duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

CM dalam Renstrada DKI

E-mail Print PDF
( 0 Votes )
User Rating: / 0
PoorBest 

Dalam koran kita, SINDO, pernah ada judul berita, Janji Fauzi Masuk Renstrada (10/8). Berita itu juga banyak mengutip
pernyataan Sutiyoso yang waktu itu masih sebagai Gubernur DKI.

Termasuk di situ saran Sutiyoso agar menjadikan “persoalan paling krusial seperti banjir dan transportasi harus menjadi
prioritas 100 hari pertama Fauzi-Prijanto”.Apa yang telah menjadi janji kampanye Bang Fauzi juga sejalan dengan pesan
Pak Mendagri ketika melantiknya pada Minggu, 7 Oktober 2007. Kata kawan-kawan wartawan, seusai pelantikan, gubernur
baru itu menyambut baik semua saran Mendagri.

Pada Rabu, 8 Agustus 2007, setelah yakin menang dalam Pilkada DKI waktu itu, salah satu pernyataan Bang Fauzi adalah
materi kampanyenya akan menjadi renstra (rencana strategi) lima tahun dan menjadi Perda DKI.Tambah lagi, Fauzi-
Prijanto akan berkeliling ke tengah masyarakat untuk sosialisasi visi dan misi kampanye mereka.

Renstra yang Biasa

Renstra yang kita pahami dan pakai selama ini biasanya menggunakan analisis SWOT (strengths, weaknesses,
opportunities, threats). Biasanya analisis model ini untuk pergerakan organisasi atau instansi yang linier,business as
usual.Artinya, tidak ada sesuatu yang luar biasa. Tidak ada yang harus diambil langkah dengan keluarbiasaan.Tidak perlu
out of the box.

Dapat dijamin, ketika pengelolaan DKI dengan cara yang biasa, hasilnya juga akan biasa, yakni tidak akan mengubah atau
memperbaiki kondisi yang ada: banjir, jalan macet, kotor, kumuh, banyak rakyat miskin, dan sejenisnya, seperti yang
sering dikeluhkan banyak orang. Apalagi hasil biasa? Dana terbatas, pemekaran jalan dan saluran sulit karena rakyat
terlalu mahal menjual tanahnya.

PKL merupakan hak mereka yang memang kemampuan berdagangnya seperti itu sehingga tidak dapat dipindahkan atau
direlokasi. Penduduk terlalu banyak, sehingga terlalu mahal untuk menggratiskan pendidikan dan kemiskinan akan selalu
membubung, dan seterusnya. Sistem remunerasi pegawai DKI akan biasa pula. Gaji naik secara berkala dan akan habis
ditelan inflasi.

Dan meski sudah ada tambahan gaji, namun tetap saja banyak keluhan. Tuntutan kedisiplinan kerja dan standar kinerja
tidak perlu terlalu ketat karena belum ada keseimbangan imbalan. Reward and punishment belum jalan. “Stick and carrot”
juga belum bisa diwujudkan. Itu hasil yang biasa dari tindakan yang biasa, business as usual. Bahkan mungkin akan
lebih jelek lagi. Jika biasa-biasa saja, dijamin hasilnya bukan akan biasa, namun akan menurun. Seandainya hasilnya
biasa, sedangkan persoalan yang ada di DKI sudah dianggap luar biasa, berarti belum akan terselesaikan.

Tidak imbang antara permasalahan yang selalu muncul dengan cepatnya manajemen biasa yang otomatis akan terlalu
lamban sehingga hasilnya akan semakin buruk. Dan tentu, semakin ke depan akan semakin sulit. Itu normatif.

Berpikir Solusi Jangka Panjang

Kita sering menemukan kasus yang solusinya hanya jangka pendek. Berpikir hari ini,secara ad hoc,tidak mau tahu akibat
jangka panjang, bahkan, tidak sedikit yang egois. Penebangan hutan akan menguntungkan segelintir orang, namun
menjadi malapetaka orang banyak di kemudian hari. Pendirian bangunan tanpa memikirkan ekosistem jangka panjang
akan merusak lingkungan kota.

Bermunculannya mal dan plaza tanpa mempertimbangkan akibat jangka panjangnya juga akan meminggirkan pedagang
tradisional. Mengejar perolehan ijazah resmi dalam pendidikan tanpa memikirkan hasil dan prestasi keilmuan dan
keterampilan yang dapat diperoleh untuk kehidupan masa depan, bukan sebuah kesuksesan. Bebasnya kehadiran
kendaraan bermotor tanpa mempertimbangkan kemampuan ruas jalan untuk menampungnya, jelas akan berakibat buruk.

Penyediaan saluran (sungai dan got) yang ala kadarnya sehingga tidak mampu menjadi aliran air ketika hujan,belum
berpikir problem solving yang berarti belum bisa menjadi solusi, dan seterusnya. Gubernur baru hendaknya sanggup
(mau dan mampu) menyusun daftar kelemahan- kelemahan dan persoalan besar dan serius di DKI. Banjir dan
kemacetan lalu lintas merupakan contoh yang paling serius dan sering menjadi buah bibir orang banyak.Permasalahan
besar itu yang harus ditarget penyelesaiannya. Jadi harus menggunakan cara ”luar biasa”: target penyelesaian dan target
pencapaian.

Target artinya tidak sekadar tertulis di dalam daftar kolom diagram program dan dipampangkan di papan pengumuman,
namun target di sini harus benarbenar tercapai dan berhasil.Kalau sudah demikian,berarti Pemerintah DKI sudah tahu
betul terhadap kondisi yang ada. Ibarat dokter, sudah mengetahui diagnosisnya, tinggal memilih terapinya. Ibarat perang,
sudah tahu sasaran dan kelemahan musuh sehingga akan dengan mudah melawan dan mengalahkan lawan.Tahu
kelemahan-kelemahan yang dimiliki dan tahu pula solusinya serta ada kemauan serius untuk memperbaikinya. Karena
itu, harus disusun prosedur untuk mencapai target tersebut.

Sedikit Menilik Change Management

Melihat kondisi permasalahan yang dihadapi di DKI, menurut hemat saya tidak akan bisa berhasil kalau sekadar
menggunakan administrasi birokrasi yang biasa-biasa saja. Harus mempunyai tekad dan komitmen untuk melakukan
perubahan signifikan dan mendasar. Artinya, perubahan yang benarbenar harus diwujudkan dan dipraktikkan. Perubahan
yang bukan hanya tertulis dalam papan pengumuman atau dalam buku catatan, namun harus dapat dibuktikan dalam
praktek.

Untuk bisa ke sini, harus ada perubahan mind-setting. Anggaplah kemauan serius dan tulus Fauzi-Prijanto itu merupakan
komitmen yang serius dan kita tinggal melihat buktinya. Ini berarti sudah dimulai perubahan mendasar, sebagai
perubahan mind-setting. Jika komitmen itu tidak terbukti dan tidak pula dipraktikkan sebagai role model (uswah), berarti
perubahan mind-setting belum terwujud, yang berarti pula gagal dalam tahap yang paling awal untuk melakukan
perubahan.

Permasalahan yang ada di DKI tergolong masalah spektakuler sehingga harus dilakukan cara-cara pemecahan yang
spektakuler pula. Untuk itu, perlu change management (CM) dalam tata kelola birokrasi pemerintahan DKI. Perlu
pemikiran dan gerakan out of the box dalam menjalankan roda pemerintahan. Jika DKI berhasil, akan dengan mudah
menuntut daerah lain untuk sukses, karena permasalahannya tidak akan sebanyak dan sebesar di DKI. Caranya
bagaimana? Jawabannya tidak ada hanya satu cara.Tidak ada satusatunya cara yang bisa diterapkan oleh siapa saja dan
di daerah mana saja.

Akan tetapi harus disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang sedang dihadapi. Sementara tujuan akhir bisa
sama, yakni sama-sama untuk kesejahteraan rakyat. Proses untuk mencapai kesejahteraan rakyat yang sebenarnya itulah
yang harus dilakukan dengan serius, tepat, dan sesuai tujuan. Sebagai tambahan,perlu menggunakan manajemen
perubahan. Jika manajemen biasa tidak akan mampu menyelesaikannya. Dalam menjalankan CM, peran pimpinan,
dalam hal ini Fauzi-Prijanto, besar sekali. Memang harus diawali dari sini. Tanpa diawali dan dimulai dari pimpinan
utamanya, tidak mungkin CM bisa berjalan dengan baik.

Pemimpin dalam CM

Di bawah ini hanya sedikit tips bagi pemimpin yang akan melakukan CM. Tentu harus pula disesuaikan dengan kondisi
dan jenis serta ukuran permasalahan yang dihadapinya. (a) Komitmen, yakni serius mau melakukan perubahan, bukan
sekadar retorika politik.(b) Bisa menjadi contoh (role model/uswah) dalam perubahan yang berarti harus diawali dari
dirinya sendiri (ibda’ binafsik). (c) Memiliki visi dan misi perubahan. Visi dan misi yang serius ibarat ideologi yang harus
mereka wujudkan, bukan sekadar basa-basi, bukan sekadar lip service, bukan sekadar ikut-ikutan, bukan sekadar untuk
mencari atau menarik simpati masyarakat, bukan sekadar untuk bergaya, dan sejenisnya. (d) Memahami dan menghayati
konsep dan strategi.

Harus memahami betul apa, bagaimana,ke mana,di mana,dan untuk apa/target ke depan yang kemudian diwujudkan
dalam setiap aktivitas pimpinan. Dengan demikian, setiap gerak langkahnya akan selalu ada benang merah yang
menghubungkan satu sama lain.Tidak saling bertentangan.Tidak saling simpang siur.Menyatu untuk menuju kesuksesan
visi dan misi tadi dengan pemahaman dan penghayatan mendalam. (e) Mau mengawal. Pak Fauzi-Prijanto harus mau
dan seharusnya mengawal visi, misi, dan program perubahan/ perbaikan ke depan.

Tidak cukup hanya “yang penting sudah menjadi restrada”. Tidak cukup “yang penting telah menjadi perda”.Tidak cukup
“yang penting sudah masuk berita di koran dan televisi”. Namun harus mengawal dengan ketat. Itu semua dapat
diwujudkan dalam sistem pengawasan,baik built-in control, termasuk work-in-progress controlling, pengawasan
fungsional, mencakup pula pengawalan dalam quality control dan quality assurance dalam menjalankan program untuk
mencapai visi dan misi tadi.

Nah, itu semua tidak akan mungkin dapat terwujud jika pimpinan, dalam hal ini Fauzi-Prijanto,tidak secara terlibat dan
melakukan perubahan mind-setting terlebih dulu serta mampu menjadi role model. Ini tantangan berat, namun ada
jaminan keberhasilan. Controling dari pimpinan seperti ini biasanya sangat lemah, yang kemudian berakibat tidak atau
kurang berhasil. Melakukan perubahan, reformasi, atau nama lainnya, tidak perlu menunggu bertahun-tahun ketika
komitmen sudah ditancapkan.Tentu,perlu ingat lima hal di atas yang merupakan elemen minimal untuk bisa melakukan
CM. Selamat sukses Pak Fauzi-Prijanto, semoga amal Anda berdua akan dicatat di dunia oleh anak cucu dan cicit kita,
serta akan menjadi amal akhirat kelak.

(*) Prof. A Qodri Azizy Ph.D Penulis buku Change Management dalam Reformasi Birokrasi

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/cm-dalam-renstrada-dki.html

You are here: Esai Esai Manajemen CM dalam Renstrada DKI