ada enam jalur utama menuju otak anak-anak, yaitu melalui kelima indra
(pandangan, pendengaran, peraba, pengecap, dan pembau) dan gerakan fisik. "Pastikan anak-anak Anda mendapatkan
latihan sebanyak yang mereka inginkan, yang mengandung sebanyak mungkin aktivitas fisik" tulis Tony Buzan

3. Pendidikan
Pengaruh buruknya terhadap pendidikan anak mencakup antara lain: kemampuan berpikir yang dangkal, perkembangan
berbicara yang lambat, kemampuan membaca yang lambat, pikiran yang lambat, dan kesulitan tidur sehingga tak bisa
tidur secara sehat. Anak yang kecanduan televisi akan sulit berpikir secara mendalam terhadap realitas nyata karena
sudah terbawa oleh logika berpikir layar kaca yang "bim salabim" itu.

Lebih-lebih jika mereka sudah terkena kebiasaan tak bergairah membaca karena nonton itu lebih asyik. Kita perlu ingat
bahwa membaca itu bukan sekedar akan menambah ilmu, melainkan juga akan mengaktifkan pikiran dan akan
memperdalam kapasitas berpikirnya.

4. Hubungan dengan sesama
Anak yang sudah kecanduan televisi juga akan memiliki pola interaksi atau hubungan yang kurang berkualitas atau kurang
optimal, entah dengan keluarga atau sesama anak. Jika sampai si anak menggunakan sebagian besar waktunya untuk
bertapa di kamar atau di ruangan televisi, mungkin saja mereka akan jarang berkomunikasi secara verbal dengan
anggota keluarga. Padahal, dengan berkomunikasi itu anak akan belajar membangun hubungan, dari mulai berbagi
kebaikan, dialog, sampai berkonflik.

5. Pandangan dunia.
Kecanduan televisi bisa mempengaruhi pandangan anak terhadap dunia di sekitarnya. Anak akan punya persepsi dunia
di luar sana terlalu menyeramkan karena banyak tayangan kejahatan yang penyajiannya di-blow-up habis-habisan oleh
televisi. Bahkan terkadang ditunjukkan teknik bagaimana si penjahat itu melakukan kejahatan dan kekejaman untuk
menambah sensasi tayangan.

Selain itu, ada budaya yang disebut "Saya ingin". Anak akan mengajukan daftar belanja, saya ingin beli ini, beli itu, dan
seterusnya karena ingin memiliki semata, bukan untuk digunakan. Biasanya seputar mainan, makanan, atau pakaian.
Dengan kemasan iklan yang sangat bagus di televisi, anak-anak mudah terpengaruh untuk memiliki.

Yang lebih berbahaya lagi ketika si anak memilih idola atau gaya hidup yang tidak sesuai. Dengan menjamurnya idola
baru yang diciptakan televisi secara instan, termasuk dari kalangan anak-anak, akan membuat si anak merasa tidak
bahagia menjadi dirinya atau dengan prestasinya yang tidak terkait dengan kehidupan para idola. Ini akan terjadi apabila
orang dewasa di sekitarnya ikut-ikutan kecanduan idola secara berlebihan.

Kasus lain menunjukkan banyak remaja yang gampang depresi karena orangtua tidak mampu memenuhi biaya yang
dibutuhkan untuk menutup gaya hidup yang ingin ditiru anak dari tayangan televisi. Misalnya, anak merasa kehilangan self
esteem atau self confidence kalau hidupnya tidak mewah seperti yang dilihat di televisi.

Perlu Pembatasan, Pembekalan, dan Pengarahan

Dengan sejumlah bahaya itu, apa berarti kita perlu melarang anak menonton televisi? Tentu tidak. Televisi tetap
memberikan kontribusi positif asal ditonton dengan porsi yang pas. Supaya porsinya pas, perlu ada pembatasan. Berapa
batasan yang pas? Hampir tidak ditemukan angka ideal untuk semua anak. Tapi secara umum, angka yang bisa dipakai
patokan adalah 2 jam-an. Boleh lebih tapi jangan sampai berlebihan.

Tentu batasan waktu saja tidak cukup. Walaupun nontonya kurang dari dua jam, tapi kalau tayangan yang dilihatnya tak
sesuai, tetap punya pengaruh buruk. Karena itu perlu pembekalan dari orangtua. Kenapa pembekalan ini penting?
Alasannya, dalam tayangan itu pasti ada perilaku yang patut ditiru, patut dijauhi, dan patut hanya untuk dinikmati saja. Anak
terkadang kurang bisa membedakan tiga elemen ini. Tugas kitalah untuk memahamkan mereka.

Selain itu perlu pengarahan. Pengarahan ini sebetulnya lanjutan dari pembekalan. Anak tidak cukup kita bekali dengan
nasehat. Supaya informasi yang didapat itu membuahkan pengaruh positif dalam hidupnya, perlu diarahkan, didukung,
dan pendampingan. Misalnya saja ada tayangan cerdas cermat, kontes bahasa Inggris, atau perilaku positif tertentu.

Jika si anak suka melihatnya, ini bisa kita pakai sebagai pintu masuk untuk memotivasi dan memfasilitasi mereka supaya
lebih giat belajar, lebih giat berolahraga, lebih giat berbuat baik atau lebih kuat menghindari prilaku negatif. Bisa juga
mengarahkan anak untuk menjadikan orang-orang yang dilihatnya di layar sebagai role model, misalnya anak meniru
gaya presenter tertentu atau tokoh tertentu.

Ciptakan Kondisi & Fasilitasi

Untuk ukuran zaman sekarang ini, mungkin banyak orang yang berkesimpulan tidak bisa menghindarkan anak dari
televisi, PS, atau internet. Dan lagi, belum tentu hasilnya lebih bagus. Kalau anak kita sampai menjadi orang yang out-of-
date gara-gara tidak mengikuti zaman, bisa-bisa malah minder. Lalu apa solusi jalan tengahnya?

Selain perlu ada pembatasan, pembekalan dan pengarahan itu, masih ada lagi beberapa solusi yang bisa kita lakukan
sebagai upaya untuk mengurangi porsi yang sudah berlebihan. Ini antara lain:

Menghindarkan anak dari tingkat kenyamanan yang terlalu berlebihan dalam menikmati televisi atau PS. Semakin canggih
atau semakin besar televisi atau PS, biasanya malah membuat anak semakin nikmat
Mengurangi berbagai tuntutan privasi yang tidak pada tempatnya, misalnya menaruh internet di kamar pribadi, lebih-lebih
di kamar atas, punya kotak rahasia untuk menyimpan CD yang tidak boleh dibuka orangtua, dan lain-lain.
Menyediakan fasilitas bermain yang menstimulasi anak untuk menggerakkan fisiknya, misalnya sepeda atau peralatan
olahraga. Bisa juga dengan menyediakan tayangan khusus, misalnya membelikan CD khusus yang sudah kita lihat
isinya. Banyak orangtua yang sudah melakukan ini dan hasilnya Ok

Mau terlibat dan berbagi informasi positif dengan anak saat melihat tayangan atau searching / browsing internet. Mungkin
saja mereka kurang informasi atau pengetahuan seputar situs yang bermanfaat

Sering-sering mengobrolkan isu yang menarik minat anak untuk terlibat, dari mulai yang ringan sampai ke yang berat,
sesuai nalar anak. Mengobrolkan isu, selain bisa mengurangi ketergantungan anak terhadap layar kaca, bisa juga
menciptakan kedekatan emosi dan melatih anak dalam bernalar.

Menyediakan bahan bacaan yang menggugah minat anak. Kalau anak malas atau belum punya tradisi membaca, kita
bisa mendorongnya dengan membaca bersama-sama atau bergantian atau membaca sendiri-sendiri lalu saling
bercerita. Ini akan terasa lebih fun dan OK

Menyalurkan bakat, hobi, atau menyediakan fasilitas untuk berkreasi, entah di dalam rumah atau di luar rumah. Ini akan
mengurangi kebergantungan anak terhadap layar kaca. Dan yang lebih penting lagi, ini akan memberikan pengalaman
positif.

Sering-sering mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan fisik yang positif dan fun, misalnya membersihkan barang
elektronik di rumah, membersihka pekarangan, dan lain-lain.
Dan yang lebih penting lagi adalah menunjukkan keteladanan dari orang dewasa di rumah. Sulit kita menyuruh anak
membaca buku sementara sementara semua orang dewasa di rumah sedang asyik di depan layar kaca.

Kontrol Internal

Semakin banyak temuan akan semakin banyak kepentingan. Televisi, PS, situs internet, masing-masing punya
kepentingan yang sah. Kita pun begitu. Karena itu, tak bisa kita selamanya menyalahkan televisi atau penjual PS. Justru
yang dibutuhkan adalah memperkuat kontrol internal agar anak mampu menggunakan kapasitasnya dalam memilih untuk
memilih yang baik. Semoga bermanfaat.

Oleh : Ubaydillah,
Sumber: http://www.e-psikologi.com/epsi/anak.asp

You are here: Esai Esai Psikologi Bahaya Layar Kaca