duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Hidup yang Erotik (* Merevitalisasi Kehidupan Modern dengan Semangat Purba)

E-mail Print PDF
( 3 Votes )
User Rating: / 3
PoorBest 

EROS, erotik, erotisme. Tiga kata ini akarnya sama. Suasananya juga sama: gelora semangat purba yang atraktif dan
menggoda. Menjijikkan bagi kaum saleh tapi menggairahkan bagi orang kebanyakan, kotor bagi para pemeluk teguh tapi
merangsang bagi warga abangan, najis bagi umat alim tetapi tonikum vital bagi mereka yang letih lesu dan berbeban
berat.

Kata Gafni, eros adalah energi vital yang suci. Eros dan spiritualitas ternyata berkaitan erat secara mendalam. Tegasnya,
yang erotik dan yang kudus sebenarnya serupa dan sama. Maka, hidup yang erotik adalah hidup yang sakral. Bahkan,
tanpa eros kesucian kita cuma ecek-ecek, tidak jenuin dari jiwa yang terdalam. Tanpa eros, kesalehan kita pura-pura saja,
tidak meresap sampai ke batin. Tanpa eros, tatanan etika kita di semua tingkat: personal-interpersonal, profesional-
organisasional, dan sosio-politikal cuma topeng-topeng saja, membebani dan mematikan gairah. Dan kita tahu, tatanan
semacam ini akhirnya akan runtuh dari dalam meskipun dari luar terlihat masih utuh.

Hidup tanpa eros sepi dan kosong, yang ditandai dengan rasa resah melelahkan dan rasa bosan menekan. Tekanan ini
berasal dari sebuah ruang hampa di hati manusia. Itulah hati yang sunyi-senyap dari gempita eros, yang hampa-kosong
dari desah nafas eros. Lalu, untuk menghindari tekanan itu, orang lari ke berbagai kesibukan. Tapi sebenarnya kesibukan
itu cuma sebuah laku penghindaran, avoidance�a-void-dance, sebuah tarian di sekitar kehampaan. Meski terlihat sibuk,
sesungguhnya aktivitas non-erotik itu adalah sebuah tarian hampa, banal tanpa estetika. Dan untuk memenuhi
kehampaan itu orang mencari berbagai jenis gratifikasi seperti pesta narkoba, seks suka-suka, atau kekerasan massal
bergemuruh. Namun, lagi-lagi, sebenarnya tak ada pesta, tak ada sukacita. Sebab ternyata, usai acara, semua pemesta
kembali ke dunia nestapa.

Gafni memberi metafora. Seekor lebah terperangkap dalam botol. Dari luar, ia tampak menari-nari penuh gairah, dari sisi
ke sisi. Ia terbang meliuk-liuk, dari dasar ke puncak. Namun, dari dalam sungguh malang. Sebenarnya tak ada tarian
gembira. Tak ada liukan bergairah. Yang ada cuma usaha tanpa harapan. Pelan tapi pasti, sang lebah mati perlahan.
Tercekik lunglai kehabisan oksigen. Kata Gafni, begitulah gaya hidup tanpa eros yang dilakoni individu, keluarga, dan
organisasi: palsu, menipu, lalu mati pelan-pelan.

Tapi, bagai nabi, Gafni berjanji. Ada gaya hidup baru untuk kita semua: hidup penuh sukacita kaya makna, hidup penuh
cinta kaya warna, hidup penuh tari kaya dinamika. Di situ kita dimungkinkan menikmati setiap momen penuh isi. Tak lagi
terisolasi, tapi terkoneksi. Tak lagi sepi sendiri, tapi larut berpartisipasi. Sesungguhnya kehidupan ini menawarkan
kesembuhan bagi luka-duka-nestapa kita. Maka, jangan pedih lagi sebab tersedia senar bagi getar-getar ekstasi surgawi.
Jangan perih lagi sebab terbuka akses bagi arus sukacita ilahi. Jangan sedih lagi sebab ada tarian baru: tarian eros yang
penuh gairah dan cinta!

Siapakah Marc Gafni yang piawai berkata-kata indah mencekam ini? Dua buku, Soul Prints dan The Mystery of Love, bagai
sepasang roket membubungkan nama Marc Gafni ke angkasa selebriti dalam atmosfer spiritualitas internasional, mirip
kibar-kibar nama Aa Gym di Indonesia. Gafni kini tampil sebagai suara baru dalam bentara kerohanian di Israel, Eropa,
dan Amerika. Ia memberikan banyak seminar tingkat pascasarjana tentang mistisisme dan spiritualitas di berbagai
universitas dunia dan secara rutin di Oxford, Inggris. Gafni tak hanya diakui sebagai guru besar di bidang teks-teks kuno
Yudaisme, tetapi juga empu dalam pemahaman dan penjelasan serat-serat hati manusia modern.

Marc Gafni dianggap sealiran dengan guru-guru spiritual dunia seperti Jalaludin Rumi, Scott Peck, dan Thomas More. Ciri
utama mereka bukan fundamentalis bukan pula New Ager, tapi lebih bersifat ekumenis. Artinya, mereka berakar kuat
dalam tradisi agama masing-masing, tapi cerdas menyapa jiwa umat dari berbagai agama lain. Mereka adalah peziarah
lintas batas sehingga mampu berbahasa universal: bahasa hati dan cinta. Tak harus jadi Muslim untuk dicerahkan oleh
Rumi. Tak harus jadi Protestan atau Katolik untuk dicerahkan oleh Peck atau More. Dan, tak harus jadi Yahudi untuk
dicerahkan oleh Gafni. Membaca buku-buku mereka, kita merasa terterangi oleh filsuf cerdas yang bijak bestari.

Lahir dan besar di Massachusetts, Amerika Serikat, Rabbi Gafni memiliki gelar tertinggi di bidang filsafat. Gafni juga
seorang pembicara inspirasional sehingga ruang-ruang kuliahnya selalu penuh. Bahasanya menggugah nurani.
Intelektualitasnya kelas tinggi, tapi berbudi sangat pekerti. Ia sangat menguasai konsep-konsep biblikal yang diuraikannya
dengan indah dan segar sehingga mampu menggerakkan hati sidang pendengarnya dari berbagai usia dan latar
belakang. Orang disadarkan bahwa pesan-pesan teks-teks purba tersebut ternyata sangat relevan bagi kehidupan
modern.

Pindah ke Israel, Gafni mendirikan Bayit Chadash, sebuah padepokan spiritual yang mendedikasikan diri pada renaisans
Yudaisme. Gafni juga mengisi berbagai program dan kolom di televisi dan jurnal yang mengupas tuntas etika dan
spiritualitas modern yang menyebarluas ke dalam budaya populer. Gafni juga adalah dekan dari Melitz Beit Midrash,
sebuah think-tank yang berwatak pluralistik dan salah satu lembaga pemikiran tertua dan paling prestisius di Israel.
Selain menulis empat buku teologi dalam bahasa Ibrani, dia juga mengarang dua buku best-seller berbahasa Inggris
seperti disebut di atas. The Mistery of Love, buku sumber bagi tulisan ini, adalah sebuah buku serius tentang filsafat dan
teologi, bukan novel tentang kisah cinta kawula muda.

Wajah-wajah eros

Dalam bahasa Ibrani, Eros adalah Shechinah, secara spiritual dipahami dan dialami sebagai Sang Feminin Agung:
mother, daughter, and lover. Dialah sang penyayang dan pengasih yang membuat semua ciptaan merasa tenteram, puas,
dan lelas. Shechinah berarti kehadiran di dalam, �dia yang tinggal di dalam diri kita�. Dia merupakan energi ilahi yang tak
hanya mengalir melalui kita, tetapi juga mengandung semua kita. Ia memelihara semua makhluk bahkan semua
kehidupan dengan penuh kasih sayang, sensualitas, dan erotisme.

Bedanya, dalam konsepsi Yunani, eros berkarakter maskulin. Dikenal sebagai dewa kehidupan, cinta dan seks, Plato
menyebutnya love plus. Eros merupakan daya kehidupan yang esensial� menggerakkan benda-benda langit bahkan
semua kehidupan�tapi juga berbahaya karena bisa destruktif dan, kalau tak sanggup menjinakkannya, sebaiknya
dihindari. Secara spesifik eros berkonotasi seksualitas, fertilitas, dan reproduksi.

Dalam spiritualitas Ibrani, yang erotik tidaklah semata-mata sinonim dari yang seksual, tetapi seluruh ekspresi kegairahan
yang berkarakter ilahi dari dalam hati manusia yang dimodelkan oleh seksualitas. Secara umum eros adalah tarikan
magnetik yang mengikat seluruh ciptaan dengan saling menghasrati menuju kesatuan yang utuh; pada elektron dan
proton sehingga atom tercipta, pada sepasang kekasih sehingga anak terlahir, atau pada hati para mistikus sehingga
ekstasi terjadi.

Namun, berabad-abad kemudian, kata erotik cuma berasosiasi dengan seksualitas saja. Yang seksual adalah sebagian
dari eros, bagian yang sempit sekali. Penyempitan makna ini, dalam terminologi mistik Ibrani, disebut sebagai eros yang
terbuang atau Shechinah dalam pembuangan. Istilah terbuang dan pembuangan diambil dari pengalaman sejarah
bangsa Israel kuno yang pernah ditaklukkan dan ditawan Nebukadnezar, raja Babilonia. Bangsa yang terbuang
merasakan hidup yang sepi, kosong, dan sesak, sehingga tak dapat berekspresi secara memadai.

Ke mana Shechinah atau eros terbuang? Jawabnya, ke wilayah seksual. Maka, jika seks adalah satu-satunya kegiatan di
mana kita bisa erotik, artinya Shechinah berada di pembuangan. Dan jika gairah tinggi hanya bisa kita rasakan sesaat
sebelum semburan orgasme, maka hidup kita sebenarnya amat miskin. Eros telah jatuh sebagai sinonim dari seks
belaka. Artinya, kita sangat jauh dari gaya hidup erotik sejati.

Sekarang apa jati diri eros yang sejati itu, siapakah dia sesungguhnya? Menurut Gafni ada empat wajah eros.

Pertama, eros berarti berada di dalam. Terlibat secara erotik berarti masuk jauh ke dalam, terlibat total secara mendalam.
Pada Bait Suci yang dibangun Salomo, di bagian paling dalam terdapat ruang Ruang Mahakudus. Dalam bahasa Ibrani
ruang itu disebut lefnai lefnei �yang di dalam dari yang di dalam�. Jadi, apa pun yang sungguh-sungguh mendalam atau
paling dalam pada hakikatnya adalah suci. Di sini, lawan kata suci bukan cuma najis, tetapi juga dangkal, superfisial, atau
permukaan. Dalam kuil kuno itu, adalah seksualitas�yang disimbolkan oleh sepasang kerubim di atas tabut perjanjian
dalam postur saling berpelukan�yang menjadi model tentang bagaimana hidup secara erotik. Maka, semua aktivitas di
mana kita mampu tenggelam total di dalamnya, dalam artian ini, merupakan aktivitas yang erotik dan kudus.

Eros mulai tereksitasi apabila kita menukik jauh sampai ke dalam, ke inti atau interior dari apa yang kita kerjakan
sehingga energi nuklirnya terlepas dan meluluhkan kita bersama dengan aktivitas kita. Pada saat itu saya menyatu total
dengan apa yang saya kerjakan. Saya bukan lagi penulis yang bersusah payah menulis tetapi telah lenyap menyatu
dengan kegiatan menulis. Maka, saya adalah tulisan saya, dan tulisan saya adalah saya. Meminjam Gary Zukav, penulis
The Dancing Wu Li Masters, An Overview of the New Physics, saya menari dengan eros!

Menari dengan eros berarti hidup dan mencintai secara erotik pada semua wilayah kehidupan kita. Itulah artinya hidup
suci. Sebagaimana suci tak seharusnya dibatasi oleh keempat dinding rumah ibadah, maka eros juga seharusnya tidak
boleh dibatasi oleh kelambu bilik tidur. Eros mestinya tampil utuh sebagaimana adanya, sebagaimana seharusnya. Itu
berarti menikmati keunikan yang istimewa dari seorang teman, mencium seluruh aroma rumput dan bunga-bungaan,
merasakan semua sensasi semilir angin, menikmati dahsyatnya rasa rindu yang mencekam, dan merasakan seluruh
getaran jiwa bersama segenap wajah kehidupan. Itu berarti menikmati gulung-gemulungnya ombak cinta yang susul-
menyusul bersama gelombang ekstasi yang meluluhkan tembok-tembok kemarahan, kesepian, dan ketakutan kita.
Sungguh, eros adalah sumber kenikmatan tertinggi. Kenikmatan yang suci.

Kedua, eros berarti hadir sepenuhnya. Hadir berarti tampil penuh konsentrasi dalam sebuah percakapan atau kegiatan
sehingga kita mampu memetik sukacita dan martabat darinya. Kita merasa penuh, tak lagi kosong. Dengan hadir, kita
mampu melihat keunikan, kompleksitas, dan kekayaan satu sama lain, serta keagungan ultimatnya.

Hadir juga berarti menunggu pemunculan. Shechinah sudah menunggu kita. Eros berada di rumah, menanti kita agar
segera masuk, menemuinya, dan menatap wajahnya dengan rasa takjub sepuas hati. Pada saat itulah kita merasa
sampai di posisi dan kondisi yang kita harapkan. Jadi, eros adalah state of feeling di mana kita tak ingin lagi ke mana-
mana karena sadar bahwa kita sudah di sana. Lawan dari eros ialah keterasingan, sebuah perasaan bahwa kita orang
luar, tamu tak dinanti, orang yang tak diharapkan. Dalam kondisi erotik, kita menikmati kesalingterhubungan yang utuh-
teguh yang mengakar tuntas dalam jaring-jaring kehidupan. Eros menyediakan ruang makna. Itulah kerja yang
memuaskan, relasi yang menyukakan, kehidupan sosial yang menggairahkan, aktivitas yang membahagiakan. Kelaparan,
keserakahan, korupsi, peperangan, serta berbagai bentuk kekerasan pada Bumi dan sesama, semuanya adalah buah
dari tiadanya eros.

Eros adalah kemampuan mengakses keabadian yang terkandung pada sebuah momen. Itu berarti menikmati
ketidakterbatasan total dari setiap momen yang mengalir. Maka, yang erotik dan yang kudus hadir penuh di saat kini,
dalam waktu yang serasa berhenti, saat semua momen-masa-lalu dan momen-masa-depan menyatu lebur dalam
sebuah kekekalan subyektif.

Ketiga, eros adalah hasrat atau keinginan. Dalam Yudaisme, hasrat, keinginan, dan kerinduan adalah ihwal yang suci.
Eros adalah hasrat menjadi, memperoleh, dan menikmati. Karena merindulah, maka kita ada dan terus mengada. Karena
mendambalah, maka kita menjadi dan terus menjadi. Selama di luar kita terpaksa mengabaikan dan memadamkan
hasrat hati kita. Namun, saat di dalam, saat kita hadir sepenuhnya, maka kita dapat meraih semua yang kita dambakan
dan impikan. Jadi, dalam kerinduanlah terdapat keajaiban eros. Itulah senar-senar hati yang terus bergetar sensasional
karena dirangsang oleh apa yang kita hasrati sepenuh rindu. Diputus dari eros yang merindu berarti dibiarkan mati sendiri
dalam kerontangnya gurun sepi yang tak kenal belas kasihan.

Depresi terburuk ialah depresi keinginan, yakni matinya hasrat. Dalam kondisi ini, kita tak menginginkan apa pun lagi, tak
mau ke mana pun lagi, tak sudi bertemu siapa pun lagi, dan tak berselera makan apa pun lagi. Ketika hasrat yang autentik
sudah tak ada lagi, maka itulah apatisme sejati. Orang demikian sedang menuju mati.

Keempat, eros ialah kesalingterhubungan dengan semua kehidupan. Rindu, keinginan dan hasrat selalu membisikkan
bahwa kita saling terhubung. Kata religi (agama) berasal dari bahasa Latin, ligare, artinya hubungan. Tujuan religi dengan
demikian ialah menghubungkan kembali semua kita. Niat agama ialah membawa kita ke ruang paling dalam di mana kita
saling berhadap-hadapan, bertatapan muka, dan dengan begitu mengalami interkonektivitas batin dengan semua wajah
realitas. Maka, memutus hubungan dengan eros adalah sebuah dosa. Dosa di sini adalah separasi dan isolasi, yaitu
keterpisahan dari sumber kehidupan dan semua wajahnya. Dosa berarti keadaan yang tragis. Tak hanya bahwa kita
kehilangan sumber sukacita terbesar, tetapi sekaligus memutuskan jejaring relasional kita dengan yang ilahi yang
tanpanya seluruh tatanan kehidupan ini akan runtuh.

Gafni menyebut ajaran baru tentang eros ini sebagai tantra Ibrani. Dalam bahasa Sanskerta, salah satu makna kata tantra
ialah memperluas. Jadi tantra Ibrani berarti memperluas dimensi eros, melampaui yang seksual, ke semua wilayah
nonseksual kehidupan ini. Tegasnya, tantra Ibrani adalah sebuah cara menggunakan energi erotik untuk manunggal
dalam cinta dengan yang arus ilahi yang setiap saat mengalir ke dalam dan melalui kita. Esensi ajaran ini ialah
mentransformasikan seksualitas menjadi tuntunan penuh kasih sayang menuju kepenuhan, kesukaan dan kebahagiaan
integral. Eros!

Eros dan imajinasi

Satu kualitas inti dari eros ialah imajinasi. Keistimewaan imajinasi terletak pada kemampuannya memberi bentuk pada
kebenaran-kebenaran tinggi yang berasal dari realitas ilahi. Bahasa dan rasio tak memadai melakukannya. Namun,
imajinasi mampu. Dan bagaikan nabi, imajinasi akan membawa pesan-pesan ilahi, berbicara, dan bernubuat kepada dan
melalui kita. Dengan imajinasi yang erotik, kita dimampukan mengakses hikmat dan pimpinan Tuhan yang sangat kita
perlukan dalam menavigasi kehidupan ke depan. Namun, mengapa kita begitu lemah mengimajinasikan Tuhan?
Jawabnya, karena Shechinah berada di pembuangan. Erotisme berimajinasi sudah terbuang ke wilayah seksual. Orang
umumnya mudah berfantasi seksual, tapi sangat sulit berimajinasi di wilayah nonseksual. Artinya, erotisme berfantasi
telah impoten pada arena-arena lain kehidupan ini di luar yang seksual.

Kata fantasi berasal dari bahasa Yunani, phantasi, kata kerja yang berarti membuat tampak, menampilkan. Bagi orang
Yunani kuno, berfantasi tak ada kaitannya dengan seks. Berfantasi artinya membuat dunia para ilahi tampak melalui
imajinasi. Itulah alam spirit. Itulah dunia bentuk murni. Kita hampir tak pernah berfantasi ekonomi, berfantasi sosial, atau
berfantasi politik. Namun, berfantasi seksual sering, sepanjang waktu malahan. Seperti eros, fantasi pun telah terbuang
ke lembah seksual. Karenanya, kita pun kehilangan kemampuan membuat tampak, membayangkan, mengimajinasikan,
dan mengembangkan visi-visi yang agung dan orisinal di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Pemiskinan imajinasi yang
erotik adalah terbuangnya Shechinah.

Krisis terbesar bukan ekonomi, politik, bahkan bukan moral. Namun, krisis imajinasi. Orang kepentok pada jalan buntu
karena tak mampu mengimajinasikan ulang hidupnya secara berbeda dari apa yang sekarang dijalaninya. Status quo
dipegang erat-erat karena takut pada bayang-bayang ketidakpastian. Padahal, prasyarat bagi pertumbuhan ialah
kesediaan untuk melepaskan siapa aku sekarang demi meraih siapa aku esok dengan cara membuang hal-hal yang
sudah akrab tapi sebenarnya tak lagi berguna. Namun, ini hanya mungkin dilakukan jika kita berani berjalan sampai ke
tubir-tubir ketidakpastian.

Kadang ini berarti meninggalkan kampung halaman dan merantau ke negeri orang. Namun, perantauan sejati tak harus
berarti perpisahan dramatik dengan rumah dan masa lalu kita. Ia lebih merupakan perantauan imajinasi. Imajinasi adalah
perkakas untuk merancang masa depan yang secara radikal berbeda dengan masa lalu dan hari ini.

Hanya dalam fantasi dan reimajinasilah kita dapat mengubah realitas kita. Dari dunia internal inilah kita mengubah dunia
eksternal kita. Inti hampir setiap krisis adalah sebuah kegagalan berimajinasi. Tanpa lompatan imajinasi, tak ada
kemajuan sejati, dan spirit kehidupan pun bakal mati sesak di bawah naungan tempurungnya yang lusuh dan rapuh.

Eros and etos: lingkaran dan garis

Dalam sejarahnya, terutama di masa lampau, eros purba yang dipraktikkan bangsa-bangsa kafir tampil dalam bentuk
ritus-ritus tanpa etika, di mana pada puncak ekstasi ibadah mereka, manusia, terutama anak-anak, dikorbankan di atas
mezbah-mezbah para dewa yang diiringi dengan pesta orgial yang dahsyat. Yahwe melalui nabi-nabiNya selalu melarang
orang Israel mengikuti ibadah-ibadah demikian. Namun, lebih banyak tak berhasil. Sejak Salomo sampai pada waktu
pembuangan ke Babel, pada sebagian besar kurun sejarah itu, mereka terpengaruh dan terjatuh ke dalam ibadah-ibadah
kafir yang dicirikan oleh erotisme purba itu. Barulah sejak kembali dari Babel diadakan reformasi keagamaan dan sosial
di bawah pimpinan Esra dan Nehemia.

Pertanyaannya, mengapa bangsa yang dilengkapi dengan etika biblikal, yaitu hukum-hukum Taurat, bisa jatuh ke dalam
eros yang nonetis? Jawabannya, ketika eros dan etika bertentangan secara superfisial, maka eros selalu menang. Gafni
mengibaratkan moralitas eros sebagai lingkaran dan moralitas etika sebagai garis. Dalam lingkaran murni, yaitu eros
rendah, terdapat energi purba yang dahsyatnya tak mungkin dilawan justru karena dalam pusaran ekstasi eros tersebut
orang mengalami keutuhan yang menyeluruh secara dahsyat. Sebaliknya moralitas garis, yaitu moralitas hukum dan etika,
yang sebenarnya bertentangan dengan nature kemanusiaan kita, akan selalu gagal memenuhi tuntutan kontrak-
kontraknya.

Jadi, bagaimana sebenarnya hubungan antara eros dan etos? Jawabnya, seperti hubungan dua wajah koin yang sama.
Pada analisis terakhir, tatanan etika dan hukum, tanpa eros, akan runtuh berkeping-keping. Kegagalan etika terjadi karena
eros tidak menjiwainya. Tegasnya, etika yang tidak berakar teguh pada eros akan runtuh karena, bagaimanapun, bagaikan
satelit yang secara abadi di bawah pengaruh gravitasi Bumi, jiwa manusia pun selalu merindu sangat berat pada eros,
selamanya.

Namun, jika etika kita pelajari dan dalami secara serius sampai ke level hakikat, maka kita akan bertemu dengan eros
yang menyala-nyala dan selanjutnya akan berfungsi menjadi energi dalam penghayatan dan ekspresi etika itu sendiri.
Pada saat inilah etika menjadi etos. Etika tidak lagi hanya sekumpulan norma tertulis tetapi sudah menjadi praktik nyata.
Etika tak lagi sekadar huruf-huruf yang tertulis di atas kertas, tetapi tertulis di hati kita. Pada saat itu pula etos menjadi
ekspresi erotik dari diri ilahi kita. Agar etika bisa dahsyat dan berwibawa, ia harus merupakan pengejawantahan erotik dari
diri ilahi kita, bukan berkontradiksi.

Etika akan mati tanpa eros dan eros tidak bisa hidup tanpa etika. Tujuan akhirnya adalah integrasi. Yang erotik dan yang
etis, lingkaran dan garis, harus menyatu-padu sebagai ekspresi total kemanusiaan kita dalam lingkungan kehidupan ini.
Eros harus diekspansikan ke wilayah etika bahkan ke seluruh wilayah kehidupan kita. Dengan demikian, kita
dimungkinkan menciptakan suatu masyarakat yang dicirikan oleh keadilan yang erotik, kebenaran yang erotik, dan
kebajikan yang erotik.

Jansen H Sinamo, Direktur Institut Darma Mahardika, Jakarta

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/06/Bentara/1298903.htm

You are here: Esai Esai Filsafat Hidup yang Erotik (* Merevitalisasi Kehidupan Modern dengan Semangat Purba)