duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Penjiplakan dan Kultur Akademik

E-mail Print PDF
( 12 Votes )
User Rating: / 12
PoorBest 

Seorang profesor diduga melakukan penjiplakan terhadap karya orang lain. Peristiwa ini mencuat setelah The Jakarta
Post menurunkan editorial yang berisi peringatan dan penyesalan atas kasus ini (4/2/10). Bila meneliti lebih jauh dua
tulisan yang dipersoalkan dapat diketahui bahwa modusnya adalah mengganti nama penulis asli dengan namanya untuk
dipublikasikan.

Dugaan itu kiranya pantas diajukan karena berdasarkan teori kemungkinan, kesamaan tema bisa saja terjadi, tetapi
kesamaan struktur kalimat, titik koma, dan paragraf adalah sesuatu yang tidak mungkin. Akibatnya, pada 8 Februari 2010
dia mengundurkan diri dari institusi tempat dia melaksanakan tridarma perguruan tinggi. Jabatan fungsional sebagai guru
besar terancam dicabut karena dianggap melakukan ”pelanggaran serius” dalam etika akademik.

Pertanyaan etis yang segera muncul dalam kasus ini, bagaimana keputusan terbaik yang paling mungkin untuk kebaikan
bersama? Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan lanjutan; seberapa besar akibat dari keputusan tersebut
bagi pengembangan dunia pendidikan kita? Tulisan ini tidak bermaksud membahas tulisan jiplakan, tetapi menawarkan
keputusan etis yang paling masuk akal.

Keutamaan dan kebenaran

Teori etika yang dapat diringkas selama 2.500 tahun bertujuan menyibak keutamaan (Yunani: arete) dalam tindakan
seseorang. Aristoteles dalam Nicomachean Ethics sudah jelas memberikan keterangan, ”Arete adalah keluhuran yang
berpangkal pada setiap tindakan seseorang dan oleh karenanya keluhuran masing-masing akan berbeda” (1104b15).
Keutamaan seorang prajurit adalah keberanian, berbeda dengan pemimpin yang mengutamakan keadilan. Teoremanya
jelas, jika pemimpin kehilangan keadilan, dia kehilangan keutamaan.

Kaitannya dengan dunia akademik, keutamaan seorang akademisi adalah penyampaian kebenaran secara gamblang
dan rinci (clara et distincta). Itulah kenapa ada julukan intelektual pelacur bilamana seorang akademisi telah berani
memanipulasi kebenaran ilmiah untuk memperkaya diri.

Ada intelektual selebriti karena memanipulasi kebenaran agar bisa terkenal. Ada intelektual tukang karena memanfaatkan
kebenaran ilmiah berdasarkan pesanan. Ada intelektual asu (dari bahasa arab, ’’as-Syu’’, buruk) karena menjadikan
kebenaran sebagai budak kekuasaan.

Selama ini, kebenaran akademik selalu dimaknai hanya sebagai kebenaran ilmiah. Kajian- kajian dari filsafat ilmu
memberikan keterangan, kebenaran ilmiah bisa memperoleh makna keabsahan sekurang-kurangnya didasarkan pada
dua hal. Pertama, kebenaran koherensial yang menuntut suatu pernyataan ilmiah mesti sesuai dengan pernyataan-
pernyataan sebelumnya.

Kedua, kebenaran korespondensial, artinya pernyataan ilmiah haruslah memperoleh konfirmasi faktual sehingga bisa
dikatakan sahih.

Di kelak kemudian hari, teori falsifikasi yang dikembangkan Karl Raymund Popper memberikan pelajaran, kesalahan
dalam penerapan dua prinsip tersebut adalah sesuatu yang wajar karena kebenaran ilmiah tidaklah bersifat absolut. Akan
tetapi, ketidakjujuran ilmuwan dalam mengungkapkan kebenaran ilmiah tentu saja menghilangkan keutamaannya. Artinya,
ada yang lebih utama ketimbang kebenaran ilmiah.

Kultur akademik

Pelajaran yang bisa diambil dari kasus yang sedang kita hadapi, persoalannya tidaklah terletak pada falsifikasi atas
kebenaran ilmiah, tetapi pada sikap akademisi terhadap kebenaran. Sudah jujurkah sang ilmuwan menguraikan
kebenaran dalam pernyataan-pernyataan argumentatif?

Pada kenyataannya, argumentasi dalam sebuah proposisi keilmuan memang tidak bisa dikelabuhi karena bisa diuji
melalui ilmu logika, tetapi proses pemunculan argumentasi itu tidak sulit untuk dimanipulasi. Sudah jamak dilakukan
dalam penelitian sosial karena data statistik membentuk kurva juling, maka harus bisa ”dipaksa” menjadi kurva normal.
Ilmu alam dikatakan sudah sahih bila sesuai dengan rumus hipotetis-apriori yang ditetapkan sebelumnya.

Dalam penelitian ilmu humaniora, kasus Jacques Derrida dalam penafsiran sebetulnya hanyalah ”membelokkan” kata,
parafrase, dan maksud dari sumber-sumber asal.

Karena itu, sikap ilmuwan terhadap kebenaran ilmiah jelas membutuhkan tolok ukur lain yang menyangkut kejujuran,
moralitas, dan integritas keilmuwan seseorang. Di dalam perspektif sosiologi ilmu, tolok ukur ini merupakan bagian sari
pembangunan kultur akademik.

Dalam praktiknya, pembangunan kultur akademik di Indonesia memang kurang memadai. Contoh, dalam setiap
lingkungan kampus sangat gampang dijumpai para ”konsultan” skripsi, tesis, dan disertasi. Rahasia umumnya, mereka
membuatkan, bukan pembimbingan.

Terkait dengan kenaikan jabatan fungsional, seorang dosen bisa menjiplak karya orang lain untuk pembuatan buku ajar,
mengunduh dari open source, ”titip nama” dalam tulisan ilmiah, atau ”mendompleng kelompok penelitian” dalam usulan
penelitian.

Awal tahun ini, mencuat kasus ”pembersihan” ruangan perpustakaan dari skripsi-skripsi lama karena menyesaki
ruangan. Skripsi dijual kiloan dan dapat dengan mudah ditemui di pasar buku bekas.

Belajar dari kenyataan itu, kasus penjiplakan oleh seorang guru besar kiranya hanyalah bagian kecil dari carut marut kultur
akademik kita hari ini. Itu hanya kebetulan terungkap, di luarnya tak terhitung. Karena itu, penjatuhan sanksi terhadap
pelaku pelanggaran tidaklah sekadar memberi efek jera bagi pelaku sebagaimana dianut dalam teori hukum. Tanpa
harus menghilangkan semua pencapaian akademisnya selama ini, sanksi itu haruslah ditempatkan dalam kerangka
pemahaman tentang pentingnya penegakan budaya akademik dalam skala yang lebih luas (11/2/10).

Oleh: Saifur Rohman Ahli Filsafat dari Universitas Semarang
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/12/04143030/penjiplakan.dan.kultur.akademik

You are here: Esai Esai Pendidikan Penjiplakan dan Kultur Akademik