duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Ujian Nasional & Pendidikan Holistik

E-mail Print PDF
( 6 Votes )
User Rating: / 6
PoorBest 

Mencermati penjelasan Ade Irawan, Koordinator Bidang Monitoring dan Pelayanan Umum Indonesia Corruption Watch
(ICW) di sebuah harian di Makassar tentang kebocoran soal ujian nasional dan tulisan Budhi A M Syachrum, S.Pd tentang
model-model kecurangan yang dapat dilakukan oleh guru yang ingin membantu siswanya, maka ujian nasional telah
menjadi kekuatiran bagi banyak pihak, baik pihak penguji, pihak yang diuji maupun pihak penyelenggara pendidikan.

Pihak penguji, dalam hal ini Badan Standar Nasional Pendidikan mengkuatirkan terjadinya kebocoran soal-soal ujian.
Oleh sebab itu mereka melakukan pengawalan ekstra ketat terhadap soal-soal ujian hingga melibatkan pihak kepolisian
lebih besar lagi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Selanjutnya pihak yang diuji, dalam hal ini para siswa, kuatir tidak dapat lulus ujian. Oleh sebab itu mereka berusaha
mendapatkan bocoran soal-soal ujian, dengan tujuan agar dapat lulus ujian. Sedangkan dari pihak penyelenggara
pendidikan, dalam hal ini pihak yayasan, kepala sekolah atau guru, demi mempertahankan atau meningkatkan prestise
lembaganya, mereka rela berbuat curang.

Berbagai macam cara ditempuh oleh para penyelenggara pendidikan agar tingkat kelulusan bisa mencapai 100 persen.
Sebab sudah tertanam dalam benak publik bahwa sekolah yang berhasil mencapai kelulusan 100 persen adalah sekolah
yang terbaik dan akan diminati oleh masyarakat.

Namun jika memperhatikan tulisan Budhi AM Syachrum, maka betapapun ketatnya pengawalan yang dilakukan akan
sia-sia saja. Sebab menurutnya, kecurangan itu bukan saja terjadi pada saat pendistribusian soal, tetapi dapat terjadi
pada saat ujian nasional tersebut berlangsung.

Masalah mau berbuat curang atau tidak, semua itu memang bergantung pada hati nurani masing-masing. Memang hati
nurani dapat berfungsi mengarahkan seseorang pada jalan yang benar. Masalah apakah mereka mau berbuat curang
atau tidak itu tergantung dari keputusan yang diambil, apakah mereka mau menuruti suara hati nurani atau tidak.

Hati Nurani

Dan kenyataanya, suara hati nurani tidak selamanya dapat diandalkan, sebab hati nurani bisa menjadi "tumpul" atau tidak
lagi menyarakan kebenaran, ketika manusia secara sadar dan terus-menerus menolak suara hati nurani. Juga
kecurangan tidak dapat dihentikan hanya melalui himbauan-himbauan saja. Diperlukan suatu sistem agar kecurangan itu
tidak terjadi lagi dan mutu pendidikan tetap dapat ditingkatkan sesuai dengan ukuran yang diharapkan.

Untuk itu, melalui tulisan ini penulis ingin mengusulkan untuk kembali pada apa yang pernah dikembangkan pada tahun
2004, melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi yang menerapkan model "Pendidikan Holistik Berbasis Karakter". Model
pendidikan holistik adalah pendidikan yang secara eksplisit ditujukan untuk mengembangkan seluruh aspek manusia,
yaitu aspek akademik (kognitif), emosi, sosial, spiritual, motorik dan kreativitas.

Dalam model pendidikan seperti ini, pendidikan benar-benar ditujukan untuk memanusiakan manusia, sebab seorang
siswa diperhatikan sebagai pribadi yang utuh. Model pendidikan holistik ini sudah menjadi acuan di banyak negara maju
dan dianggap cocok untuk menjawab tantangan zaman di abad 21 ini.


Untuk merealisasikan model pendidikan ini, dibutuhkan perubahan paradigma dalam pendidikan karena sangat
diperlukan metode dan strategi yang berbeda. Selain metode dan strategi pembelajaran yang berbeda, sistem penilaian
juga harus berbeda. Penilaian untuk penentuan kelulusanpun harus diberikan dengan pertimbangan secara holistik.

Menurut hemat penulis, penentuan kelulusan melalui ujian nasional merupakan penilaian yang tidak adil, karena siswa
hanya diuji pada aspek kognitif saja dan bersifat temporer tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi siswa pada saat
mengikuti ujian. Sedangkan aspek lain yang juga penting tidak diberikan penilaian.

Sembilan Kecerdasan

Menurut Howard Gardner, pencetus Multiple Inteligensia, aspek kognitif itu hanya sebagian kecil dari aspek-aspek yang
lain yang tidak kalah pentingnya untuk dikembangkan. Dalam bukunya yang berjudul Frame of Mind, Gardner menyebutkan
ada sembilan kecerdasan yang dapat dikembangkan, yaitu, kecerdasan liguistik yaitu murid yang memiliki kecenderungan
pada kecerdasan ini suka membaca, menulis, bercerita, bermain kata dan menjelaskan. Biasanya mereka berhasil dalam
bidang pemberitaan, jurnalistik, berpidato, debat, percakapan dan lain-lain.

Ada pula yang disebut kecerdasan logis atau matematis yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini
suka bereksperimen, bertanya, memecahkan teka-teki dan berhitung. Biasanya mereka berhasil dalam bidang
matematika, akutansi, program komputer, perbankan dan lain-lain.


Sementara, kecerdasan spatial atau visual yaitu murid yang memiliki kecenderungan kecerdasan ini senang mendisain,
menggambar, membuat sketsa, menvisualisasikan. Bidang yang dapat mereka kuasai dengan baik antara lain membuat
peta, fotografi, melukis, desain rencang bangun dan lain- lain.

Sedangkan kecerdasan body atau kenestetik yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini suka menari,
berlari, membangun, menyentuh, bergerak dan kegiatan fisik lainnya. Biasanya mereka akan cemerlang dalam olah raga,
seni tari, seni pahat, dan sebagainya.

Kecerdasan Musical adalah murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini gemar menyanyi, bersiul,
bersenandung, menghentak-hentakkan kaki atau tangan, mendengar bunyi-bunyian. Murid yang mempunyai
kecenderungan ini akan sukses dalam bernyanyi, menggubah lagu, memainkan alat musik dan lain-lain.

Ada juga yang disebut kecerdasan interpersonal yaitu murid yang memiliki cenderung pada kecerdasan ini suka
memimpin, mengatur, menghubungkan, bekerja sama, berpesta dll. Pada umumnya mereka berhasil dalam pekerjaan
guru, pekerja sosial, pemimpin kelompok, organisasi, politik.

Ada pula yang dikenal dengan sebutan kecerdasan intrapersonal yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada
kecerdasan ini suka mengkhayal, berdiam diri, merencanakan, menetapkan tujuan, refleksi. Biasanya mereka cemerlang
dalam filsafat, menulis penelitian dan sebagainya.

Sedangkan, kecerdasan natural yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini senang berjalan,
berkemah, berhubungan dengan alam terbuka, tumbuh-tumbuhan, hewan. Bidang yang dapat mereka kuasai dengan baik
adalah botani, lingkungan hidup, kedokteran dan lain-lain.

Dikenal pula sebutan kecerdasaneEksistensialis yaitu murid yang memiliki kecenderungan kecerdasan ini biasanya suka
berfilsafat, suka agama, kebudayaan dan isu-isu sosial. Pada umumnya mereka berhasil dalam bidang keagamaan dan
psikologi.

Untuk itu, sekolah harus memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk bertumbuh dan berkembang sesuai dengan
kecerdasan yang dimilikinya. Sekolah juga berkewajiban memberikan penilaian secara jujur dan proporsonal terhadap
perkembangan setiap aspek siswa agar tingkat perkembangannya dapat diukur dan diarahkan. Sistem pendidikan holistik
yang mengembangkan setiap potensi siswa akan membuat membuat proses belajar mengajar menjadi sangat
menyenangkan (learning is fun).

Mengacu ke AS
Sebenarnya sistem pendidikan di Indonesia ini mengacu kepada sistem yang dipakai di Amerika Serikat. Tetapi sistem ini
sudah ditinggalkan Amerika Serikat sejak sepuluh tahun yang lalu. Mereka justru telah lama menyadari bahwa sistem
pendidikan yang menekankan potensi IQ hanya mengakomodir 10 persen saja dari seluruh jumlah penduduknya,
sedangkan yang lainnya tidak mendapat kesempatan untuk berkembang.

Sudah saatnya pemerintah Indonesia meninggalkan sistem pendidikan yang sudah lama ditinggalkan oleh Amerika
Serikat tersebut. Terlebih lagi setelah diberlakukannya kurikulum tahun 2006 yang disebut KTSP atau Kurikulum Tingkat
Stuan Pendidikan.. Sebenarnya, KTSP ini merupakan revisi yang menyempurnakan kurikulum tahun 2004.

Dengan diterapkannya KTSP, maka terjadi pula perubahan dari sistem sentralisasi ke desentralisasi, dimana daerah,
dalam hal ini lembaga sekolah diberi kebebasan untuk mengembangkannya sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Dengan demikian, maka ujian nasional tidak sesuai dengan jiwa KTSP.

Mengubah Paradigma
Banyak penyelenggara pendidikan yang telah mulai mencari terobosan baru dengan mengubah paradigma, sistem
pembelajaran, setting kelas dan menyediakan fasilitas agar pengembangan siswa secara holistik itu dapat tercapai.

Namun semuanya itu masih terkendala di pihak birokrasi. Para kepala sekolah dan guru yang telah mendapat pelatihan
metode pembelajaran yang holistik tidak berani segera melakukan perubahan, karena para penilik sekolah dari dinas
pendidikan yang datang selalu menanyakan hal-hal yang sudah baku saja.

Karena itu, perubahan paradigma baru pendidikan harus dimulai dari pihak birokrasi. Selain itu, ujian nasional juga telah
menghacurkan karakter dasar (basic character) , yaitu kejujuran yang sangat dibutuhkan agar seseorang dapat hidup
bermasyarakat dan bernegara. Justru dengan adanya ujian nasional ini, karakter para pendidik dan peserta didik runtuh
demi mendapatkan sebuah prestise dan mempertahankan jabatan serta demi selembar ijazah.

Padahal berlaku pepatah dalam masyarakat bahwa kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Apa jadinya
dengan bangsa ini jika sejak dari bangku sekolah ini mereka sudah terbiasa berbuat curang ? Pemerintah dalam hal ini
Departemen Pendidikan Nasional perlu mengkaji ulang, apakah ujian nasional ini telah mencapai hasil yang diharapkan.

Banyaknya catatan mengenai kecurangan pada saat ujian nasional dan terpuruknya pendidikan di negeri ini kiranya
mengingatkan pemerintah untuk segera membenahi sistem pendidikan di negeri ini.

Oleh: M. Didi Darsono, M.A, Wakil Ketua Pelaksana Yayasan Pendidikan Gamaliel

Sumber: http://www.tribun-timur.com/view.php?id=76056&jenis=Opini

You are here: Esai Esai Pendidikan Ujian Nasional & Pendidikan Holistik