|
Legimin dan Titipan Pra-Sriwijaya
Tas hitam yang dibawa dari kampung dibukanya dengan
sigap. Isinya bukan berkas-berkas penting, apalagi
tumpukan uang. Tak disangka lelaki berwajah keras itu
mengeluarkan kepingan-kepingan tembikar, bandul jaring
dari tanah liat, tempurung kelapa, potongan kayu dan
tulang hewan, pecahan bata, batu asah, sejumput
manik-manik, dan seikat ijuk dari dalam tas.
"Ini
contoh-contoh temuan yang ditemukan di belakang rumah
saya waktu membuat parit," ujar Legimin (43), seorang
transmigran asal Malang (Jawa Timur) yang kini jadi
warga Desa Karangagung Tengah, Kecamatan Lalan,
Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Menempuh jarak waktu empat jam dengan perahu motor dari
kampungnya ke Kota Palembang hanya untuk memperlihatkan
benda-benda usang dan tidak utuh lagi memang tidak lazim.
Namun, kirimannya itu menjadi kado istimewa buat
purbakalawan di Balai Arkeologi Palembang yang menekuni
bukti-bukti peradaban sebelum munculnya Kerajaan
Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi.
Artefak-artefak yang dibawa Legimin berasal dari situs
Karangagung Tengah yang terletak di kampungnya. Situs
itu kemudian menjadi terkenal di dunia arkeologi ketika
beberapa tahun yang lalu analisis laboratorium terhadap
dua potong kayu bekas tiang rumah panggung zaman kuno
menghasilkan pertanggalan 1624-1629 BP, kira-kira sama
dengan tahun 326-329 Masehi.
Penelitian arkeologis secara intensif sejak tahun 2000
sampai sekarang semakin memperkuat teori bahwa pada abad
ke-4 Masehi telah ada komunitas di daerah pantai
Sumatera Selatan yang aktif dalam perdagangan
internasional. Komunitas yang cukup padat dan telah
mengenal spesialisasi pekerjaan dan stratifikasi sosial.
Letak situs dekat Selat Bangka, selat yang dikenal
sebagai ajang perdagangan internasional pada awal Masehi.
Komoditas impor yang ditemukan di situs, antara lain,
adalah manik-manik dari India dan Asia Barat.
Situs Karangagung diidentifikasi sebagai situs masa
proto sejarah, kemudian arkeolog memberi istilah situs
pra-Sriwijaya. "Disebut situs pra-Sriwijaya karena
masanya sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya di
Palembang, dan juga pertimbangan faktor lokasi yang
tidak jauh dari persebaran situs-situs Sriwijaya di
Sumatera Selatan dan Jambi," ujar Tri Marhaeni, ketua
tim penelitian.
Tak pelak, ditemukannya situs Karangagung sekitar tahun
2000 telah mengubah teori perubahan garis pantai timur
Sumatera dalam kaitannya dengan lokasi pusat Kerajaan
Sriwijaya. Teori itu yang menyatakan lokasi Sriwijaya di
Palembang maupun di Jambi terletak pada tanjung di tepi
laut sekitar abad ke-7 Masehi. Tampaknya teori itu perlu
dipertimbangkan lagi setelah ditemukannya permukiman
Karangagung dari masa yang lebih tua daripada Sriwijaya
(Soeroso, 2002).
Museum situs
Setelah lebih dari seribu tahun terkubur dalam kesunyian,
situs Karangagung mulai diusik manusia. Pada tahun 1987
hingga 1990, daerah Karangagung mulai dibuka sebagai
lahan transmigrasi menyusul dibukanya lahan transmigrasi
di Air Sugihan beberapa tahun sebelumnya. Maka
dimulailah eksploitasi kekayaan arkeologi situs
Karangagung.
Legimin mengisahkan, tahun 1997-1998 terjadi booming
manik-manik dan benda-benda berlapis emas dari situs
Karangagung. Saat itu penduduk berburu manik-manik dari
bahan kaca berlapis emas, bahan batu, kaca, dan perunggu.
Semua benda relik itu menjadi komoditas yang laku keras.
Jual-beli manik-manik dilakukan menurut panjang
manik-manik yang dirangkai. Harga manik-manik emas Rp
40.000 per cm, manik-manik perunggu Rp 5.000 per cm,
manik-manik batu Rp 500 per cm, sedangkan dari bahan
lainnya Rp 1.000 per cm. Umumnya para penadah
manik-manik berasal dari luar Karangagung. Legimin
teringat ada seorang penadah berhasil mengumpulkan
manik-manik sampai satu karung beras seberat 20
kilogram. Manik-manik itu kemudian dibawa ke Jawa dan
akhirnya ke Bali.
Bisnis artefak mulai surut ketika instansi purbakala di
Palembang dan Jambi melakukan penyuluhan kepada penduduk,
selain artefak semakin berkurang diambili penduduk.
Legimin aktif membantu para purbakalawan. Bukan itu saja,
ia rajin mengumpulkan artefak-artefak yang tidak laku
dijual, seperti pecahan-pecahan tembikar, bata kuno, dan
potongan kayu, lalu ditata di halaman rumahnya.
"Saya
telah membuat museum situs di halaman rumah," ujar
Legimin. Istilah "museum situs" diperolehnya dari
arkeolog yang kerap melakukan penelitian dan tinggal di
rumahnya. Baginya, mengumpulkan dan memajang artefak di
depan rumah agar dilihat tamu tentang bukti-bukti
peradaban abad ke-4 Masehi itu adalah museum situs.
Mengapa Legimin membawa artefak-artefak "rongsokan" ke
Palembang?
"Saya
ingat pesan teman-teman dari arkeologi, terutama Pak
Roso, kalau menemukan lokasi temuan yang paling padat
dan beraneka ragam, supaya melaporkan. Parit yang saya
gali padat dan lengkap temuannya, Pak," kata Legimin
menjelaskan maksud kedatangannya di Palembang, sambil
melaporkan ada warga yang menyimpan tujuh patung
perunggu berukuran kecil. Pak Roso yang dimaksud adalah
Soeroso MP, salah satu peneliti yang pertama mengungkap
identitas situs Karangagung Tengah, dan kini selaku
Direktur Peninggalan Purbakala, Departemen Kebudayaan
dan Pariwisata.
Legimin, yang pernah menempuh karier sebagai petinju di
Malang, pertama kali ikut transmigrasi ke Air Sugihan
pada tahun 1980 dan mulai menetap di Karangagung pada
akhir tahun 1989. Air Sugihan, yang letaknya di sebelah
timur Karangagung (masuk Kabupaten Banyuasin), dikenal
juga kaya dengan artefak pra-Sriwijaya. Daerah ini yang
terlebih dahulu dieksploitasi kekayaan arkeologinya,
terutama manik-manik dan keramik. Dari Air Sugihan
kemudian para pemburu harta karun mengalihkan perhatian
ke Karangagung.
Legimin hidup tenang di Karangagung bersama keluarga.
Usahanya sebagai petani dan tukang tambal gigi mampu
menghidupi seorang istri dan lima anaknya, bahkan
putrinya yang sulung dapat kuliah di Malang. Sebagai
tukang tambal gigi, Legimin keliling kampung dengan
sepeda mencari pasien sambil mengumpulkan
artefak-artefak "rongsokan" untuk koleksi museum
situsnya.
Museum terbuka Legimin kini telah diberi atap rumbia
agar benda-benda koleksi tidak kepanasan dan kehujanan.
Dia mengakui, museum itu diwujudkan karena kekagumannya
pada umur artefak-artefak Karangagung yang lebih tua
daripada Kerajaan Sriwijaya, setelah ia mendengar
informasi dari para purbakalawan yang sering berdiskusi
di rumahnya yang sederhana.
Legimin memang bukan Maclaine Pont yang rajin
mengumpulkan benda-benda peninggalan Majapahit di
Trowulan, Jawa Timur, pada tahun 1924-1926. Arsitek
bangsa Belanda yang merekonstruksi ibu kota Majapahit
itu membangun gedung yang kokoh dan megah untuk
menyelamatkan artefak Majapahit, sementara Legimin
membangun museumnya dengan bahan apa adanya.
Bagi Legimin, benda-benda itu adalah titipan leluhur
dari tanah Sriwijaya. Walaupun bukan tanah kelahirannya,
kekayaan arkeologi di tanah Sriwijaya yang dipijaknya
kini perlu dijaga.
Nurhadi Rangkuti Kepala Balai
Arkeologi
sumber:http://kompas.com/kompas-cetak/0605/26/humaniora/2680190.htm
|