Menggali Masa Lalu, Mencari Jati Diri

Patok kayu terakhir baru saja ditancapkan. Yuni Eka Triana (16), pelajar SMA Pusri Palembang, menyeka keringat sebelum
menghubungkan patok-patok dengan tali bersama tiga rekannya. Tak lama kemudian, sebuah kotak gali berukuran 2
meter x 2 meter pun siap dibuka.

Siang itu para pelajar dan guru SMA dari Kota Palembang dan Kabupaten Muara Enim berpanas ria menggali masa lalu.
Dengan menggunakan cetok (trowel), alat khas arkeologi, mereka mengupas tanah dengan hati-hati, lumayan sabar dan
penuh keingintahuan apa yang ada di dalam tanah.

Maklum saja, lahan yang digali adalah salah satu situs arkeologi yang penting di Sumatera Selatan: Kompleks Percandian
Bumiayu yang terletak di daerah aliran Sungai Lematang di Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim. Situs
percandian bata bersifat Hindu dari abad IX-XIII Masehi itu memang intensif digali dan diteliti oleh para arkeolog sejak
tahun 1989 sampai sekarang.

Tentu saja ada arkeolog yang membimbing kegiatan para "arkeolog amatir" itu. Pembimbing itu juga yang memilihkan
lokasi penggalian agak jauh dari zona inti candi. Namun, tetap saja para pelajar dapat menemukan berbagai artefak,
semacam pecahan bata kuno dan tembikar dari dalam tanah.

Bukti-bukti masa lalu itu ditangani para siswa dengan baik. Artefak dicuci, dijemur, dipilah, diberi label, digambar dan
difoto, lalu dikemas dalam plastik dan dicatat dalam laporan harian mereka. Tak ubahnya seperti yang selalu dilakukan
para arkeolog sejati.

Kali ini, kegiatan ekstrakurikuler para siswa dalam mengisi liburan sekolah beberapa waktu yang lalu terasa menjadi
istimewa. Dua puluh lima siswa dan guru dari empat SMA di Palembang dan satu di Muara Enim mendapat kesempatan
mengikuti "sekolah lapangan" (field school) arkeologi selama sepekan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Balai Arkeologi
Palembang dalam melaksanakan salah satu fungsinya, yaitu melakukan bimbingan edukatif-kultural kepada publik.

Arkeologi publik

Kegiatan sekolah lapangan arkeologi untuk pelajar merupakan ciri khas arkeologi publik (public archaeology). Di belahan
dunia lain, arkeologi publik telah melembaga dan memiliki lingkup yang luas, bermuara kepada pendidikan untuk publik.
Beberapa definisi dan tujuan arkeologi publik berkaitan dengan upaya meningkatkan kesadaran publik memelihara dan
melestarikan sumber daya budaya, memajukan etika kerja arkeologi. Hal itu tak lain dimaksudkan untuk mengeksplorasi
ingatan publik tentang warisan budaya dan peringatan masa lalu, menyokong tempat-tempat bersejarah sebagai tempat
untuk pertemuan dan diskusi warga tentang masa lalu serta upaya membuat arkeologi lebih inklusif (Uzzi Baram, 2007).

Tujuan yang disebutkan terakhir ini boleh jadi semacam bentuk tanggung jawab sosial arkeolog kepada publik. Selama ini
tertanam kesan bahwa arkeologi itu eksklusif. Arkeolog asyik dengan dunianya sendiri, seolah terpisah dengan
masyarakat. Mengungkap masa lalu hanya untuk masa lalu itu sendiri serta untuk segelintir orang yang mendalami masa
lalu.

Peran arkeologi dalam mendidik masyarakat disadari benar oleh Peter G Stone, ahli dari English Heritage. Menurut dia,
arkeologi adalah alat yang unggul (excellent) dalam melatih pelajar bekerja lebih berhati-hati dan lebih kritis terhadap
sejarah dan budaya masa lalu daripada menghafalkannya, seperti yang sering diajarkan dalam kurikulum sekolah.
Berdasarkan hasil penelitian Stone, ternyata pelajar yang melakukan studi masa lalu melalui arkeologi lebih menguasai
dan lebih menikmati studi mereka daripada studi dengan pendekatan tradisional yang berbasis dokumen (Stone 1990).

Di Indonesia, kegiatan field school arkeologi untuk pelajar sudah dilakukan sejak tahun 1990 (menurut catatan penulis).
Kegiatan tersebut sebenarnya tidak direncanakan karena awalnya tim arkeologi dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
sedang melakukan penggalian mencari artefak-artefak masa Kerajaan Sriwijaya di halaman Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II di tepi Sungai Musi, Palembang.

Ketika itu, seorang guru dari SMA Xaverius Palembang mengusulkan agar murid-muridnya dapat dilibatkan dalam
penggalian untuk pendidikan dan mencari pengalaman. Tim arkeologi meresponsnya dan memberi kuota bagi 10 siswa.
Ternyata yang mendaftar ratusan pelajar sehingga pemilihan peserta ditentukan berdasarkan indeks prestasi yang
tertinggi.

Fenomena itu seakan menguatkan pernyataan Stone bahwa arkeologi adalah alat yang paling unggul dalam mendidik
pelajar memahami kebudayaan masa lalu.

Mencari jati diri

"Kegiatan ini sangat menarik, sebagai wahana baru pelajar, dan banyak materi baru yang tidak didapatkan di sekolah,
tidak membosankan," tulis Kiagus Choirul Dedi Kurmawan, siswa SMA Negeri 1 Palembang, peserta field school
arkeologi di Kompleks Percandian Bumiayu.

Selain mendapat latihan penggalian dan penanganan artefak, para siswa dan guru diajak berkeliling mengamati
candi-candi di kawasan situs, melihat artefak-artefak di ruang artefak.

Lewat kegiatan semacam ini mereka diajak membayangkan bagaimana para leluhur dengan teknologi yang dimiliki pada
masa itu mendirikan bangunan suci, membuat peralatan upacara dan perlengkapan hidup mereka. Peserta dirangsang
untuk mencerna pesan dan perilaku leluhur di balik benda-benda yang mereka gunakan pada masanya.

Tinggalan arkeologis di situs Percandian Bumiayu memang sarat makna. Tentang keselarasan manusia dan alam,
kehidupan manusia masa lalu yang religius, dan kreasi seni adiluhung untuk sang pencipta alam semesta.
"Dengan pengetahuan arkeologi, kita sedikit mengetahui jati diri budaya bangsa kita," Adi Trawan, pelajar SMA Negeri 2
Talang Ubi, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim, menuliskan kesan dan pesannya.

Kesan dan pesan sang pelajar yang lugu dan tingginya minat pelajar untuk dapat mengikuti field school arkeologi patut
dicermati. Tampaknya masih banyak anak muda yang punya perhatian besar terhadap masa lalu bangsanya dan
membandingkannya dengan keadaan sekarang. Masih banyak anak muda yang ingin mengetahui akar budaya
bangsanya di tengah tuduhan bahwa bangsa ini kini dalam krisis identitas.

Fenomena yang menggembirakan ini harus dijadikan momentum agar para arkeolog Indonesia turun gunung mendidik
publik dan membantu akselerasi bangsa ini menemukan jati dirinya. Boleh jadi, hanya dengan begitu dunia arkeologi bisa
memberi sumbangan yang lebih mantap bagi bangsa ini dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.

Nurhadi Rangkuti Arkeolog, Kepala Balai Arkeologi Palembang

Sumber: http://kompas.com/kompas-cetak/0709/07/humaniora/3816141.htm
All rights reserved.
Dunia Esai
Kumpulan esai, makalah, dan artikel dalam Bahasa Indonesia