|
Kesejajaran Arsitektur
Bangunan Suci India dan Jawa Kuna
I
Telah banyak teori yang mencoba
menjelaskan perihal bagaimana caranya pengaruh
kebudayaan India (Hindu-Buddha) sampai ke kepulauan
Indonesia. Hal yang sudah pasti adalah berkat adanya
pengaruh tersebut penduduk kepulauan Indonesia kemudian
memasuki periode sejarah sekitar abad ke-4 M. Menurut
J.L.A Brandes (1887) penduduk Asia Tenggara termasuk
yang mendiami kepulauan Indonesia telah mempunyai 10
kepandaian menjelang masuknya pengaruh kebudayaan India,
yaitu: (1) mengenal pengecoran logam, (2) mampu membuat
figur-figur manusia dan hewan dari batu, kayu, atau
lukisan di dinding goa, (3) mengenal instrumen musik,
(4) mengenal bermacam ragam hias, (5) mengenal sistem
ekonomi barter, (6) memahami astronomi, (7) mahir dalam
navigasi, (8) mengenal tradisi lisan, (9) mengenal
sistem irigasi untuk pertanian, (10) adanya penataan
masyarakat yang teratur. Dalam kondisi peradaban seperti
itulah mereka kemudian berkenalan dan menerima para
niagawan dan musafir dari India ataupun dari Cina.
Setelah berinteraksi dengan para
pendatang dari India, maka diterimalah beberapa aspek
kebudayaan penting oleh penduduk kepulauan Indonesia.
Aspek-aspek kebudayaan dari India yang diterima oleh
nenek moyang bangsa Indonesia benar-benar barang baru,
yang tidak mereka kenal sebelumnya, yaitu:
1. Aksara Pallava
2. Agama Hindu dan Buddha
3. Penghitungan angka tahun Saka
Melalui ketiga aspek kebudayaan dari
India itulah kemudian peradaban nenek moyang bangsa
Indonesia terpacu dengan pesatnya, berkembang dan
menghasilkan bentuk-bentuk baru kebudayaan Indonesia
kuna yang pada akhirnya pencapaian itu diakui sebagai
hasil kreativitas penduduk kepulauan Indonesia sendiri.
Dengan dikenalnya aksara Pallava,
atau sering juga disebut dengan huruf Pascapallava,
nenek moyang bangsa Indonesia mampu mendokumentasikan
pengalaman dalam kehidupannya. Terbitnya
prasasti-prasasti dari kerajaan-karajaan kuna,
penggubahan karya sastra dengan berbagai judul, serta
dokumentasi tertulis lainnya adalah berkat dikenalnya
aksara Pallava. Bahkan di masa kemudian aksara Pallava
itu kemudian “dinasionalisasikan” oleh berbagai etnis
Indonesia, maka muncullah antara lain aksara Jawa Kuna,
Bali Kuna, Sunda Kuna, Lampung, Batak, dan Bugis.
Wilayah kepulauan Indonesia segera
memasuki zaman sejarahnya ketika sumber tertulis yang
berupa prasasti awal telah dijumpai di wilayah ini.
Sebagaimana diketahui prasasti-prasasti pertama itu
terdapat di wilayah Jawa bagian barat dan Kalimantan
Timur. Di Jawa bagian barat berkembang institusi
kerajaan yang bercorak kebudayaan India pertama kali,
yaitu Tarumanagara yang salah satu rajanya bernama
Purnnavarmman. Dalam pada itu di Kalimantan Timur juga
berkembang sistem kerajaan yang sama, berkat
peninggalan-peninggalan prasasti Yupa yang masih
bertahan hingga kini, diketahui adanya kerajaan kuna di
wilayah Kutai, rajanya yang dikenal dalam prasasti
bernama Aswawarmman. Walaupun di kedua lokasi tersebut
prasasti-prasastinya belum mencantumkan kronologi yang
pasti, tetapi dapat diduga bahwa kerajaan-kerajaan
pertama di bumi Nusantara itu berkembang pada sekitar
abad ke-4 M.
Prasasti yang berangka tahun pertama
dijumpai di wilayah Jawa bagian tengah, disebut prasasti
Canggal yang berangka tahun 652 Saka atau 732 M.
Prasasti itulah yang merupakan bukti awal bahwa nenek
moyang bangsa Indonesia telah menghitung tahun, dan
system penghitungan yang dipakai merekam adalah
penghitungan tahun Saka dari kebudayaan India. Sejak
saat itu masyarakat Jawa Kuna seterusnya mencantumkan
data kronologi untuk mencatat peristiwa-peristiwa
penting yang terjadi dalam kehidupannya, tahun-tahun
tidak lagi lewat dan diabaikan begitu saja.
Akibat diterimanya agama Hindu-Buddha
oleh penduduk kepulauan Indonesia terutama Jawa, maka
banyak aspek kebudayaan yang dihubungkan dengan kedua
agama itu menjadi turut berkembang pula. Hal yang dapat
diamati secara nyata terjadi dalam bidang seni arca dan
seni bangun (arsitektur). Bentuk kesenian lain yang
turut terpacu sehubungan dengan pesatnya kehidupan agama
Hindu-Buddha dalam masyarakat adalah seni sastra. Banyak
karya sastra dan susastra yang digubah dalam masa
Hindu-Buddha selalu dilandasi dengan nafas keagamaan
Hindu atau Buddha. Juga diuraikan perihal ajaran agama
yang dianyam dengan cerita-cerita yang melibatkan para
ksatrya dan kerajaan-kerajaan atau kehidupan pertapaan.
Dalam hal seni arca sudah tentu,
penggarapannya selalu dibuat untuk keperluan keagamaan.
Di Jawa pernah berkembang suatu bentuk kesenian yang
disebut bentuk “Kesenian Terikat”. Bentuk kesenian itu
selalu terkait dengan kehidupan keagamaan, kesenian yang
dikembangkan oleh para seniman (silpin) didedikasikan
kepada keperluan agama. Bentuk kesenian terikat sukar
untuk berubah, sebab kesenian itu tidak saja dikaitkan
dengan agama tetapi juga dipersembahkan untuk kehidupan
agama suatu komunitas (Vogler 1948). Seniman sebagai
sosok individual dirasakan tidak perlu untuk ditampilkan,
kalaupun disebutkan --misalnya dalam karya-karya sastra--
nama seniman pujangga itu ditulis dengan panggilan
samaran seperti Prapanca (lima kekurangan), Tantular (tidak
bisa bertutur), Nirartha (tidak punya harta), dan
lainnya lagi. Sedangkan dalam bidang seni arca atau pun
arsitektur, diri seniman pembuatnya tidak pernah ada
disebutkan. Dalam hal seni bangunan suci dalam masa Jawa
Kuna tidak pernah diketahui siapa nama arsiteknya, karya
arsitektur tersebut dianggap sebagai suatu karya komunal,
suatu karya yang didedikasikan bagi kehidupan agama
dalam masyarakat pada suatu masa di suatu wilayah. Oleh
karena itu hasil kajian dapat menyimpulkan relief cerita
apa saja yang dipahatkan di Candi Borobudur, berapa
kubik balok batu yang dipergunakan untuk membangun candi
itu, berapa jumlah stupanya, dan lainnya lagi, namun
tidaklah dapat diketahui siapa arsitek perancangnya.
Apalagi arsiteknya, nama raja yang menganjurkan untuk
mendirikan Candi Borobudur pun sampai sekarang masih
belum dapat diketahui secara pasti.
Dalam pandangan tradisional para
perancang dan penaja (sponsor) suatu karya arsitektur
semegah apapun, agaknya tidak perlu untuk ditonjolkan.
Dalam pandangan itu karya arsitektur masih terkait erat
untuk keperluan agama, seni, dan masyarakat. Dalam Bagan
I terlihat hubungan karya arsitektur dengan butir-butir
lainnya,
II
Pada bagan tersebut terlihat kaitan
antara masyarakat-seni-agama saling berasosiasi,
ketiganya menunjang terbentuknya suatu karya arsitektur.
Dengan demikian suatu karya arsitektur sebaik apapun,
apabila dalam pandangan masyarakat dan apalagi dianggap
tidak sesuai dengan kaidah keagamaan Hindu atau Buddha,
sudah tentu karya arsitektur tersebut tidak mendapat
apresiasi, bahkan mungkin sekali diabaikan saja atau
malahan dibongkar kembali. Lain halnya apabila karya
arsitektur tersebut dipandang memenuhi hasrat kehidupan
keagamaan masyarakat, maka struktur yang paling
sederhana pun akan tetap diapresiasi dan dianggap
sebagai objek sakral.
Kesenian terikat yang berkembang
dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuna, sangat mungkin
telah berakar jauh dalam zaman ketika pengaruh India
belum masuk ke kepulauan Indonesia. Melalui berbagai
peninggalan megalitik dapat diketahui bahwa penduduk
kepulauan ini telah mengenal adanya religi yang
mengkultuskan arwah nenek moyang.
Bentuk penghormatan terhadap arwah
leluhur tersebut berkembang seiring dengan pemujaan
terhadap tempat-tempat tinggi seperti lereng gunung,
dataran tinggi, dan puncak-puncak gunung. Sebagai media
pemujaan dalam relii tersebut merekam mendirikan
bangunan-bangunan megalitik di daerah ketinggian
tersebut, seperti menhir, dolmen, kubur batu, teras
bertingkat (punden berundak), dan susunan batu-batu
artifisial lainnya. Kultus leluhur tersebut untuk
beberapa waktu agaknya telah “diendapkan” ketika
pengaruh agama Hindu-Buddha sedang berada di puncak
perkembangannya antara abad ke-8—10 M di wilayah Jawa
bagian tengah. Kemudian setelah diendapkan beberapa
lama, religi yang dikembangkan dalam masa perundagian
itu lalu hidup kembali dalam era Majapahit antara abad
ke-14—15 M.
Dengan demikian ketika pengaruh
kebudayaan India masuk dan diperkenalkan di
tengah-tengah masyarakat prasejarah di kepulauan
Indonesia, mereka bukanlah suatu masyarakat yang liar
dan biadab, tetapi benih kebudayaan India itu disemaikan
di lahan yang tepat dan subur, masyarakat prasejarah
Indonesia yang beradab.
III
Karya Arsitektur awal yang masih
dapat bertahan hingga kini dari masa perkembangan agama
Hindu-Buddha di Jawa hanya beberapa bangunan saja.
Misalnya Candi Gunung Wukir di Magelang, beberapa candi
di dataran tinggi Dieng, candi-candi Gedong Songo di
Ambarawa (Jawa Tengah), dan Candi Badut di Malang (Jawa
Timur). Di antara candi-candi tersebut yang dihubungkan
dengan prasasti yang berkronologi adalah Candi Gunung
Wukir dengan prasasti Canggal (tahun 732 M) dan Candi
Badut dengan prasasti Dinoyo (tahun 760 M).
Candi Badut keadaannya jauh lebih
baik dari pada Candi Gunung Wukir karena bangunan itu
masih menyisakan bagian kaki dan tubuhnya, sedangkan
atapnya tidak ada lagi karena rusak (runtuh). Adapun
candi-candi Pervaranya yang berjumlah 3 bangunan hanya
tersisa pondasinya saja. Sedangkan di situs Candi Gunung
Wukir sekarang ini hanya dijumpai sisa bangunan candi,
yaitu bagian kaki candi terbawah yang di permukaannya --dalam
posisi yang miring-- terdapat batu yoni. Di depan sisa
candi itu masih terdapat 3 candi Pervara yang hanya
meninggalkan bagian kaki dan sedikit dinding tubuhnya,
atap candi-candi Pervara itu tidak ada lagi. Akan halnya
candi-candi Dieng dan Gedong Songo strukturnya masih
relatif utuh, ada bagian kaki, tubuh, dan atapnya,
walaupun memang tidak sempurna sekali. Ukuran
candi-candi itu pun relatif kecil apabila dibandingkan
dengan candi-candi yang dibangun dalam masa yang
kemudian.
Sangat mungkin ketika pengaruh agama
Hindu-Buddha mulai diterima dan berkembang dalam
masyarakat Jawa Kuna, tradisi mendirikan bangunan suci
dalam bentuk lengkap seperti pada umumnya, yaitu terdiri
dari kaki, tubuh, dan atap bangunan masih belum dikenal
secara baik. Jacues Durmacay seorang arsitek yang
mendalami peninggalan arsitektur Jawa Kuna pernah
menyatakan bahwa pada awalnya bangunan suci dalam
masyarakat Jawa Kuna (candi) tidak didirikan dalam
bentuk lengkap, melainkan hanya berupa bangunan batur (soubasement)
yang di permukaannya diletakkan objek-objek sakral (Lingga-Yoni
dan arca-arca), jadi candi-candi bersifat terbuka dan
arca utama kelihatan dari luar (Dumarcay 1999: 415).
Objek sakral itu kemudian dinaungi oleh atap dari bahan
yang mudah rusak, seperti ijuk, jalinan rumput ilalang
kering, kayu dan bambu. Oleh karena itu bagian atap
tidak dapat dijumpai lagi hingga sekarang. Pada sekitar
awal abad ke-9 terjadi perombakan besar-besaran terhadap
bangunan-bangunan suci demikian, dengan ditambahi dengan
dinding, relung-relung, serta struktur atap yang terbuat
dari bahan yang tahan lama (batu). Pendapat itu
didasarkan pada dijumpainya beberapa susunan perubahan
dan tambahan pada beberapa candi di Jawa Tengah,
misalnya pada candi Bima di Dieng, Candi Lumbung di
daerah Prambanan, dan candi-candi Pervara di kelompok
percandian Sewu (Dumarcay 1999: 416--7).
Demikianlah agaknya setelah pengaruh
dari India itu mulai lancar memasuki masyarakat Jawa
Kuna, maka bangunan-bangunan suci yang didirikan di Jawa
pun dibuat sesuai dengan kaidah ajaran Hindu atau
Buddha. Bentuk candi-candi di Jawa kemudian ada yang
mirip dengan kuil-kuil pemujaan dewa yang ada di India.
Terdapat kemungkinan bahwa beberapa
bangunan bangunan candi di Jawa bagian tengah bentuk
arsitekturnya diilhami oleh bangunan-bangunan suci di
India. Beberapa bangunan di Mahabalipuram seperti Arjuna
Ratha, Draupadi Ratha dan Dharmaraja Ratha dan beberapa
bangunan lainnya yang merupakan peninggalan dinasti
Pallava bentuknya sangat mirip dengan candi-candi di
dataran tinggi Dieng (Nath 1996: Plate XXIX—XXX, &
XXXII)
Agaknya gaya arsitektur bangunan suci
masa Gupta dan sesudah Gupta di daerah tengah dan barat
India, serta arsitektur bangunan suci yang dikembangkan
oleh dinasti Pala di wilayah timur laut India dapat
dipertimbangkan pula sebagai akar bagi pengembangan
bangunan-bangunan candi di Jawa bagian tengah (Chihara
1996: 98—9). Begitupun bangunan Candi Bima di Dieng
sangat mungkin juga didasarkan pada seni bangunan suci
Orissa di India. Puncak atap Candi Bima yang sekarang
telah rusak, sangat mungkin dahulu dihias dengan bentuk
amalaka.Bentuk demikian biasa dijumpai menjadi penghias
puncak atap sikhara pada kuil pemujaan dewa di India,
misalnya pada bangunan Parasuramesvara di Bhuvanesvara (Coomaraswamy
1985: 202, plate 216).
Dalam hal pembangunan monumen-monumen
keagamaan Hindu-Buddha di Jawa pada masa silam, agaknya
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya. Ketika
agama Hindu atau Buddha sudah diterima oleh masyarakat
Jawa Kuna, konsep-konsep dasar tentang pembuatan
bangunan suci, arca, dan ornamen lainnya pun kemudian
diterima pula. Dalam bagan II terlihat sebagai berikut:
Setelah diterima oleh masyarakat Jawa
Kuna, kemudian segala pengaruh budaya luar itu diolah
kembali dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan budaya
yang telah berkembang sebelumnya (kebudayaan prasejarah
Indonesia). Penyesuaian itu terjadi pula akibat adanya
kondisi alam yang sedikit berbeda antara tanah
Jambhudvipa dan Jawadvipa.
Jadi ketika anasir budaya India,
dalam hal ini agama Hindu-Buddha sudah mulai
memasyarakat, mulai pula masyarakat Jawa Kuna
mengkreasikannya kembali. Unsur-unsur luar itu tidak
diterima begitu saja untuk ditiru. Oleh karena itu dalam
hal pendirian bangunan suci, tidak pernah ada bangunan
keagamaan Hindu-Buddha dalam masyarakat Jawa Kuna yang
mirip sama sekali dengan kuil-kuil pemujaan dewa di
India. Memang pada awal perkembangannya, terdapat
bangunan-bangunan candi di Jawa Tengah yang mengingatkan
peneliti pada bangunan suci India. Tetapi dalam
perkembangan selanjutnya, masih di wilayah Jawa Tengah,
bangunan suci yang dirikan tidak banyak lagi
mempertahankan corak keindiaannya, kecuali pada seni
arca dan ornamennya. Bangunan-bangunan seperti itu
misalnya dapat dijumpai di wilayah Jawa Tengah bagian
selatan, yaitu Candi Barong dan Candi Ijo yang
halamannya dibuat bertingkat-tingkat sebagaimana
layaknya punden berundak dalam masa prasejarah.
Dalam perkembangan selanjutnya dalam
periode Klasik Muda di wilayah Jawa Timur (abad ke13—15
M) arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di Jawa telah
memperoleh gayanya tersendiri. Bentuk arsitekturnya
apabila diamati akan terdiri dari (a) candi-candi
bergaya Singhasari, (b) gaya candi Jago, (c) gaya candi
Brahu, dan (d) punden berundak. Dapat dikatakan pengaruh
India dalam periode tersebut sudah mulai menipis, yang
tampak terlihat adalah pada “permukaannya” saja.
Kompleks bangunan suci terluas di
wilayah Jawa Timur, yaitu Candi Panataran pun bentuknya
tidak lagi bercorak seperti bangunan suci yang telah
dikenal sebelumnya di Jawa Tengah dalam era yang lebih
tua. Bentuk bangunan-bangunan di dalam kompleks
Panataran kebanyakan berupa arsitektur terbuka, menyebar,
dan sebagiannya menggunakan bahan-bahan yang mudah lapuk.
Apat dinyatakan bahwa kompleks Panataran tersebut
merupakan prototipe bangunan-bangunan suci di Bali (pura)
yang didirikan setelah keruntuhan Majapahit dalam awal
abad ke-16 hingga sekarang ini (Bernet Kempers 1959:
90--4). Begitupun bentuk punden berundak yang dibangun
di lereng gunung, terasakan sekali adanya upaya
penghidupan kembali pemujaan arwah nenek moyang
(ancestor worship) yang telah lama di kenal dalam zaman
prasejarah.
Pengaruh India dalam hal ini hanya
tinggal dalam konsep-konsep keagamaannya saja,
konsep-konsep kedewataan atau pun cerita-cerita epic
yang kemudian digubah kembali oleh para pujangga Jawa
Kuna. Dalam hal konsepsi keagamaan pun, hakekat
tertinggi dalam agama Hindu dan Buddha dalam masa
kerajaan Singhasari (abad ke-13 M) dan Majapahit (abad
ke-14—15 M) telah dipadukan menjadi Bhattara
Siva-Buddha. Hal yang menarik adalah bahwa perpaduan
konsepsi dewata tertinggi itu pun kemudian dituangkan
dalam bentuk bangunan suci, misalnya kehadiran nafas
Siva dan Buddha akan dirasakan pada arsitektur Candi
Jawi (Pasuruan) dan Candi Jago (Malang). Di Candi Jawi,
unsur Buddha terlihat pada puncaknya, sedangkan di
relung-relung tubuh candinya dahulu berisikan arca-arca
Hindu-Saiva khas Jawa. Begitupun di Candi Jago, cerita
relief yang dipahatkan banyak yang bernafaskan Hindu-Saiva,
adapun arca-arca pelengkap candi itu semuanya
bernafaskan Buddha Mahayana. Candi-candi yang bersifat
perpaduan seperti itu agaknya sukar untuk ditemukan di
Jambhudvipa.
IV
Tidak dapat diingkari bahwa
arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di Jawa telah
mendapat pengaruh yang kuat dari India. Hal itu terjadi
seiring dengan diterimanya agama Hindu-Buddha dalam
masyarakat Jawa Kuna. Karena sistem keagamaannya
diterima, maka sudah tentu didirikanlah tempat-tempat
suci sebagai sarana peribadatannya. Dalam
perkembangannya, ternyata arsitektur bangunan suci
Hindu-Buddha di Jawa telah mendapatkan coraknya
tersendiri yang berbeda dengan bangunan sejenis di
India.
Kenyataan seperti itu pada dasarnya
tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga dapat dijumpai
di wilayah-wilayah lainnya di daratan Asia Tenggara,
misalnya pada bangunan suci Campa, Khmer (Kamboja), dan
Thailand. Pengaruh India tersebut mungkin masuk ke
wilayah Asia Tenggara pada sekitar awal tarikh Masehi,
kemudian pengaruh yang datang itu diolah kembali untuk
dijadikan seperti milik sendiri oleh penduduk-penduduk
pribumi yang menerimanya.
Dalam hal arsitektur bangunan suci
Hindu-Buddha di India dan Jawa yang lebih dirasakan
adalah adanya kesejajaran (parallelism) setelah agama
Hindu-Buddha dari India diterima oleh masyarakat Jawa
Kuna. Pada awalnya memang pengaruh India banyak
mengilhami pendirian karya monumen keagamaan pada
sekitar abad ke-8 M, ketika peradaban Hindu-Buddha baru
mulai marak berkembang. Dalam periode selanjutnya karya
arsitektur Jawa Kuna mendapatkan jalannya tersendiri
untuk berkembang, berlanjut, atau pun punah.
Kesejajaran yang dapat diamati adalah
dalam hal konsepsi dasarnya saja, sedangkan dalam segi
visualisasi untuk menjadi bentuk kebudayaan materi (bangunan,
arca dan relief), terdapat perbedaan yang nyata. Dalam
hal konsepsi keagamaan pun apabila dikaji lebih mendalam
tetap ada perbedaan, bukankah visualisasi menjadi
kebudayaan materi adalah cerminan dari konsepsi. Dengan
demikian mengapa candi-candi di Jawa berbeda dengan
kuil-kuil pemujaan dewa di India, hal itu sangat mungkin
karena cerminan konsepsi yang berbeda pula.
Pengaruh agama dari India yang datang
ke Jawa diolah lagi oleh para pendeta-pemikir Jawa Kuna,
lalu muncul gagasan yang memadukan hakekat Siva-Buddha.
Oleh karena ada perpaduan itu, maka peralatan ritusnya
pun menjadi berbeda, tidak lagi sama dengan di tanah
asalnya.
-------------------
* Tulisan ini
disampaikan pada acara SIMPOSIUM TENTANG IKATAN
KEBUDAYAAN ANTARA INDONESIA DENGAN INDIA, yang
diselenggarakan oleh Pusat Kebudayaan India Jawaharlal
Nehru (Kedutaan Besar India) bekerja sama dengan
Universitas Indonesia dan Bhaskara, di Auditorium
Erasmus Huis Jakarta pada tanggal 30 Maret 2005.
PUSTAKA ACUAN
Dr. Agus Aris
Munandar
Program Studi Arkeologi Indonesia
Departemen Arkeologi-Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia
Sumber: http://www.arkeologi.net/index1.php?id=view_news&ct_news=608
|