duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Menakar Kejujuran Ujian Nasional

E-mail Print PDF
( 18 Votes )
User Rating: / 18
PoorBest 

Perasaan plong disertai harap-harap cemas terpancar dari setiap wajah siswa usai menyelesaikan rangkaian ujian
nasional (UN). Kelegaan sesaat setelah beberapa hari berkutat dengan soal-soal ujian. Perasaan harap-harap cemas
muncul karena status kelulusan yang masih mengambang. Lulus atau tidak?

Tulisan ini selesai disusun setelah UN tingkat sekolah menengah (SMP dan SMA) telah usai. Pengalaman dan pelajaran
berharga diperoleh selama penyelenggaraan UN.

Ternyata UN mempunyai efek luar biasa bagi siapa saja yang bersangkutan. Ada yang menyambutnya dengan biasa saja
ada juga yang menghadapinya dengan resah. Bagi yang menghadapinya dengan resah UN menjadi sangat menakutkan.
Mulai dari siswa, kepala sekolah, guru mata pelajaran yang diujikan, orang tua dan bahkan pengelola pendidikan dalam
hal ini dinas pendidikan kabupaten/ kota.

Mereka secara berjamaah takut UN. Siswa takut tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Orang tua
takut gagal mendidik anak sehingga menjadi aib keluarga. Kepala sekolah dan guru mata pelajaran takut reputasi mereka
jeblok karena banyak siswanya tidak lulus. Tak terkecuali dinas pendidikan turut takut karena mutu pendidikan menjadi
rendah sehingga berpengaruh pada turunnya gengsi pendidikan di daerah.


Strategi antitakut

Apakah benar UN menjadi momok yang menakutkan? Kenapa harus takut pada UN? Kenapa harus takut pada UN jika
setiap siswa telah menyiapkan diri dengan matang dan terencana sejak awal. Kenapa harus was-was jika para orang tua
selalu mendampingi anaknya untuk belajar sungguh-sungguh sejak tahun ajaran baru. Kenapa harus deg-degan jika
para kepala sekolah dan guru mata pelajaran telah menyajikan/ menyampaikan materi dan bahan ajar yang sesuai dan
berkualitas.

Ketakutan pada UN lebih diakibatkan karena yang bersangkutan kurang mengantisipasi sejak dini. Hasilnya saat akan
diselenggarakan UN semuanya seakan terkejut dan terkesan mendadak. Karena itu perlu strategi untuk menyongsongnya
sejak awal tahun ajaran baru. Pertama, menyadarkan siswa untuk sadar belajar jangan malah sering dibiarkan keluyuran.
Kalau perlu diadakan program “karantina” untuk bidang studi yang diujikan. Kedua, memberdayakan peran orang tua
untuk mengawasi dalam pengajaran informal di rumah. Ketiga, bersikap apa adanya dan tidak berlebihan dalam
menghadapi UN secara fair.

Dengan beberapa strategi tersebut ketakutan menghadapi UN akan terkikis. Sehingga dengan sendirinya akan
menghilangkan tindakan untuk “saling melindungi”. Jangan sampai ada kepala sekolah dan guru mata pelajaran
melindungi anak didiknya dengan membocorkan dan membenarkan jawaban. Jangan sampai terjadi orang tua “membeli”
soal. Dan jangan sampai ada lagi siswa melakukan perbuatan tercela yang akan merugikan diri sendiri dan
almamaternya.


Takaran kejujuran

Ujian nasional adalah investasi yang mahal. Alur panjang mulai dari penyusunan soal, pencetakan soal, pendistribusian
soal, penilaian sampai kepada supervisi memerlukan biaya besar. Di satu sisi UN juga telah bergeser fungsinya dari
sekedar ujian untuk mengukur prestasi menjadi ujian untuk mengukur kejujuran. Baik untuk siswa, kepala sekolah, guru,
orang tua dan dinas pendidikan.

Jujur adalah bibit unggul. Percuma baik tetapi tidak unggul. Ibarat padi, dia bisa dipanen dan dikonsumsi, tetapi kalau
tidak unggul dia hanya mandeg sampai dikonsumsi saja.. Tetapi kalau unggul dia masih bisa dijadikan bibit lagi untuk
menghasilkan butiran-butiran padi yang lain. Karenanya jangan gadaikan UN dengan sikap tidak jujur. Nilai kejujuran bisa
dinilai dari pemahaman pada setiap diri yang tersangkut dalam UN. Apakah pendidik sudah mengajar dengan baik?
Apakah bahan yang diajarkan telah memenuhi standar dan berkualitas? Apakah sarana dan prasarana sekolah telah
dimanfaatkan dengan maksimal? Apakah siswa telah belajar dengan sungguh-sungguh, memahami materi dan mampu
mengerjakan soal dengan baik?

Jika semua pihak bisa introspeksi diri dengan usaha yang telah dilakukan maka itulah takaran yang sesungguhnya. Hasil
UN yang dicapai menunjukkan sejauh mana pihak yang terkait telah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara
benar. Kini UN bisa dijadikan tolok ukur kejujuran suatu bangsa. Bangsa yang jujur akan menghasilkan masyarakat yang
jujur. Masyarakat yang jujur akan menghasilkan pemimpin yang jujur yang tentu dipilih oleh rakyat yang jujur.


Konsekuensi kejujuran

Jujur mempunyai konsekuensi yang berat. Jujur mengakui ketidakulusan lebih baik daripada meluluskan dengan cara
yang curang. Apapun hasil dari UN adalah usaha maksimal yang telah dilakukan. Kalaupun belum berhasil dengan
maksimal bukan berarti patut disesali. Justru karena itu patut dievaluasi dan diperbaiki.

Kalau dalam UN terdapat kebohongan hal itu justru akan menjadi boomerang. Kualitas pendidikan dan lulusan akan
menjadi taruhan. Karena hasil itu adalah semu dan rekayasa.

Pemerintah tentu mempunyai kebijakan untuk lebih memperhatikan daerah yang tingkat kelulusan masih rendah. Baik
berupa bantuan khusus tentang sarana-prasarana, peningkatan kompetensi sumber daya pendidik, fasilitasi pendidikan,
kucuran blockgrant, hibah dan berbagai program dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Dengan berbagai program
tersebut diharapkan tingkat kelulusan di masa mendatang akan meningkat. Dan otomatis mutu pendidikan juga akan
terangkat.

Akhirnya, jangan kotori prestasi dengan sikap tidak jujur. Jangan cemari pendidikan Indonesia dengan sikap tidak jujur.
Kejujuran adalah investasi yang mahal untuk mencetak bangsa yang bermartabat. Sedikit saja dimasuki “kotoran” maka
kualitasnya akan tercemar. Kejujuran perlu dijaga kemurnian dan dilestarikan selamanya.

Semoga tulisan ini menyadarkan kita semua untuk menempatkan kejujuran dimana saja dan kapan saja. Baik diawasi
ataupun tidak kita harus bisa bersikap jujur pada diri kita. Ujian nasional hanya media untuk mengukur sampai sejauh
mana kita telah menempatkan kejujuran. Lebih dari itu jiwa dan sikap kita yang akan menunjukkan kualitas kejujuran.
Sudahkah kita jujur?**


Oleh : Chakim Musthofa, Tim Pemantau Independen UN dan Librarian LPMP Prov. Kalbar

Sumber: http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=158036

You are here: Esai Esai Pendidikan Menakar Kejujuran Ujian Nasional