duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Menuntut Keadilan Ujian Nasional

E-mail Print PDF
( 14 Votes )
User Rating: / 14
PoorBest 

Selama tiga hari berturut-turut, Selasa 22 April sampai dengan Kamis 24 April tahun 2008 ini dilaksanakan Ujian Nasional
(Unas) SMA dan MA secara serentak di seluruh wilayah Indonesia.

Berapa jumlah peserta Unas SMA dan madrasah aliyah (MA) tahun ini? Entahlah angka pastinya, yang pasti lebih dari satu
juta siswa SMA dan MA tahun ini berpartisipasi mengikuti “upacara akademik” akhir tahun. Itu berarti Unas SMA dan MA
menentukan nasib lebih dari satu juta manusia Indonesia.

Menurut amanat Pasal 15 UU Sisdiknas, pendidikan umum merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan
pengetahuan yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam konteks
pendidikan menengah, lulusan SMA dan MA dipersiapkan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Apabila kita cermati pelaksanaan Unas pada tahun yang sudah-sudah terdapat variasi yang signifikan dalam hal
“keketatan” dalam pengawasan ujian; maksudnya banyak daerah yang melakukan pengawasan ujian dengan ketat akan
tetapi banyak pula daerah yang kurang ketat dalam pengawasan ujian. Hal ini disebabkan masing-masing daerah, konon,
memiliki kebijakan (tersembunyi) tersendiri dalam pelaksanaan Unas.

Perbedaan dalam keketatan pe-ngawasan ujian tersebut bahkan menurun sampai ke sekolah; maksudnya ada sekolah
yang disiplin dan ketat dalam pengawasan ujian namun ada pula sekolah yang kurang disiplin dan longgar dalam
pengawasan ujian. Perbedaan perilaku pengawasan ujian ini sudah barang tentu berdampak secara signifikan terhadap
psikologi dan perilaku siswa yang nota bene sebagai peserta Unas; yang ujung-ujungnya berpengaruh pada tingkat
kelulusan.

Dalam skala daerah, konon ada daerah tertentu yang membentuk tim sukses guna membantu meluluskan siswa,
sementara banyak daerah yang berlaku apa adanya tanpa ada upaya untuk membantu meluluskan siswa de-ngan cara
yang ”aneh-aneh”.

Kalau tim sukses di tingkat sekolah kiranya telah menjadi rahasia umum; maksudnya masyarakat banyak yang tahu kalau
di berbagai sekolah dibentuk tim sukses yang bekerja secara negatif dalam menjalankan Unas. Sudah tentu banyak pula
sekolah yang sama sekali tidak memberlakukan tim sukses yang negatif tersebut.

Beda Papua dengan Jawa

Dalam hal itulah ketidakadilan terjadi; di daerah atau sekolah pertama, siswa lebih terbantu untuk lulus, sementara di
daerah yang kedua, siswa harus berjuang mati-matian untuk dapat meraih kelulusan. Terhadap siswa yang berjuang mati-
matian ini kita perlu memberikan rasa salut, meskipun di balik itu terselip pula rasa kasihan kepadanya.

Apa ada ketidakadilan lainnya berkenaan dengan pelaksanaan Unas di negara yang sudah merdeka lebih dari 60 tahun
ini? Masih banyak ketidakadilan kalau kita mau cermati; meski masalah keadilan dan ketidakadilan itu sangat interpretatif.
Secara akademik, sebagai ujian yang bersifat nasional seharusnya materi soal adalah sama untuk mata pelajaran yang
sama pada satuan pendidikan yang setara dan sejenis. Materi soal Bahasa Inggris di SMA harus sama baik untuk SMA
negeri maupun SMA swasta; baik untuk SMA di Pulau Jawa maupun SMA di luar Pulau Jawa, baik untuk SMA yang memiliki
sarana dan fasilitas belajar lengkap maupun SMA yang tidak lengkap. Kalaupun materi soalnya tidak sama, tetapi tingkat
kesulitan dan bobotnya harus sama. Itulah sebabnya materi tes yang tidak sama untuk kepentingan ini harus terlebih
dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya.

Penulis sering ke Papua dan daerah remote lain di Indonesia. Sekitar dua jam perjalanan darat dari Kota Mimika terdapat
SMA yang sarana dan fasilitas belajarnya tidak standar. Jangankan LCD Projector dan lap top atau note book; sedangkan
OHP saja tak memilikinya, belum lagi jaringan listrik tidak memadai, masih suka biarpet.

Nah, adilkah kalau SMA seperti ini siswanya diberi materi soal ujian yang sama dengan SMA di Yogyakarta atau di Jakarta
yang sarana dan fasilitas belajarnya serba lengkap? Dalam kasus tersebut secara akademis memang adil namun secara
sosial menjadi sangat tidak adil. Memang keadilan itu relatif namun jelas sekali bahwa dalam Unas pun bisa terkandung
ketidakadilan.

Kasihanilah Mendiknas

Meskipun bukan berlatar belakang akademik pendidikan murni namun banyak orang menyatakan bahwa Bambang
Sudibyo selaku menteri pendidikan secara serius ingin meningkatkan mutu pendidikan nasional. Dibentuknya Tim
Independen dari perguruan tinggi, Tim Pemantau, Tim Pengawas, dsb, untuk menjalankan Unas dengan tertib (dan adil)
merupakan langkah Mendiknas yang perlu diapresiasi. Ini merupakan upaya keras Bambang selaku Mendiknas untuk
meningkatkan kualitas pendidikan nasional melalui mekanisme Unas.

Sayang, upaya keras Mendiknas tersebut seringkali tidak diimbangi dengan penuh kesungguhan oleh banyak orang di
lapangan alias sekolah; termasuk oknum guru, kepala sekolah dan bahkan petugas dinas pendidikan di berbagai tempat.
Dibentuknya tim sukses yang bekerja secara negatif dan tidak sehat dalam menjalankan Unas, misalnya mengerjakan
materi soal ujian dan mendistribusikannya pada saat yang tidak tepat, merupakan bukti nyata tentang ketidaksungguhan
dalam mengimbangi upaya keras menteri pendidikan nasional.

Demi peningkatan mutu pendidikan nasional maka Mendiknas harus bertindak tegas; kalau ada guru dan kepala sekolah
yang terbukti melakukan kesalahan dalam Unas maka harus dikenai sanksi yang terukur. Pak Bam-bang harus berani
“membersihkan” oknum guru dan kepala sekolah yang bermain curang dalam pelaksanaan Unas.

Oleh: Ki Supriyoko, Pamong Tamansiswa, mantan anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), serta
doktor di bidang penelitian dan evaluasi pendidikan.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0804/23/opi01.html

You are here: Esai Esai Pendidikan Menuntut Keadilan Ujian Nasional