duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Perubahan Iklim Global

E-mail Print PDF
( 16 Votes )
User Rating: / 16
PoorBest 

Adakah hubungan antara banjir besar di Jakarta dan perubahan iklim global? Jika ada, apa implikasinya terhadapĀ 
bencana ekologi dan manajemen sumber daya air kita?

Banjir dan kekeringan (kelangkaan air) pada dasarnya terkait dengan kemampuan alam dan manusia mengelola
ketersediaan air di Bumi. Banjir terjadi karena jumlah air hujan yang turun di daratan dalam intensitas berlebihan pada
saat alam tidak mampu menampung. Sementara itu, kekeringan terjadi karena jumlah hujan yang turun tidak mencukupi
kebutuhan kehidupan.

Ketersediaan air yang kian terbatas akan meningkatkan kompetisi untuk mendapatkan dan tidak jarang menimbulkan
konflik dalam pemanfaatan. Kompetisi untuk mendapatkan/memanfaatkan sumber daya air (SDA) ini terjadi karena faktor
kelangkaan akibat peningkatan kebutuhan, bersamaan terjadinya gangguan terhadap siklus hidrologi akibat perubahan
iklim global (PIG) serta perubahan tata guna lahan pada daerah tangkapan air dan daerah aliran sungainya.

PIG dan bencana ekologi

The Intergovernmental Panel on Climate Change dalam pertemuannya di Paris akhir Januari 2007 mengungkapkan
bukti-bukti terbaru terkait dengan masalah PIG serta dampaknya terhadap kehidupan. PIG yang bersifat ekstrem dipicu
pemanasan global akibat kian tingginya emisi gas rumah kaca dari hasil pembakaran bahan bakar fosil yang kian tinggi.
Hal ini menyebabkan peningkatan suhu permukaan Bumi dan air laut secara signifikan.

Peningkatan suhu secara global menyebabkan terjadinya percepatan pelelehan lapisan es di Kutub Utara dan Kutub
Selatan sekaligus terjadinya pencairan dan penipisan lapisan gunung-gunung es di dunia. Hasil monitoring World Glacier
Monitoring Service yang bermarkas di Zurich, Swiss, pada 2005, menunjukkan, terjadinya penipisan lapisan es yang amat
mengkhawatirkan sekali dengan tingkat penipisan rata-rata 66 sentimeter dalam 10 tahun terakhir. Data ini amat
mengerikan jika dibandingkan data tahun 1980 yang hanya 10,6 sentimeter.

Kemarau panjang yang disebabkan fenomena El Nino yang memengaruhi siklus hidrologi lokal dan regional akan
menyebabkan kian kritisnya ketersediaan air untuk menopang kebutuhan 6,5 miliar penduduk Bumi saat ini. Selain itu, PIG
juga dapat menyebabkan intensitas dan frekuensi badai tropis yang kian tinggi yang akan mengubah pola pada siklus
hidrologi. Intensitas curah hujan yang amat ekstrem dalam waktu lama akan menjadi penyebab banjir besar dan longsor
di banyak tempat.

Potensi banjir di Jakarta

Gangguan terhadap siklus hidrologi yang berdampak terhadap musim hujan dan kemarau akan berdampak serius
terhadap manajemen ketersediaan air bagi kota metropolitan Jakarta.

Dampak lain yang juga serius adalah meningkatnya tinggi muka air laut yang terjadi hampir bersamaan dengan
penurunan permukaan tanah (land subsidence) yang diakibatkan penurunan muka air tanah karena eksploitasi air tanah
yang berlebihan di Ibu Kota. Keadaan ini akan menyebabkan sebagian wilayah kota yang selama ini relatif aman dari
ancaman banjir akan menjadi daerah potensi banjir baru.

Jika eksploitasi air tanah terus berlangsung, terutama akibat terbatasnya suplai air bersih perpipaan dan kian tingginya
tarif air bersih perpipaan, penurunan muka tanah dan intrusi air laut kian sulit dicegah dan dikendalikan. Kondisi ini akan
menyebabkan kerusakan lingkungan di kota Jakarta kian parah dan membutuhkan biaya besar untuk dapat
memulihkannya.

Solusi terpadu

PIG bersamaan dengan buruknya sanitasi lingkungan dapat memicu penyebaran wabah penyakit menular yang
membahayakan. Penyakit-penyakit baru (emerging deseases) yang disebabkan bakteri patogen dan virus kian
mengancam kehidupan manusia dewasa ini.

Flu burung dan leptospirosis yang mematikan, DBD, diare, muntaber, dan tifus adalah bentuk wabah penyakit yang
sepenuhnya disebabkan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk dan manajemen SDA (banjir dan kekeringan).

Bayangan menakutkan yang terkait bencana ekologi itu tidak kita harapkan. Untuk itu, diperlukan keseriusan bersama
untuk segera melakukan pembenahan, terkoordinasi dan secara terpadu. Inovasi pengembangan teknologi yang mampu
memecahkan masalah secara simultan yang tidak terkendala oleh masalah seperti pembebasan lahan merupakan salah
satu pilihan yang harus dilakukan untuk menyelamatkan masa depan kita bersama.

Untuk itu, perlu dikembangkan teknologi pemanfaatan air hujan yang terintegrasi dalam model pengendalian banjir dan
penanganan limbah cair.

Inovasi konsep pengelolaan SDA masa depan yang terintegrasi satu dengan yang lain akan menjadi satu-satunya pilihan
bagi metropolitan Jakarta.

Oleh: Firdaus Ali Anggota Badan Regulator PAM DKI Jakarta; Anggota Dewan Pengarah Kemitraan Air Indonesia; Pengajar
dan Peneliti PS Teknik Lingkungan FTUI

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0703/01/opini/3343145.htm

You are here: Esai Esai Lingkungan Perubahan Iklim Global