duniaesai.com

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Selamat Datang di Dunia Esai

Di sini anda dapat menemukan referensi berupa esai, artikel, makalah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam masing-masing subyek bahasan.
Anda dapat mencari referensi yang dibutuhkan melalui direktori yang ada, atau menggunakan mesin pencari yang kami sediakan. Saat ini Dunia Esai menyediakan lebih dari 450 artikel, esai, dan makalah yang terus diperbarui.

Dampak dan Antisipasi Harga Minyak

E-mail Print PDF
( 8 Votes )
User Rating: / 8
PoorBest 

Kenaikan harga minyak mentah tidak terjadi secara tiba-tiba. Sudah banyak prakiraan bahwa harga minyak mentah akan 
terus merangkak naik. Majalah Business Week edisi minggu lalu menurunkan berita dengan judul "Next Stop: $100 Oil?"

Sekalipun spare capacity dari negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam Organisasi Negara-negara
Pengekspor Minyak (OPEC) telah meningkat menjadi lebih dari 2 juta barrel per hari atau hampir dua kali lipat
dibandingkan dengan tahun lalu, itu masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan posisi tahun 2002 yang berada di
sekitar 5 juta barrel per hari.

Hingga tahun depan, pasar minyak mentah dunia diperkirakan masih tetap ketat sehingga sangat kecil kemungkinan
harga turun kembali di bawah 60 dollar AS per barrel. Apalagi mengingat ketegangan di Timur Tengah tak kunjung
mereda, ditambah lagi hingga tahun 2008 pertumbuhan permintaan lebih besar daripada pertumbuhan produksi.

Dengan kecenderungan harga minyak yang bertambah "liar", kita patut mempertanyakan mengapa pemerintah dan DPR
mematok asumsi harga minyak hanya 60 dollar AS per barrel dalam APBN 2008. Seburuk itukah kemampuan antisipasi
mereka? Atau, karena mereka gamang memasang asumsi harga minyak yang lebih tinggi karena akan mengakibatkan
subsidi BBM dan listrik membengkak? Sementara itu, elite politik telanjur berjanji untuk tak menaikkan harga BBM hingga
Pemilihan Umum 2009.

Dampak lonjakan harga minyak bumi terhadap APBN sebenarnya bisa diminimalkan apabila kita mampu meningkatkan
produksi minyak mentah. APBN 2008 memang mencantumkan kenaikan asumsi produksi (lifting) minyak dari 950.000
barrel sehari menjadi 1,034 juta barrel sehari. Namun, pengalaman selama delapan tahun terakhir menunjukkan, asumsi
APBN untuk lifting minyak lebih kerap dikoreksi ke bawah ketimbang ke atas, sama kerapnya dengan perubahan asumsi
harga minyak mentah.

Bahkan perubahan asumsiasumsi tersebut tak hanya sekali diubah dalam satu tahun anggaran. Penyesuaian yang kerap
terjadi di dalam tahun anggaran berjalan menunjukkan kualitas perencanaan yang buruk. Sudah saatnya kita memiliki
sistem anggaran yang lebih berkualitas dan akurat agar fungsi anggaran untuk menggerakkan pembangunan bisa lebih
optimal.

Sayangnya, kita tak menjumpai ruang yang cukup leluasa untuk meningkatkan produksi minyak mentah. Dalam jangka
pendek peningkatan produksi tak mungkin dari ladang-ladang besar. Satu-satunya kemungkinan adalah dari
ladang-ladang kecil. Untuk meningkatkan produktivitas ladang-ladang kecil, dibutuhkan teknologi yang lebih baru dan lebih
mahal, yang berarti harus ada investasi baru.

Sementara itu, para pengusaha minyak masih enggan melakukan investasi baru di tengah regulasi yang belum menentu
dan respons dari regulator, Departemen ESDM dan BP Migas, yang sangat lamban. Sudah saatnya Presiden mengambil
langkah-langkah tegas untuk mengamankan kebijakan energi nasional, termasuk melakukan peremajaan total di pucuk
pimpinan Departemen ESDM dan BP Migas.

Jika produksi tidak meningkat dan pertumbuhan konsumsi BBM di dalam negeri tetap melaju seperti sekarang, sudah
hampir bisa dipastikan pada triwulan terakhir tahun ini kenaikan harga minyak akan berdampak terhadap kenaikan defisit
APBN. Jadi, peningkatan defisit lebih disebabkan penurunan produksi ketimbang kenaikan harga minyak mentah.

Betapa sensitif perubahan asumsi produksi terlihat dari perhitungan setiap penurunan produksi minyak mentah sebesar
50.000 barrel per hari berpotensi meningkatkan defisit APBN sebesar Rp 4 triliun.

Kenaikan harga minyak mentah baru berdampak terhadap kenaikan defisit APBN jika pertumbuhan konsumsi BBM di
dalam negeri terus meningkat dan penyelundupan BBM ke luar negeri marak kembali akibat disparitas harga di dalam
negeri dan luar negeri bertambah lebar sebagaimana terjadi tahun 2003-2004. Pada tahun 2004, setiap kenaikan harga
sebesar 10 dollar AS di atas harga asumsi APBN akan menambah defisit sebesar Rp 2 triliun.

Dampak tak langsung

Harus diperhitungkan pula dampak tak langsung dari kenaikan harga minyak terhadap APBN dan perekonomian.

Pertama, pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan sebesar 6,8 persen untuk tahun 2008 hampir mustahil bisa dicapai.
Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang dipangkas dari 5,2 persen menjadi 4,8 persen untuk tahun
2008, Dana Moneter Internasional memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan hanya 6,1 persen.

Dengan gambaran kondisi perekonomian yang lebih suram ini, sudah barang tentu potensi penerimaan pajak pun akan
turun. Dengan demikian, defisit APBN akhirnya semakin menganga dan bisa mendekati 2 persen dari produk domestik
bruto.

Kedua, kenaikan harga bahan bakar minyak dan tarif listrik nonsubsidi akan menambah beban sektor industri dan pada
gilirannya sektor pertanian pangan. Sektor industri manufaktur yang pertumbuhannya sudah mulai kembali merangkak
naik sampai ke tingkatan 5,5 persen pada triwulan kedua 2007 diperkirakan sangat sulit berlanjut mendekati pertumbuhan
produk domestik bruto, apalagi melampauinya.

Hal ini terjadi karena hampir tak ada ruang lagi bagi industri untuk meningkatkan efisiensi jangka pendek dan beban biaya
eksternal (biaya ekonomi tinggi) tak kunjung bisa dipangkas.

Dengan kondisi sektor industri manufaktur, pertanian pangan, dan pertambangan minyak yang tertekan, pola
pertumbuhan antara sektor yang produknya dapat diperdagangkan (tradable) dan sektor nontradable semakin timpang.
Hal ini akan menimbulkan tekanan yang makin berat terhadap pengangguran, pengentasan penduduk dari kemiskinan,
dan ketimpangan pendapatan, yang ujung-ujungnya meningkatkan ketegangan sosial.

Pilihan yang elegan bagi pemerintah ialah mengoptimalkan sektor-sektor yang menikmati "berkah" (windfall), seperti
minyak sawit, karet, dan komoditas pertambangan yang harganya melambung, bukan justru mengganggu
pengembangannya. Dari ekspor minyak sawit saja, potensi tambahan penerimaan APBN bisa mencapai lebih dari 1
miliar dollar AS.

Jika pemerintah mampu merealokasikan tambahan pendapatan ini untuk menggalang proyek-proyek padat karya di sektor
pertanian dan pedesaan, daya beli mayoritas masyarakat bisa meningkat atau paling tidak bisa mengompensasikan
kenaikan harga-harga umum.

Pilihan ini lebih bijak ketimbang menggelontorkan subsidi langsung ataupun tak langsung untuk berbagai komoditas yang
mengalami kenaikan harga tajam, seperti minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya (gula, terigu, dan beras).

Oleh: Faisal Basri
Sumber:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/22/utama/3935076.htm

You are here: Esai Esai Ekonomi Dampak dan Antisipasi Harga Minyak