duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Asingisasi Perbankan Nasional, Menguntungkan?

E-mail Print PDF
( 5 Votes )
User Rating: / 5
PoorBest 

Belakangan ini,satu fenomena menarik yang terjadi adalah masuknya para investor asing ke kancah perbankan domestik.
Setelah masuk ke bank-bank rekap melalui strategic sales, kini giliran bank gurem yang diburu. Bank-bank kecil,yang
belakangan ini mendapatkan tekanan dari otoritas untuk segera meningkatkan permodalannya, satu demi satu mulai
diambil alih pihak asing.Simak saja misalnya,Bank Swadesi diambil alih oleh Bank of India,Bank Halim international
diambil oleh Industrial & Commercial Bank of China (ICBC), Bank ANK oleh Bank Commonwealth, Bank Indomonex oleh
State Bank of India.

Menyusul Bank Haga dan Hagakita oleh Rabobank International,Bank BNP oleh ACOM ltd & Bank of Tokyo- Mitsubishi-UFJ
Ltd. Sebelumnya, bank-bank rekap,seperti BCA,Danamon, BII,Bank Niaga,Bank Lippo,sudah diambil alih oleh manajemen
asing melalui strategic sales.Juga beberapa bank non-rekap,seperti Bank NIPS dan Bank Buana ikut diambil alih
bankbank asing.Pendek kata,hampir semua bank-bank papan atas di luar Bank BUMN kini sudah dimiliki oleh asing.
Inilah fenomena yang perlu dicermati bersama,di balik gebyar gemerlap kebangkitan perbankan domestik.

Pemain Asing Jika diselisik lebih mendalam, masuknya pemain (investor) asing (terlebih yang kredibel) ke dalam
bankbank rekap sebenarnya memiliki lebih banyak segi positifnya,ketimbang sisi negatif,di antaranya Pertama,dilihat dari
segi persepsi risiko, maka bank-bank yang sudah didivestasi dan kini mayoritas dimiliki asing akan memiliki keuntungan.
Dalam konteks ini,bank-bank itu akan dipandang memiliki risiko yang lebih kecil dengan manajemen (risiko) yang lebih
kuat.Perbankan asing selama ini sangat ekstrahati-hati di dalam mengelola bank dengan menggunakan manajemen
risiko yang lebih baik.Akibatnya,investor yang selama ini skeptis terhadap perbankan di Indonesia tidak akan lagi ragu
terhadap manajemen bank-bank tersebut. Tidak hanya itu tentunya,dengan masuknya institusi asing yang memiliki
peringkat yang lebih baik,maka bankbank yang sudah didivestasi akan memiliki ruang gerak lebih leluasa untuk
menurunkan bunga depositonya.Ini dimungkinkan setelah LPS membatasi penjaminan yang tinggal Rp100 juta.

Segi positif lainnya,premium risiko untuk aset-aset Indonesia yang lain bisa ikut terimbas menurun akibat masuknya
institusi asing ke bank-bank itu.Hal itu bisa mematahkan persepsi yang berkembang selama ini,yakni restrukturisasi
dunia perbankan Indonesia yang selama ini telah memakan biaya Rp650 triliun tidak berjalan dengan baik. Sisi positif lain
dari masuknya investor asing jelas sangat membantu bankbank yang bersangkutan berlaga di pasar internasional.Sebab,
apabila mereka ingin melebarkan sayap keluar negeri, mereka tidak membutuhkan biaya yang besar.Mereka bisa
melakukan aliansi strategis (strategic alliances) dengan mitranya sesama bank yang sudah mendunia (mengglobal) itu.
Karena itu, masuknya pemain asing ke bank-bank rekap setidaknya akan memacu bank ini untuk melakukan aliansi
strategis secara fungsional dalam hal operasional dan marketing.

Dengan aliansi strategis semacam ini,bank-bank itu tidak perlu membuka cabangnya di luar negeri. Beberapa bentuk
aliansi strategis semacam ini sudah jamak dilakukan di bidang industri minuman dan makanan.Aliansi strategis itu
dilakukan antara Aqua dengan Danone,antara Coca Cola dengan Ades, perusahaan komputer Hawlet Pakarge (HP)
dengan Canon,dan lain-lain.Tampaknya, wacana ini perlu diangkat ke permukaan karena sangat sayang apabila bank-
bank rekap yang sudah menguras kocek pemerintah demikian besar, ternyata tidak bisa berkembang dengan baik
sebagaimana mestinya. Karena itu,selain menggarap pasar domestik yang memang potensial,tampaknya pasar
mancanegara perlu mulai dilirik dan upaya penjajakan ke arah sana sudah selayaknya mulai dipikirkan sejak sekarang ini.

Masuknya pemain asing,sekali lagi jelas akan memacu percepatan perambahan bank-bank pasca-divestasi ke
mancanegara sehingga lingkup operasionalnya tidak lagi terbatas pada Indonesia saja.Lebih dari itu,apabila bank-bank
ini sudah beroperasi secara mendunia,bisnis nasabah yang sudah mendunia juga akan bisa digarap lebih lanjut.

Namun,untuk mencapainya,dibutuhkan SDM yang andal dan profesional. Masuknya investor asing tersebut setidaknya
akan mengubah pola dan sistem manajemen SDM.Nah,dengan pola dan sistem yang baru itu,si karyawan bank-bank ini
akan diposisikan untuk memahami seluk-beluk perdagangan dan transaksi pembayaran internasional serta transaksi
perbankan inkonvensional. Para investor asing setidaknya akan menyumbangkan peran yang sangat besar di dalam
mengembangkan SDM yang mengglobal.

Manajemen bank-bank pasca-divestasi tentunya harus mempersiapkan masalah ini sejak dini atau minimal terus
menggumuli ke depan.Karena itu,persiapan SDM layak diperlukan karena merupakan syarat mutlak untuk bersaing lebih
tajam lagi. Seleksi alam karyawan akan terjadi dengan sendirinya.Karyawan yang tidak memiliki kompetensi (kemampuan
teknis perbankan),tidak kredibel,dan tak cakap tentu (tidak lulus fit and proper test) bisa dipastikan akan tergusur dari
panggung persaingan.Karyawan yang hanya memikirkan haknya tanpa diimbangi dengan kualitas yang memadai,cepat
atau lambat akan tergusur.Bukan tidak mungkin,apabila era internet banking sudah benar-benar memasyarakat,
keberadaan karyawan bank sudah sedikit demi sedikit berkurang perannya.Nasabah akan sangat jarang menemui
karyawan bank dan lebih senang berhubungan dengan komputer atau mesin anjungan tunai mandiri (ATM).

Catatan Penutup Mau tidak mau,suka atau tidak suka, cepat atau lambat,globalisasi ekonomi akan kita hadapi bersama.
Untuk itu,para pemain bisnis,termasuk industri perbankan harus mulai memikirkannya.Bertaburannya investor asing ke
beberapa bank gurem belakangan ini dan bank rekap sebelumnya setidaknya akan menstimulasi bank-bank ini untuk
menjadi pionir di dalam memasuki pasar bebas ini. Jangan sampai,perbankan nasional justru menjadi tamu di
negaranya sendiri akibat kalah bersaing dengan bank milik asing,yang saat ini sudah terlihat gejala dominasinya.Sudah
saatnya perbankan nasional bangkit untuk ikut bersaing memperebutkan ’’kue”globalisasi ekonomi di berbagai belahan
dunia.

Sekaranglah saatnya persiapan itu dilakukan.Memperkuat semua ’’lini pertahanan”(operasional) dan ’’lini penyerangan”(
marketing) serta semua lini pendukung perlu dilakukan.Saatnya nanti perlu dilakukan proses ’’fit and proper test”dan
sertifikasi manajemen risiko bagi karyawan bank (bankir) yang ingin berkiprah di perbankan global.Manajemen bank-bank
lokal selayaknya mempersiapkan diri sejak dini, terutama untuk menghadapi liberalisasi ekonomi dan perdagangan yang
sekarang ini sudah ada di depan mata.Sebab, sangat sayang rasanya apabila semua upaya yang sudah dilakukan hanya
diperuntukkan mendukung bisnis lokal, yang lama kelamaan sudah kurang bisa diandalkan lagi karena tuntutan pasar
memang ke arah mancanegara,ke arah go international.Masuknya investor asing akan memacu semua itu.

(*) SUSIDARTO Praktisi perbankan di Yogyakarta

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini-sore/asingisasi-perbankan-nasional-menguntun-3.html

You are here: Esai Esai Manajemen Asingisasi Perbankan Nasional, Menguntungkan?